Sekolah Ponpes Al-Bahjah: Pusat Informasi dan Pendaftaran

Pusat Literasi Digital

Pustaka Ilmu.

Eksplorasi ribuan materi edukasi, transkrip mutiara hikmah, dan video tutorial dari ekosistem pendidikan Al-Bahjah.

Tafsir Alam: Ketika Alam Tak Lagi Diam
Artikel
Tahfidz Al-Qur'an

Tafsir Alam: Ketika Alam Tak Lagi Diam

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Akhir-akhir ini telah terjadi berbagai bencana yang terjadi di negeri ini, terutama longsor dan banjir. Menurut berbagai sumber hal tersebut salah satunya disebabkan oleh alih fungsi hutan. Sebagaimana yang kita tahu, hutan sangat berpengaruh terhadap ekosistem yang ada di dalamnya bahkan juga manusia dan tempat tinggalnya. Praktis ketika peran hutan dihilangkan, maka keseimbangan lingkungan akan terganggu dan dampak yang paling mengerikan adalah terjadinya bencana alam. Pohon-pohon hutan mempunyai akar yang dapat mengikat tanah, air, dan batu. Namun kini berganti dengan tanaman lain yang biodiversitasnya lebih rendah. Jika daerah hutan semakin hari semakin habis dan pohon-pohon digantikan dengan jenis yang lain maka munculnya bencana-bencana yang lebih besar di negeri ini hanya tinggal menunggu waktu. Sebagai seorang makhluk yang diberi akal pikiran, kita harus menahan hawa nafsu yang ada dalam diri. Alangkah bijaknya jika kita ber-muhasabah atas kesalahan yang kita lakukan. Khawatirlah dengan ibadah yang kita lakukan itu tidak diterima sebab kita tidak mencintai alam yang merupakan ciptaan-Nya. Kondisi sekarang mencerminkan bahwa kita gagal dalam merawat alam. Sebaliknya, alih-alih merawatnya kita justru merusaknya demi keuntungan segelintir semata. Pemerintah yang memiliki kewenangan besar dalam hal ini harus mengevaluasi ulang setiap program apabila dalam pelaksanaan bertentangan dengan prinsip kelestarian alam. Jangan beri izin bagi program yang secara jelas akan merusak alam dan segala kebijakan harus mutlak berpihak bagi kepentingan alam. Selain itu, penebangan hutan secara liar, baik yang dilakukan secara kelompok maupun perorangan harus ditindak tegas tanpa pandang bulu. Yang tak kalah penting adalah melakukan reboisasi, menanam kembali bibit pohon di hutan-hutan yang sudah gundul. Semoga kita semua menjadi makhluk Tuhan dan warga negara yang memiliki rasa cinta dan sayang terhadap ciptaan-Nya, yaitu alam yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan hajat manusia ini.   Penulis: Ivan Arief Rachman, S.Pd. Penyunting: Idan Sahid Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.     Artikel Tafsir Alam: Ketika Alam Tak Lagi Diam pertama kali tampil pada Pustaka.

Merekonstruksi Hari Kasih Sayang di Bulan Februari Menuju Mahabbah Ilahiyah
Artikel
Tahfidz Al-Qur'an

Merekonstruksi Hari Kasih Sayang di Bulan Februari Menuju Mahabbah Ilahiyah

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Setiap kali kalender Masehi memasuki lembaran Februari, atmosfer di sekitar kita seolah berubah warna menjadi merah muda. Di pusat-pusat perbelanjaan, media sosial, hingga percakapan anak muda, narasi tentang “Hari Kasih Sayangng” atau Valentine’s Day mendominasi ruang publik. Sebagai orang yang besar di lingkungan akademik dan kepesantrenan, sering kali merenung: apakah cinta yang sedemikian riuh dirayakan itu adalah “cinta” yang sebenarnya, ataukah ia hanya sekadar komoditas industri yang kehilangan ruhnya? Di bangku kuliah, saat kita mempelajari filsafat atau ilmu agama Islam, kita mengenal istilah Mahabbah. Sebuah kata yang jauh lebih dalam, lebih luas, dan lebih sakral daripada sekadar pertukaran cokelat atau ucapan romantis setahun sekali. Namun, di era disrupsi digital ini, makna cinta sering kali mengalami penyempitan (reduksi). Ia dikerdilkan hanya sebatas perasaan sentimental antarmunusia, yang sering kali justru menjauhkan pelakunya dari hakikat kemanusiaan itu sendiri. Jika kita melihat dengan kacamata kritis, perayaan cinta yang masif di bulan Februari sering kali terjebak dalam arus hedonisme. Cinta diukur dari apa yang bisa dipamerkan di layar ponsel, dari seberapa mahal kado yang diberikan, atau seberapa mewah makan malam yang dihabiskan. Dalam perspektif aqidah, ini adalah sebuah pergeseran nilai yang mengkhawatirkan. Cinta yang seharusnya menjadi energi untuk memberi dan berkorban, berubah menjadi ajang untuk memuaskan ego dan eksistensi diri di mata manusia. Sebagai akademisi Muslim, kita perlu menawarkan alternatif pemikiran. Islam tidak pernah melarang cinta. Justru, Islam adalah agama yang dibangun di atas fondasi kasih sayang (rahmah). Namun, Islam meletakkan cinta pada tempat yang sangat terhormat. Cinta dalam Islam adalah sebuah getaran yang harus memiliki arah dan tujuan. Tanpa arah yang benar, cinta hanya akan menjadi nafsu yang dibungkus dengan kata-kata indah. Inilah yang perlu kita dekonstruksi: bahwa kasih sayang bukan hanya milik bulan Februari, dan ia tidak boleh berhenti pada dimensi materi semata. Mari kita sejenak menoleh pada khazanah intelektual Islam. Para tokoh tasawuf seperti Rabiah al-Adawiyah atau Jalaluddin Rumi telah mengajarkan kita tentang tingkatan cinta yang paling tinggi, yaitu Mahabbah Ilahiyah. Bagi mereka, cinta kepada manusia atau dunia hanyalah “jembatan” (majazi) untuk sampai pada cinta yang sejati (hakiki), yaitu cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rumi pernah berbisik dalam syairnya bahwa cinta adalah “astrolab” bagi rahasia-rahasia Tuhan. Artinya, dengan mencintai, manusia sebenarnya sedang belajar untuk mengenal penciptanya. Jika kita mencintai pasangan, anak, atau orang tua, seharusnya cinta itu membuat kita semakin sadar akan kebesaran Tuhan yang telah menitipkan rasa indah tersebut. Di titik inilah, nilai akademik dari ilmu agama yang kita pelajari bertemu dengan realitas kehidupan. Ilmu yang kita peroleh bukan hanya untuk dihafal, tapi untuk mendudukkan kembali posisi dunia di bawah kendali akhirat. Jika dunia modern menawarkan cinta yang melelahkan karena terus-menerus menuntut pemuasan ego, Islam menawarkan cinta yang memerdekakan. Cinta yang membebaskan manusia dari perbudakan sesama makhluk menuju penghambaan kepada Sang Khalik. Inilah perspektif yang perlu kita suarakan di tengah hiruk-pikuk Februari: bahwa kasih sayang yang abadi adalah kasih sayang yang terbingkai dalam ketaatan. Di sisi lain, bulan Februari tahun ini juga bertepatan dengan suasana bulan Sya’ban dalam kalender Hijriah. Jika di luar sana orang sibuk merayakan kasih sayang dengan cara yang profan, kita di lingkungan pesantren dan akademisi Muslim punya cara sendiri yang lebih elegan. Sya’ban adalah bulan di mana amal-amal kita diangkat. Bukankah bentuk kasih sayang tertinggi kepada diri sendiri dan orang lain adalah dengan memastikan amal kita layak untuk dipersembahkan di hadapan Allah? Mencintai sesama dalam perspektif Islam berarti menginginkan kebaikan akhirat bagi orang yang dicintai. Seorang ayah yang mencintai anaknya akan menjaganya dari api neraka. Seorang suami yang mencintai istrinya akan membimbingnya menuju surga. Inilah cinta yang “ilmiah” sekaligus “alamiah”. Ia memiliki landasan dalil yang kuat (aqidah) dan aplikasi sosial yang nyata (akhlak). Oleh karena itu, daripada terjebak dalam polemik tahunan tentang “boleh atau tidaknya” merayakan hari tertentu, jauh lebih produktif jika kita mengedukasi masyarakat tentang bagaimana cara mencintai yang benar menurut tuntunan Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasalam. Kasih sayang dalam Islam itu manifes dalam bentuk penghormatan kepada orang tua, kepedulian kepada anak yatim, dan kerukunan antartetangga. Itulah rahmatan lil ‘alamin yang sebenarnya. Sebagai penutup narasi ini, ingin mengajak diri sendiri dan para pembaca untuk merenungkan kembali: di mana kita meletakkan hati kita selama ini? Apakah hati kita masih sering terombang-ambing oleh tren musiman yang datang dan pergi, ataukah ia sudah mulai menetap dalam ketenangan cinta kepada Allah? Ilmu yang kita miliki, gelar yang kita sandang, dan jabatan yang kita pangku tidak akan ada harganya jika tidak melahirkan rasa kasih sayang kepada sesama makhluk. Sebab, “Orang-orang yang penyayang akan dingi oleh Sang Maha Penyayang (Ar-Rahman). Sayangilah yang ada di bumi, maka yang di langit akan menyayangimu.” (HR. At-Tirmidzi). Mari kita jadikan momentum bulan-bulan ini bukan untuk sekadar mengikuti arus, tapi untuk menjadi arus itu sendiri arus kebaikan yang membawa pesan cinta yang suci, cinta yang mendidik, dan cinta yang menyelamatkan. Semoga cinta kita tidak berhenti di lembaran kalender Februari, tapi terus tumbuh hingga ke syurga nanti.   Penulis: Syariif Ahmad Ja’far Shoodiq Penyunting: Idan Sahid Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.     Artikel Merekonstruksi Hari Kasih Sayang di Bulan Februari Menuju Mahabbah Ilahiyah pertama kali tampil pada Pustaka.

Literasi Keuangan: Sadar Finansial Hidup Aman di Masa Depan
Artikel
Tahfidz Al-Qur'an

Literasi Keuangan: Sadar Finansial Hidup Aman di Masa Depan

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Saat ini kita sedang berada di zaman yang serba instan.  Ketika membutuhkan barang misalnya, kita cukup membuka gadget, memilih barang yang kita inginkan, lalu selang beberapa waktu barang tersebut akan datang diantarkan ke tempat kita. Hampir kebanyakan dari kita pasti pernah melakukan hal tersebut bukan? Tidak dipungkiri bahwa perkembangan teknologi yang semakin canggih saat ini dapat membantu pelbagai aktivitas sehari-hari, terutama mengefisienkan waktu. Kita tak perlu lagi pergi jauh ke pasar atau mall untuk membeli suatu barang, cukup dari rumah semua barang yang kita inginkan akan diantarkan. Dari sisi waktu memang lebih efisien, tapi tidak dari sisi finansial. Kita sering kali tidak sadar bahwa uang habis tanpa terasa karena pengeluaran yang tak terkontrol. Setiap melihat barang bagus di online shop langsung di-checkout, setiap melihat promo langsung tergoda untuk belanja, hingga datang satu waktu kita baru tersadar bahwa jumlah saldo sudah sangat tipis sedangkan tanggal gajian masih jauh, sehingga untuk bertahan hidup terpaksa harus berutang. Hal itu diperparah oleh begitu banyak pinjaman online yang saat ini bertebaran di tengah masyarakat, yang bisa didapatkan dengan cara yang sangat mudah hanya bermodalkan KTP dan foto selfie. Akibatnya, apabila kita tidak bisa mengelola uang, maka kehidupan kita akan terasa menyulitkan. Oleh karena itu, kesadaran finansial sangat diperlukan bagi siapun yang ingin hidupnya tenang dan terbebas dari masalah keuangan. Secara sederhana, kesadaran finansial merupakan pemahaman dan kemampuan secara efektif dalam mengelola keuangan guna mencapai tujuan keuangan dan keamanan di masa depan. Termasuk di dalamnya yaitu kemampuan dalam memilah antara kebutuhan dan keinginan, merancang anggaran, menyiapkan simpanan untuk dana darurat dan lain sebagainya.  Untuk memulai mengelola keuangan mulailah dari memilah kebutuhan. Kebutuhan manusia terbagi menjadi tiga yaitu primer, sekunder, dan tersier. Menentukan Skala Prioritas Kebutuhan primer merupakan kebutuhan pokok untuk bertahap hidup seperti sandang pangan papan, ketiganya merupakan kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi oleh setiap manusia. Kebutuhan sekunder adalah kebutuhan pelengkap untuk meningkatkan kenyaman seperti perabotan rumah tangga, televisi, kendaraan dan sebagainya. Sedangkan kebutuhan tersier yaitu kebutuhan tambahan atau opsional untuk bermewah-mewahan seperti kendaraan mewah, perhiasan, koleksi barang-barang mewah yang sifatnya untuk kesenangan pribadi dan biasanya dilakukan setelah kebutuhan primer dan sekunder terpenuhi. Berdasarkan definisi-definisi tersebut harusnya kita dapat memahami barang-barang yang kita beli. Sudahkan dipilah berdasarkan kebutuhan primer, sekunder, atau tersier. Kita harus bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Memenuhi keinginan bukan suatu hal yang dilarang. Akan tetapi harus melihat kondisi keuangan kita. Jika kondisinya masih pas-pasan, utamakanlah kebutuhan primer. Kalaupun ingin memenuhi kebutuhan tersier maka harus di perhitungkan dengan matang agar kebutuhan sehari-hari tetap tercukupi. Sebab jika tidak, akan membahayakan ekonomi keluarga. Berlatihlah untuk mengenali prioritas pengeluaran untuk menekan angka pengeluaran yang tidak perlu. Hidup sederhana dengan mengutama kebutuhan daripada keinginan merupakan satu langkah awal agar kita dapat mengontrol pengeluaran. Langkah selanjutnya yaitu buatlah perencanaan anggaran bulanan, hitunglah berapa kebutuhan kita dalam sehari dan kalikan selama 30 hari dari situ dapat diketahui jumlah angka pengeluaran kebutuhan primer kita dalam satu bulan. Menabung Pangkal Pandai Begitu juga dengan kebutuhan sekunder dan tersier. Catat semua pengeluaran agar dapat diketahui ke mana saja uang kita pergi, dengan begitu kita dapat memilah pengeluaran mana yang harus dipangkas anggarannya. Setelah itu sesuaikanlah pengeluaran dengan pemasukan, apakah minus atau plus. Jika minus maka harus ada pengeluaran yang dipangkas, yaitu kebutuhan sekunder dan tersier agar tetap ada uang lebih. Jika lebih, simpanlah untuk masa depan. Uang yang kita simpan akan sangat bermanfaat untuk masa depan. Kita bisa gunakan uang tersebut untuk dana darurat, dana pendidikan, dan lain sebagainya. Sekecil apa pun pemasukan kita, sisakanlah uang untuk dana darurat setidaknya 5-20% dari pemasukan kita, karena uang ini yang akan menyelamatkan kita jika terjadi sesuatu di masa depan. Semakin banyak tabungan dana darurat yang kita miliki maka semakin tenang juga kita dalam menjalani hidup, sebab kekhawatiran keuangan untuk masa depan sedikit demi sedikit sudah kita persiapkan. Menabung dana darurat merupakan sebagai bentuk perlindungan masa depan. Ketika kita menghadapi kondisi yang tak terduga yang mengharuskan kita mengeluarkan biaya yang tak sedikit, dengan adanya uang darurat ini dapat menyelamatkan kita dari hutang dan meminimalisir risiko. Jauhi Risiko Dekati Bijak Kemudian untuk meminimalisir risiko masa depan, jika tidak darurat usahakan jauhi dari utang dan pinjaman online. Utang hanya manis di awal karena kita dengan mudah mendapatkannya, tetapi pahit di akhir karena kita harus membayar atau menyicil utang tersebut dalam jangka waktu tertentu. Jika melewati jatuh tempo, akan ada rIsiko yang kita hadapi, entah barang yang disita, data diri yang disebarkan, atau justru ancaman. Belum lagi ditambah dengan bunga yang sepaket dengan dosa ribanya, tersiksa di dunia untuk kelak tersiksa di akhirat. Perlu kita pahami bahwa uang merupakan bagian dari tanggung jawab. Setiap uang yang kita keluarkan pun akan dipertanyakan di kemudian hari. Apakah digunakan untuk kebaikan atau untuk keburukan. Dalam agama Islam disebutkan bahwasannya ada 4 perkara yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat, yaitu umur, jasad, ilmu, dan harta. Kemudian dalam Islam mengajarkan bahwa sebagian dari harta yang kita miliki bukan sepenuhnya milik kita, melainkan ada hak orang lain, terutama kaum dhuafa, fakir miskin, dan mereka yang membutuhkan. Dengan mengeluarkan sebagian harta untuk mereka yang membutuhkan akan memberikan keberkahan kepada harta yang kita miliki, itulah keberkahan jika kita bisa mengelola uang dengan baik, yaitu dapat menyisihkan uang untuk mereka yang membutuhkan. Belajar mengelola uang tidak cukup dilakukan hanya dalam beberapa hari, mengelola uang merupakan proses belajar yang dilakukan seumur hidup. Mari kita sadar finansial, belajar hidup sederhana, dan lebih bijak dalam mengelola keuangan. Dengan belajar mengelola uang dalam kehidupan sehari-hari harapannya dapat tercipta kehidupan yang lebih seimbang untuk masa depan yang terancang. Jangan sampai besar pasak dari pada tiang atau lebih besar pengeluaran dari pada pemasukan.   Penulis: Moh. Minanur Rohman Penyunting: Idan Sahid Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.     Artikel Literasi Keuangan: Sadar Finansial Hidup Aman di Masa Depan pertama kali tampil pada Pustaka.

Psikologi di Balik Selalu Berpura-pura “Menjadi yang Tersakit”
Artikel
Tahfidz Al-Qur'an

Psikologi di Balik Selalu Berpura-pura “Menjadi yang Tersakit”

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Secara tak sadar kita sering mendengar cerita atau curhatan seseorang yang tampak terus-menerus disakiti, merasa tidak pernah dipahami, dan selalu menjadi pihak yang paling menderita. Saat bercerita seseorang suka menempatkan diri dalam posisi korban setelah terjadi permasalahan entah itu dengan teman, pasangan, rekan kerja maupun tetangga. Situasi ini dikenal dengan istilah playing victim. Playing victim adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang berpura-pura atau sengaja menempatkan dirinya sebagai korban. Padahal, sebenarnya dia mungkin ikut bersalah, atau bahkan pelaku dari masalah. Secara psikologis, playing victim ialah kondisi ketika seseorang secara sadar atau tidak sadar menempatkan dirinya sebagai korban untuk menghindari tanggung jawab, memanipulasi orang lain, dan menarik simpati. Ditinjau dari cabang ilmu bahasa yang menyelidiki asal-usul kata serta perubahan dalam bentuk dan makna (etimologi), istilah playing victim berasal dari bahasa Inggris. Kata “playing” memiliki makna bermain. Sedangkan kata “victim” memiliki makna korban. Jika kedua kata digabungkan, maka mempunyai makna “bermain korban”. Dalam konteks psikologi dan perilaku, secara harfiah playing victim berarti “berpura-pura menjadi korban” atau “berperan sebagai korban”. Dalam penggunaan sehari-hari, playing victim tidak hanya berarti berpura-pura jadi korban, tetapi juga memiliki konotasi manipulatif, yaitu menggunakan posisi “korban” sebagai alat untuk menghindari kesalahan atau memengaruhi simpati orang lain. Sementara itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) belum memiliki padanan baku tunggal untuk playing victim. Namun, ada beberapa idiom, istilah atau frasa yang sering digunakan sebagai terjemahan yang kontekstual. Pertama, berpura-pura menjadi korban; frasa yang paling mendekati makna harfiah. Kedua, memainkan peran sebagai korban; frasa netral atau bisa dipakai dalam konteks ilmiah. Ketiga, sikap mental korban; frasa atau istilah psikologis. Keempat, mentalitas korban atau mental korban; frasa yang biasa digunakan untuk menggambarkan pola pikir seseorang yang selalu merasa disakiti atau dianiaya, meski belum tentu kebenarannya. Kelima, drama korban; frasa yang digunakan secara informal untuk menyindir orang yang memanfaatkan narasi korban demi mendapatkan simpati. Seseorang yang playing victim biasanya memiliki ciri khas, seperti suka menyalahkan orang lain atas masalahnya, sulit menerima kritik, dan sering menarik simpati dari lingkungan sekitar. Mereka seolah-olah tidak pernah salah dan dunia terlalu kejam pada mereka. Perilaku seperti ini berasal dari pengalaman traumatis, pola asuh yang otoriter, atau bahkan strategi pribadi untuk menghindari tanggung jawab. Psikolog klinis asal Indonesia, Anastasia Nadya Caestara, menyatakan bahwa perilaku playing victim sering kali muncul karena individu tidak dibiasakan bertanggung jawab sejak kecil. Dalam wawancara yang dikutip dari jurnal Psikologi Universitas Katolik Atma Jaya, ia menjelaskan bahwa individu yang memiliki ego cenderung membentuk narasi diri sebagai korban agar tetap diterima secara sosial dan terhindar dari rasa malu atau gagal. Persoalan ini juga mendapat sorotan dari Dr. Guy Winch, penulis buku Emotional First Aid. Ia mengatakan, “Menjadi korban adalah pengalaman, tapi memainkan korban adalah pilihan.” Dalam konteks ini, playing victim merupakan bentuk manipulasi emosional yang bertujuan memperoleh simpati atau kekuasaan emosional atas orang lain. Sebetulnya, contoh nyata playing victim banyak terjadi dalam hubungan interpersonal atau antarpribadi. Misalnya, seorang pasangan yang bersikap kasar, tetapi ketika ditegur justru menangis dan berkata, “Aku begini karena kamu nggak pernah perhatian.” Alih-alih mengakui kesalahan, ia menggunakan posisi korban untuk menghindari tanggung jawab dan membuat lawannya merasa bersalah. Dalam skala lebih besar, playing victim juga banyak ditemukan di dunia politik atau selebritas. Misalnya, seorang politikus yang dikritik karena kebijakannya biasanya berkata, “Saya diserang terus, padahal niat saya baik.” Atau publik figur yang terlibat skandal kemudian tampil di depan publik dengan tangisan dan pernyataan “Saya hanya manusia biasa”. Keduanya, jika dilakukan secara sadar dan terus-menerus, ini adalah bentuk manipulasi citra yang berbahaya. Sebuah studi dari Journal of Personality and Social Psychology menemukan bahwa individu yang memiliki victim mentality (mentalitas korban) sering kali merasa lebih berhak atas empati dan mendapat perlakuan khusus. Mereka juga lebih cenderung memutarbalikkan situasi agar terlihat benar di mata orang lain, bahkan ketika mereka yang memicu konflik. Sosiolog Indonesia, Imam B. Prasodjo, dalam beberapa kesempatan mengkritisi budaya “selalu merasa dizalimi” dalam masyarakat. Menurutnya, kebiasaan merasa jadi korban tanpa refleksi akan menghambat pembangunan karakter dan budaya tanggung jawab. “Kalau semuanya merasa dizalimi, siapa yang mau membenahi keadaan?” Oleh karenanya, sebagai masyarakat kita perlu lebih cermat membedakan antara korban yang sungguh-sungguh perlu dukungan, dengan mereka yang menjadikan status korban sebagai cara untuk menghindari introspeksi. Lalu, jika kita menyadari diri sendiri sering merasa sebagai korban, cobalah untuk lebih jujur. Apakah saya benar-benar disakiti, atau saya hanya tidak mau disalahkan? Adapun dampak dari pola ini cukup serius. Selain merusak hubungan pribadi dan profesional, mentalitas playing victim juga melemahkan kemampuan individu untuk menghadapi kenyataan. Jangka panjangnya, ini bisa berujung pada learned helplessness, yaitu kondisi di mana seseorang merasa tidak mampu mengubah nasibnya meskipun sebenarnya bisa. Jika tidak diatasi, playing victim bisa mengakar sebagai identitas sosial yang menghambat pertumbuhan pribadi.   Penulis: Andrian Saba (Pemustaka Cirebon) Penyunting: Idan Sahid Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.     Artikel Psikologi di Balik Selalu Berpura-pura “Menjadi yang Tersakit” pertama kali tampil pada Pustaka.

Ramadan dan Kesempatan yang Tak Terulang
Artikel
Tahfidz Al-Qur'an

Ramadan dan Kesempatan yang Tak Terulang

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan agar kita selalu bergegas menyambut rahmat dan ampunan-Nya. Termasuk tatkala kita bertemu dengan waktu-waktu mulia yang penuh dengan kebaikan. Dalam firman-Nya Allah mengatakan: سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ …. الآية “Berlomba-lombalah kalian untuk mendapatkan ampunan dari Tuhan kalian…” Rasulullah Salallahu ‘Alahi Wasaalam juga bersabda dalam haditsnya: إِنَّ لِرَبِّكُمْ عَزَّ وَجَلَّ فِي أَيَّامِ دَهْرِكُمْ نَفَحَاتٍ، فَتَعَرَّضُوا لَهَا، لَعَلَّ أَحَدَكُمْ أَنْ تُصِيبَهُ مِنْهَا نَفْحَةٌ لا يَشْقَى بَعْدَهَا أَبَدًا “Sesungguhnya Tuhan kalian memiliki embusan-embusan rahmat pada hari-hari kehidupan kalian. Maka carilah dan raihlah embusan itu, semoga salah seorang di antara kalian mendapat satu embusan dari-Nya, sehingga ia tidak akan celaka setelah itu selamanya.” Ramadan Bulan Penuh Rahmat Hari ini kita masih berada di bulan yang mulia, yaitu bulan Sya’ban. Beberapa pekan setelah ini, insyaAllah kita akan dipertemukan dengan bulan yang lebih agung dan sangat dinantikan oleh orang-orang beriman, bulan yang membawa banyak kebaikan, yaitu Bulan Suci Ramadan. Bertemu kembali dengan bulan Ramadan adalah anugerah yang sangat besar. Betapa banyak saudara, keluarga, dan sahabat kita yang tidak Allah izinkan bertemu kembali dengan bulan yang mulia tersebut, karena mereka telah lebih dahulu berpulang kepada Allah. Maka kita berharap dan memohon kepada Allah agar kita kembali diberi kesempatan bertemu dengan Ramadan tahun ini, serta termasuk orang-orang yang beruntung; yang mampu meraih kebaikan di dalamnya, memperoleh rahmat dan ampunan-Nya, dan keluar dari Ramadan dalam keadaan bersih serta dosa-dosa kita diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya kerugian yang sebenarnya bukanlah ketika seseorang tidak sempat bertemu dengan bulan Ramadan. Namun kerugian yang lebih besar adalah ketika ia bertemu dengan Ramadan, tetapi tidak mendapatkan apa-apa darinya. Bahkan lebih merugi lagi orang-orang yang justru merusak kemuliaan bulan Ramadan. Orang yang Sukses di Bulan Ramadan Kesuksesan kita di bulan Ramadan bermula dari hati yang mengagungkan dan memuliakan bulan tersebut. Sebab hati adalah penggerak utama seluruh amal. Apabila hati memandang Ramadan sebagai bulan yang agung dan bernilai, maka anggota badan akan terdorong untuk memaksimalkan ketaatan di dalamnya. Sebagaimana seseorang yang mengetahui nilai sebuah barang yang sangat berharga, tentu ia akan menjaga, merawat, dan mengerahkan segala upaya untuk mendapatkannya. Demikian pula Ramadan; jadikan Ramadan di mata kita sebagai bulan yang istimewa agar kita memperlakukannya secara istimewa. Hendaknya ibadah ditingkatkan, maksiat ditinggalkan, dan waktu dijaga agar tidak berlalu sia-sia. Jadikan Ramadan adalah bulan spesial bagi kita yang Allah khususkan bagi umat Nabi Muhammad Salallahu ‘Alahi Wassalam dengan keutamaan-keutamaan yang tidak diberikan pada bulan lainnya. Maka sudah sepantasnya ia kita spesialkan dan kita muliakan dengan hati yang penuh dengan pengagungan kepadanya. Allah Ta’ala berfirman: ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ “Demikianlah, dan barang siapa mengagungkan syi‘ar-syi‘ar Allah, maka sesungguhnya hal itu termasuk ketakwaan hati.” Orang yang Rugi di Bulan Ramadan Bayangkan seandainya Ramadan tahun ini adalah Ramadan terakhir bagi kita. Seandainya Allah tidak lagi memberi kesempatan untuk bertemu dengannya di tahun depan. Tentu kita akan menjalaninya dengan penuh kesungguhan, rasa takut, penuh harap dan khawatir jika kesempatan emas ini tidak terulang kembali. Walaupun kita berharap dapat berjumpa dengan Ramadan di setiap tahun, namun seorang mukmin yang cerdas tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan yang mungkin tidak akan datang kembali. Adapun orang yang memandang Ramadan seperti bulan-bulan lainnya, yang tidak menghadirkan pengagungan di dalam hatinya, maka ia tidak akan bisa memaksimalkan ibadah. Bahkan bisa jadi ia justru berani merusak kemuliaan Ramadan dengan meninggalkan kewajiban dan melakukan pelanggaran, padahal ia sedang berada di bulan yang paling mulia. Na‘ūdzu billāhi min dzālik. Inilah sebabnya Rasulullah Salallahu ‘Alahi Wasalam memperingatkan dengan keras: رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ رَمَضَانَ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ “Sungguh celaka seseorang yang mendapati bulan Ramadan, lalu Ramadan berlalu darinya sebelum ia mendapatkan ampunan.” Sangat disayangkan, ada satu fenomena yang sering kita jumpai di sekitar kita bahkan mungkin pada diri kita sendiri. Tidak sedikit dari kita yang justru lebih sibuk mempersiapkan datangnya Hari Raya, dibandingkan mempersiapkan diri untuk menyambut Ramadan itu sendiri. Dia sibuk dengan persiapan pakaian, makanan, dan berbagai urusan dunia yang telah direncanakan jauh-jauh hari. Sementara persiapan hati, tobat, perbaikan ibadah, dan kesiapan untuk memaksimalkan Ramadan justru sering terabaikan. Seolah-olah yang paling ditunggu adalah akhir Ramadan, bukan Ramadan itu sendiri. Kemenangan kita bukanlah hanya saat berhari raya, namun saat kita dapat menyelesaikan pendidikan di Ramadan, maka itulah kemenangan yang sesungguhnya dengan meraih ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana disebutkan dalam Riwayat hadits bahwa barang siapa yang berpuasa Ramadan dan mendirikan malam-malam Ramadan dengan ibadah karena iman kepada Allah dan mengharap pahala dari-Nya maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Mulianya Bulan Ramadan Ramadan bukan sekadar bulan yang kita lewati, tapi kesempatan yang sedang menunggu kesiapan hati kita. Ia datang membawa ampunan, namun hanya untuk hati yang siap menerimanya. Ia hadir dengan kemuliaan, namun hanya diraih oleh mereka yang memuliakannya. Jangan sampai Ramadan datang akan tetapi hanya lewat begitu saja sebagai rutinitas tahunan. Padahal disebutkan dalam riwayat hadits al Imam Tirmidzi dan al Imam Ahmad: وينادي مناد: يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَا بَاغِيَ الشّرِّ أقْصِرْ، وَللهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ “Setiap malam malaikat diperintah oleh Allah untuk menyeru kepada para hamba-hamba Allah: ‘Wahai yang merindukan kebaikan datanglah dan wahai yang menginginkan keburukan berhentilah, dan setiap malam Allah juga akan membebaskan hamba-hamba-Nya dari neraka.’” Semoga Allah jadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang beruntung di bulan Ramadan, semoga Allah jadikan hati kita penuh pengagungan dan senantiasa memuliakan bulan Ramadan sehingga kita mudah untuk menghidupkan Ramadan dengan ibadah, dan semoga Allah bersihkan hati kita dari segala benci, dengki, dan dendam kepada sesama agar kita tidak terhalang dari mendapatkan kemuliaan bulan Ramadan.   Penulis: Maulid Johansyah, M.Pd. Penyunting: Idan Sahid Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.     Artikel Ramadan dan Kesempatan yang Tak Terulang pertama kali tampil pada Pustaka.

Webinar “Anak Didik Siap Belajar”, 300+ Orangtua & Pendidik Bergabung
Artikel
SDIQu Al-Bahjah

Webinar “Anak Didik Siap Belajar”, 300+ Orangtua & Pendidik Bergabung

CIREBON – Ratusan orang tua dan pendidik dari berbagai daerah memadati ruang virtual dalam webinar parenting “Anak Didik Siap Belajar” pada Sabtu malam (31/01). Melalui kolaborasi bersama Biro Psikologi Al-Bahjah, platform AyahBundaQu menekankan satu pesan kunci bagi para orang tua pembelajar: kematangan sistem saraf dan sensori adalah fondasi yang tidak bisa ditawar sebelum anak melangkah ke jenjang akademik sekolah yang lebih berat. Telusuri isi konten: Menggali Konsep "Piramida Belajar" Bersama PakarSetel Audio & Baca Materi WebinarMengenal Biro Psikologi Al-Bahjah: Profesional dan MengayomiAntusiasme Peserta: Dari Masalah "Tag Baju" hingga Curhat SantriCurhat Peserta: Dari Masalah "Tag Baju" Hingga Hafalan SantriUngkapan Hati Guru dan Tantangan RemajaPesan Kunci: Fokus adalah Hasil, Bukan Niat Menggali Konsep “Piramida Belajar” Bersama Pakar Materi utama dibawakan oleh Ibu Vivi Ade Cerliana, M.Psi., Psikolog, dari Al-Bahjah Psychology Center. Dengan pengalaman lebih dari 25 tahun, mulai dari terapis anak spesial, pengelola PAUD, hingga asesor Badan Akreditasi Nasional, Ibu Vivi memaparkan konsep “Piramida Belajar” (Learning Pyramid) dengan analogi yang sangat membumi. “Mendidik anak itu ibarat membangun rumah. Sebelum membangun gedung (akademik), maka perlu disiapkan fondasinya terlebih dahulu. Fondasi kesiapan belajar dan berperilaku yang belum ‘ajeg’ atau matang, akan berpengaruh pada perilaku anak,” jelas Ibu Vivi dalam pemaparannya,. Beliau menekankan bahwa banyak orang tua terlalu fokus pada “puncak piramida” (kognisi/intelektual), namun abai pada lapisan bawah seperti sistem saraf pusat, kematangan refleks, dan integrasi sensori (peraba, keseimbangan, dll). Ketimpangan inilah yang sering memicu perilaku seperti sulit duduk tenang, mudah cemas, hingga masalah perilaku di sekolah. Setel Audio & Baca Materi Webinar Rekaman Webinar Utama Bonus Ringkasan: Obrolan Ringan (Virtual Host) Baca Materi Webinar (PDF) Buka & Unduh PDF Lengkap Mengenal Biro Psikologi Al-Bahjah: Profesional dan Mengayomi Webinar ini juga menjadi ajang pembuktian komitmen Al-Bahjah Psychology Center dalam mengawal tumbuh kembang umat. Kehadiran lembaga ini menegaskan bahwa Al-Bahjah tidak hanya fokus pada pendidikan spiritual (diniyah), tetapi juga menyediakan layanan profesional klinis yang mumpuni,. Tim psikolog Al-Bahjah yang dipimpin Ibu Vivi aktif membersamai unit-unit pendidikan formal Al-Bahjah, mulai dari PAUD hingga SMAIQu. Mereka rutin melakukan asesmen dan observasi untuk memastikan setiap santri memiliki kesiapan mental dan fisik yang optimal, serta memberikan pendampingan bagi kasus-kasus khusus seperti speech delay atau masalah konsentrasi. Antusiasme Peserta: Dari Masalah “Tag Baju” hingga Curhat Santri Dipandu oleh Ustadzah Ririn, webinar ini berlangsung sangat interaktif dengan peserta yang hadir dari berbagai daerah, termasuk hingga Balikpapan dan Jawa Timur. Kolom obrolan (chat) dipenuhi diskusi hangat ketika peserta menyadari bahwa kebiasaan “aneh” anak mereka ternyata memiliki penjelasan medis. Beberapa sorotan diskusi yang menarik perhatian meliputi: Masalah Sensori Sehari-hari: Banyak peserta baru menyadari bahwa anak yang tidak tahan label (tag) baju di leher, suka mengemut jari, atau menulis dengan kepala miring adalah tanda adanya refleks primitif yang belum tuntas. Tantangan Santri Baru: Seorang wali santri, Ibu Eva, mencurahkan isi hatinya tentang anaknya (11 tahun) yang kesulitan menghafal saat mandiri di pondok. Ibu Vivi memberikan solusi menenangkan, menekankan bahwa usia 11-15 tahun adalah masa transisi remaja (“otak abu-abu”), sehingga diperlukan komunikasi intens antara orang tua dan asatidz untuk menjembatani pola pendampingan. Anak “Terburu-buru”: Menanggapi keluhan anak yang selalu mengerjakan tugas dengan tergesa-gesa, Ibu Vivi menyarankan asesmen mendalam untuk melihat potensi impulsivitas atau ketidaknyamanan sensori, bukan sekadar melabeli anak malas. Curhat Peserta: Dari Masalah “Tag Baju” Hingga Hafalan Santri Atmosfer webinar terasa semakin hangat ketika sesi diskusi dibuka. Kolom obrolan (chat) Zoom seketika berubah menjadi ruang konsultasi massal, di mana ratusan peserta menyadari bahwa kebiasaan “unik” anak-anak mereka, bahkan diri mereka sendiri, ternyata memiliki penjelasan ilmiah. Banyak orang tua terkejut saat mengetahui bahwa masalah perilaku anak seringkali bermula dari ketidaknyamanan fisik atau sensori. “Anak suka mengupas kulit kuku tangan dan kaki… kadang kulit tertarik berdarah baru berasa perih dan tidak ada kapoknya,” tulis akun Syifa, menggambarkan kondisi anaknya yang berkaitan dengan kecemasan dan sensori. Senada dengan Syifa, partisipan lain seperti Neli Sofiah dan Mister Mudi kompak mengeluhkan hal spesifik yang sering dianggap sepele: “Tidak tahan tag baju”,. Bahkan, ada peserta yang menyadari kebiasaan anaknya yang “Kalau lagi mikir sampai miring-miring kepalanya, pandangannya pun miring,” tulis sebagian peserta. Ibu Vivi menjelaskan bahwa perilaku seperti tidak tahan label baju atau menggigit kuku seringkali merupakan tanda Refleks Primitif yang belum tuntas atau sensitivitas taktil yang berlebihan. Dilema Wali Santri: Transisi Kemandirian Diskusi semakin mendalam ketika Ibu Eva, seorang wali santri dari Sumber, Cirebon, menyampaikan kegelisahannya secara langsung. Ia menceritakan perubahan anaknya (11 tahun) yang kini menempuh pendidikan di SMPIQu Al-Bahjah. “Anak saya tuh kebetulan waktu sebelum masuk SMP di Al-Bahjah itu kalau menghafal harus didampingi… ketika dia sekarang di Pondok harus menghafal bahasa Arab, Tahfidz, dan sebagainya, tuh kesulitan ketika dia mandiri,” ungkap Ibu Eva dengan nada khawatir. Menanggapi hal ini, Ibu Vivi menenangkan hati para wali santri. Beliau menekankan bahwa usia 11 tahun adalah masa transisi dari ketergantungan pada orang tua menuju kemandirian. “Ini butuh waktu, Ibu. Anak lepas yang tadinya terbiasa dengan Uminya… sangat menyarankan untuk berkomunikasi kepada Asatidz-nya,” saran Ibu Vivi, menekankan pentingnya sinergi pola asuh antara rumah dan pondok. Ungkapan Hati Guru dan Tantangan Remaja Tidak hanya orang tua, para pendidik pun turut serta mencari solusi. Naveesa Aziz, seorang guru, membagikan kasus yang cukup berat mengenai murid baru berusia 12-13 tahun. “Anak ini menunjukkan perilaku yang cukup mengkhawatirkan… saat memiliki banyak pikiran atau tekanan emosi, ia mengekspresikannya dengan menyakiti diri sendiri, seperti membenturkan kepala,” tulis Naveesa. Kasus-kasus berat seperti ini mendapat perhatian khusus dari Biro Psikologi Al-Bahjah. Ibu Vivi menyarankan agar tidak terburu-buru melakukan diagnosa, namun segera melakukan observasi mendalam dan asesmen profesional untuk menemukan akar masalahnya, apakah murni psikologis atau ada hambatan perkembangan lainnya. Interaksi yang hidup ini membuktikan bahwa Webinar “Anak Didik Siap Belajar” berhasil menjadi wadah yang aman bagi orang tua dan pendidik untuk memvalidasi perasaan mereka, sekaligus menemukan peta jalan solusi yang konkret. Pesan Kunci: Fokus adalah Hasil, Bukan Niat Poin penting yang menjadi catatan utama tim AyahBundaQu adalah kesimpulan bahwa “Fokus itu bukan sekadar niat, tapi hasil dari integrasi tubuh dan otak yang seimbang”. Jika anak terlihat malas atau tidak fokus, orang tua diminta untuk tidak melakukan self-diagnosis. Langkah terbaik adalah mengecek kembali “piramida” tumbuh kembang mereka: apakah motorik kasarnya sudah kuat? Apakah sensorinya terlalu sensitif? Solusinya seringkali dimulai dari memperbaiki fondasi fisik tersebut melalui stimulasi yang tepat. Mau Rekaman Lengkap & Ringkasan Materi Webinar Ini? Apakah Ayah Bunda merasa melewatkan materi “daging” ini? Atau ingin mendengarkan kembali penjelasan detail tentang cara menstimulasi sensori anak di rumah agar siap belajar? Tim AyahBundaQu bekerja sama dengan Al-Bahjah telah menyiapkan paket lengkap berisi: Rekaman Ulang Video Webinar Materi PDF dari Ibu Vivi Ringkasan Intisari (Resume) Jangan sampai ketinggalan informasi parenting berkualitas berikutnya! KLIK DI SINI UNTUK BERGABUNG KE WAITING ROOM WHATSAPP CHANNEL AYAHBUNDAQU (Dapatkan akses materi webinar ini dan jadwal parenting Al-Bahjah selanjutnya secara GRATIS di grup peserta aktif). Baca juga: Sekolah Pertama, Pendidikan Terbaik: Parenting Zaman Fitnah Mari bersinergi membangun generasi yang tidak hanya cerdas otaknya, tapi juga matang jiwa dan raganya. ——————————————————————————– Penulis: Tim Redaksi AyahBundaQu Sumber: Webinar “Anak Didik Siap Belajar” (31/01/26) – Al-Bahjah Psychology Center

Hati-Hati, Amal Baik Bisa Sia-Sia
Artikel
Tahfidz Al-Qur'an

Hati-Hati, Amal Baik Bisa Sia-Sia

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Setiap Muslim pasti mengharapkan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan salah satu upaya untuk mendapatkannya adalah dengan berbuat baik kepada sesama karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beriringan dengan itu, berbuat baik dalam Islam hukumnya fardhu ‘ain (wajib bagi setiap orang). Kewajiban tersebut tidak hanya berlaku kepada orang lain, tetapi juga berlaku terhadap diri kita sendiri, seperti menjaga kebersihan dan kesehatan diri. Bahkan menjaga diri dari musibah dan malapetaka menjadi kewajiban bagi setiap Muslim. Agar kita bisa istiqamah berbuat baik, maka kita perlu pembiasaan. Sebab sebuah kebiasaan dimulai karena dibiasakan. Orang yang terbiasa shalat berjamaah pada mulanya mendidik dirinya agar terbiasa shalat berjamaah. Karena itu, ketika kita melihat seseorang rindu berbuat baik, itu terjadi karena hatinya telah terbiasa berbuat baik. Namun kita mesti hati-hati, walaupun kita telah terbiasa berbuat baik, setan tidak akan luput untuk menggugurkan usaha kita. Mereka selalu mencari cara agar setiap umat Baginda Nabi Muhammad Subhanahu wa Ta’ala luput dalam kebaikan. Bahkan dengan cara yang paling halus. Salah satunya mendidik hawa nafsu untuk membutakan perbuatan baik kita. Ketika setan tahu bahwa kita tidak bisa dihentikan dalam berbuat baik, maka setan akan berupaya untuk menjadikan perbuatan baik tersebut sia-sia. Kita akan dirayu agar berbuat baik sesuai dengan keinginan hawa nafsu kita, bukan karena tuntunan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Salah satu cara agar perbuatan baik kita tidak sia-sia adalah dengan meminta petunjuk seorang guru atau ulama. Sebab melalui bimbingannya, perbuatan baik kita dapat lebih terarah dan terhindar dari bujuk rayu hawa nafsu. Sebuah contoh tentang orang kaya yang berbuat baik dengan mengumrahkan pegawainya. Pada kondisi tertentu, orang kaya tersebut merasa kebaikannya itu sudah tepat karena telah membuat pegawaianya senang. Padahal, beriringan dengan itu, bisa saja pegawai itu akan menjadi lebih bahagia jika mendapatkan uang senilai perjalanan umrah tersebut. Sebab dari uang tersebut dia bisa mengangsur cicilan rumah, membayar uang sekolah anak, membayar utang, membayar biaya rumah sakit, menikah, atau digunakan untuk hal-hal yang jauh lebih dibutuhkan. Melalui contoh di atas , kita juga bisa mendapatkan sebuah pelajaran, bahwa saat berbuat baik, seseorang harus melihat seberapa luasnya manfaat yang diberikan kebaikan tersebut kepada orang lain. Jika uang umrah bisa membantu meringankan biaya hidup karyawannya bahkan meringankan impitan ekonominya, maka memberikan uang lebih utama daripada mengumrahkan sang karyawan. Oleh karena itu, berbuat baik harus dengan petunjuk dari seorang guru atau ulama agar amal baik kita dapat lebih terarah dan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh guru kita Buya Yahya, Orang cerdas di saat ingin berbuat baik (akan melakukan amal baik) yang muta’addiyah, amal baik yang pahalanya bisa berkembang dan bukan (amal baik yang) sekadar qasirah atau terbatas. Jika kita memiliki uang untuk umrah, maka pahala umrah tersebut hanya untuk diri kita sendiri. Akan tetapi, jika uang umrah itu kita gunakan untuk menyekolahkan anak yatim, membantu fakir miskin, membangun mushala, masjid, dan pondok pesantren, atau membiayai kebutuhan pendidikan santri hingga menjadi ulama, maka pahalanya akan terus berkembang sehingga menjadi amal jariyah. Bisa saja seorang santri yang kita biayai pendidikannya akan menjadi ulama besar sehingga kita menjadi mulia karena dirinya. Karena itu, kita harus memerhatikan cara kita di saat ingin berbuat baik. Sebab, bisa saja hawa nafsu membujuk kita untuk berbuat baik ke pondok pesantren sehingga kita melupakan saudara, keponakan, bibi, bahkan orang tua kita yang lebih membutuhkan. Godaan hawa nafsu itu sangat halus sehingga seseorang mudah tergoda dengan kebaikan yang dia perbuat. Terkadang ada sebagian hamba Allah yang senang berbuat baik ke pondok pesantren tetapi lupa dengan orang tuanya, saudaranya, bahkan tetangganya sehingga amal baiknya menjadi musibah untuk dirinya sendiri. Oleh sebab itu, bimbingan dan pendidikan dari seorang guru atau ulama sangat diperlukan agar kita tidak salah melangkah saat ingin berbuat baik. Harapannya di saat kita berbuat baik, kita bisa mendapatkan pahala di akhirat dan bukan sekadar balasan di dunia.   Penulis: Fahmi Sidik Marunduri Penyunting: Idan Sahid Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.     Artikel Hati-Hati, Amal Baik Bisa Sia-Sia pertama kali tampil pada Pustaka.

(Cerpen) Biarkan Aku Pergi
Artikel
Tahfidz Al-Qur'an

(Cerpen) Biarkan Aku Pergi

AKU menulis ini bukan sebagai seseorang yang telah selesai dengan hidupnya, melainkan sebagai seseorang yang masih berjalan tersendat, ragu, dan sering berhenti di tengah jalan. Kisah ini bukan tentang masa lalu yang sudah kutinggalkan, tetapi tentang masa kini yang masih kutanggung setiap hari. Tentang seseorang yang tidak sepenuhnya pergi, dan tentang diriku yang belum sepenuhnya tinggal. Ada sebuah ruang di dalam dada yang bentuknya seperti labirin. Aku sudah masuk terlalu jauh, dan setiap kali aku mencoba menemukan pintu keluar, aku justru menemukan lorong baru yang berisi kenangan-kenangan kecil. Kita sering mengira bahwa kehilangan adalah sebuah ledakan besar. Namun bagiku, kehilangan adalah gerimis panjang yang perlahan-lahan menenggelamkan seluruh kota tanpa aku sempat menyadarinya. Ia hadir tanpa suara yang mencolok. Tidak ada perkenalan yang dramatis, tidak pula janji yang diikat sejak awal. Ia hanya datang, lalu menetap perlahan, seolah keberadaannya memang tidak perlu diumumkan. Awalnya aku mengira ia hanya persinggahan, seperti banyak orang lain yang datang dan pergi tanpa benar-benar meninggalkan bekas. Namun waktu bekerja dengan caranya sendiri diam-diam mengubah kebiasaan menjadi kebutuhan. Kami menjalani hari-hari dengan sederhana. Percakapan kami tidak selalu penting, bahkan sering kali remeh. Tentang lelah setelah seharian beraktivitas, tentang cuaca yang terlalu panas, tentang hidup yang terasa berjalan di tempat. Namun justru dari hal-hal kecil itulah kedekatan tumbuh. Tanpa kusadari, ia menjadi tempatku kembali setelah hari yang panjang, meski tidak pernah kusebut sebagai tujuan. Aku ingat bagaimana ia mendengarkan ceritaku yang tak berujung. Ia tidak banyak berkomentar. Namun tatapannya seolah mengatakan bahwa aku aman. Keamanan itulah yang menjadi jebakan paling mematikan. Aku lupa bahwa keamanan yang tidak memiliki dasar hukum dan kepastian adalah sebuah kerapuhan yang disamarkan. Aku tidak pernah menanyakan ke mana arah semua ini. Mungkin karena aku takut pada jawabannya. Memberi nama berarti memberi tuntutan, dan aku belum siap menanggungnya. Ia pun tidak pernah memulai pembicaraan itu. Kami sama-sama memilih diam, seolah ketidakpastian lebih aman daripada kejujuran yang bisa melukai. Dalam diam itu, aku sering membangun skenario di kepalaku. Tentang rumah kecil, tentang sore yang permanen, tentang kita yang tidak lagi harus berpamitan setiap kali malam datang. Namun, setiap kali imajinasi itu menyentuh realitas, aku merasa seperti menyentuh dinding es yang dingin. Ada sesuatu yang menghalangi, sesuatu yang tidak kasat mata namun sangat kokoh. Sore hari sering menjadi waktu kami berbincang. Duduk berhadapan, membiarkan senja turun tanpa tergesa. Aku sering berbicara tentang masa depan tentang keinginanku memiliki arah yang jelas, hidup yang lebih tertata. “Kamu selalu ingin memastikan segalanya,” katanya suatu kali, nada suaranya datar, tanpa menghakimi. “Bukankah itu wajar?” tanyaku. Ia tidak langsung menjawab. Matanya menatap ke kejauhan, seolah sedang memilih kata yang paling tidak menyakitkan. “Wajar,” katanya akhirnya. “Tapi tidak semua yang kita inginkan bisa kita bawa sejauh itu.” Aku menoleh, menunggu penjelasan lebih lanjut yang sebenarnya sudah kutakuti sejak lama. “Ada hal-hal yang tidak cukup diperjuangkan berdua,” lanjutnya. “Ada izin yang harus datang dari luar kita.” Aku terdiam. Kata itu tidak ia ucapkan secara langsung, tetapi aku tahu apa yang ia maksud. Restu. Kata itu seketika menjadi gema yang memekakkan telinga. Aku mulai memahami bahwa ia hidup dengan batas-batas yang berbeda denganku. Bahwa baginya, melangkah jauh tanpa izin orang tua bukanlah sebuah bentuk perjuangan cinta, melainkan sebuah kedurhakaan yang ia hindari. Sementara aku, aku tumbuh dengan keyakinan bahwa niat baik cukup untuk membuka jalan. Di situlah letak retakan pertama dalam fondasi kami. Di situlah kami mulai berjarak, meski masih duduk bersebelahan. Aku mencoba mengabaikan kegelisahan itu, meyakinkan diri bahwa waktu akan mengubah hati orang-orang di sekitar kami. Namun hari demi hari justru membuat batas itu semakin jelas. Ia tidak menjanjikan apa pun bukan karena tidak peduli, melainkan karena ia tidak ingin memberiku harapan yang akan menjadi racun di kemudian hari. Setiap kali aku menatapnya, aku melihat sebuah perpisahan yang sedang mengantre untuk terjadi. Aku mulai merasa seperti tamu di hidupnya, yang hanya diizinkan tinggal di ruang tamu. Namun tak pernah diperkenankan menyentuh inti dari rumahnya. Suatu sore, di bawah langit yang berwarna jingga pucat, aku memberanikan diri. Aku lelah dengan keadaan “setengah” ini. “Kalau aku memilih pergi,” tanyaku, suaraku bergetar meski berusaha terdengar biasa, “apa kamu akan menahanku?” Hening yang tercipta setelah itu terasa lebih panjang dari perjalanan hidupku. “Aku tidak ingin menahanmu di tempat yang belum tentu bisa kamu tuju,” jawabnya akhirnya, “aku tidak ingin kamu menggantungkan hidupmu pada sesuatu yang belum pasti. Aku mencintaimu, tapi aku tidak bisa memberikan kepastian yang kunci pintunya bukan aku yang pegang.” Jawaban itu adalah kejujuran yang paling kejam. Sejak hari itu, aku hidup dalam keadaan setengah-setengah. Masih bersama, tetapi jiwaku sudah mulai berkemas. Di luar, hidup tampak normal. Di dalam, aku bergulat dengan pilihan: bertahan dalam ketidakpastian yang melelahkan, atau pergi membawa luka yang belum kering. Aku mulai menyadari bahwa tidak semua cinta diuji oleh jarak geografis atau kehadiran orang ketiga. Sebagian cinta diuji oleh takdir yang tidak memberikan celah bagi restu. Dan ujian itu jauh lebih sunyi, jauh lebih melelahkan karena kita harus melawan sesuatu yang kita hormati: prinsip dan keluarga. Kini, aku berdiri di ambang pintu itu. Aku mulai belajar bahwa mencintai tidak harus selalu memiliki, dan melepaskan bukan berarti kalah. Terkadang, melepaskan adalah cara tertinggi untuk menghargai diri sendiri dan orang lain. Di akhir perjalanan yang melelahkan ini, aku kembali kepada satu-satunya pemilik ketetapan. Aku menyadari bahwa mungkin selama ini aku terlalu sibuk mengejar restu bumi, hingga lupa bahwa hati manusia ada di antara jari-jemari Sang Maha Membolak-balikkan Hati. Aku teringat sebuah ayat yang menjadi penyejuk di tengah bara kegelisahan ini: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216) Mungkin kehilanganku hari ini adalah cara Allah menyelamatkanku dari kesedihan yang lebih besar di masa depan. Aku memilih untuk melangkah pergi, bukan karena kakiku kuat, tetapi karena aku percaya pada janji-Nya: “Barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang jauh lebih baik.” (HR. Ahmad) Aku melepaskanmu, bukan untuk kehilanganmu, tapi untuk mengembalikanmu kepada pemilikmu yang sebenarnya. Jika memang kita adalah bagian dari takdir yang tertulis di Lauh Mahfuzh, maka tidak ada tembok restu di dunia ini yang sanggup menghalangi. Namun jika tidak, biarlah perpisahan ini menjadi ibadahku untuk patuh pada ketetapan Nya. Biarkan aku pergi, untuk menemukan jalan pulang yang lebih diridhai.   Penulis: Syariif Ahmad Ja’far Shoodiq Penyunting: Idan Sahid Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.     Artikel (Cerpen) Biarkan Aku Pergi pertama kali tampil pada Pustaka.

Pondok Pesantren Al-Bahjah Gelar Ujian Akhir Semester Tahfidz dan Tafaqquh Serentak di Berbagai Cabang
Artikel
SDIQu Al-Bahjah

Pondok Pesantren Al-Bahjah Gelar Ujian Akhir Semester Tahfidz dan Tafaqquh Serentak di Berbagai Cabang

Dalam rangka menilai capaian pembelajaran serta menjaga kualitas pembinaan santri, Pondok Pesantren Al-Bahjah dari berbagai cabang mulai melaksanakan Ujian Akhir Semester untuk tingkatan Tahfidz dan Tafaqquh, yang dilaksanakan mulai 10 Jumadal Akhirah 1447 H/01 Desember 2025 M. Kegiatan ini merupakan bagian dari ikhtiar pendidikan pesantren dalam menyeimbangkan kekuatan hafalan Al-Qur’an dengan kedalaman pemahaman ilmu syar’i, sebagaimana visi Al-Bahjah dalam mencetak generasi Qur’ani yang berakhlak, berilmu, dan beramal. Ujian Tahfidz difokuskan pada ketepatan hafalan, kelancaran bacaan, serta penguatan adab terhadap Al-Qur’an. Sementara itu, ujian Tafaqquh diarahkan untuk mengukur pemahaman santri terhadap materi keilmuan yang telah dipelajari, baik secara lisan maupun tulisan, sesuai dengan jenjang masing-masing. Pelaksanaan ujian berlangsung dengan tertib, khidmat, dan penuh tanggung jawab, di bawah bimbingan para asatidz dan asatidzah. Seluruh rangkaian kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana evaluasi akademik, tetapi juga media pembinaan mental, kedisiplinan, dan kejujuran santri dalam menuntut ilmu. Melalui ujian akhir semester ini, diharapkan para santri mampu memetik hikmah bahwa proses belajar adalah bagian dari ibadah, serta menjadi momentum muhasabah untuk terus memperbaiki niat dan kesungguhan dalam menuntut ilmu. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kemudahan, kelancaran, dan keberkahan dalam seluruh rangkaian ujian ini, serta menjadikannya sebagai wasilah lahirnya generasi yang istiqamah di jalan Al-Qur’an dan sunnah. Amin ya Rabbal Alamin.A/G #UjianSantri #Tahfidz #Tafaqquh #PondokPesantren #AlBahjah #PendidikanIslam

Divisi Pendidikan Pondok Pesantren Al-Bahjah Luncurkan Kuesioner Evaluasi Pendidikan 2025, Libatkan Santri Tahfidz dan Tafaqquh
Artikel
SDIQu Al-Bahjah

Divisi Pendidikan Pondok Pesantren Al-Bahjah Luncurkan Kuesioner Evaluasi Pendidikan 2025, Libatkan Santri Tahfidz dan Tafaqquh

Pondok Pesantren Al-Bahjah melalui Divisi Pendidikan resmi meluncurkan Kuesioner Evaluasi Sistem Pendidikan Tahun Ajaran 1447 H/2025 M yang melibatkan santri program Tahfidz dan Tafaqquh. Kuesioner ini menjadi bagian dari evaluasi tahunan untuk mengukur efektivitas pembelajaran dan layanan pendidikan pesantren. Kuesioner tersebut dirancang sebagai sarana menjaring masukan langsung dari santri terkait proses belajar-mengajar, pembinaan karakter, serta fasilitas penunjang pendidikan. Data yang terkumpul akan menjadi dasar penyempurnaan kebijakan dan program pendidikan di lingkungan Pondok Pesantren Al-Bahjah. Ketua Divisi Pendidikan Pondok Pesantren Al-Bahjah menegaskan pentingnya peran santri dalam proses evaluasi. “Evaluasi ini kami laksanakan sebagai bentuk komitmen dalam menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan. Suara santri menjadi bagian penting dalam perbaikan sistem pembelajaran dan pembinaan di Al-Bahjah,” ujarnya. Ia juga memastikan bahwa seluruh jawaban santri dijaga kerahasiaannya dan hanya digunakan untuk kepentingan evaluasi internal. “Kami menjamin kerahasiaan data responden. Santri diharapkan mengisi kuesioner secara jujur dan objektif sesuai dengan pengalaman yang dirasakan,” tambahnya. Melalui pelaksanaan kuesioner ini, Pondok Pesantren Al-Bahjah berharap dapat terus melakukan pembenahan berkelanjutan demi mencetak generasi penghafal Al-Qur’an dan penuntut ilmu yang berakhlakulkarimah serta siap menghadapi tantangan zaman./KF

Pembukaan Penerimaan Santri BaruProgram Tahfidz & Tafaqqquh Al-BahjahGelombang 2Tahun Ajaran 1447–1448 H/2026–2027 M
Artikel
SDIQu Al-Bahjah

Pembukaan Penerimaan Santri BaruProgram Tahfidz & Tafaqqquh Al-BahjahGelombang 2Tahun Ajaran 1447–1448 H/2026–2027 M

Lembaga Pengembangan Dakwah (LPD) Al-Bahjah kembali membuka Penerimaan Santri Baru (PSB) Gelombang 2 untuk Program Tahfidz dan Tafaqqquh Tahun Ajaran 1447-1448 H/2026-2027 M. Program ini merupakan bagian dari komitmen lembaga dalam menyiapkan generasi berakhlak karimah, kuat dalam ilmu agama, serta memiliki pondasi karakter yang kokoh melalui pendidikan berbasis pesantren. Gelombang kedua ini resmi dibuka mulai 1 Desember 2025 hingga 31 Maret 2026, bertepatan dengan 10 Jumadal Akhirah-12 Syawwal 1447 H. Kesempatan ini diperuntukkan bagi putra dan putri umat Islam yang ingin menempuh pendidikan pesantren secara intensif melalui pembelajaran Al-Qur’an, pendalaman kitab, serta pembinaan ibadah dan karakter yang terarah. Fokus Pendidikan: Tahfidz & Tafaqqquh Program pendidikan di Al-Bahjah dirancang untuk menguatkan tiga aspek utama: Akhlak: pembiasaan sikap, perilaku, dan adab santri dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu: pendalaman agama melalui kajian tafaqquh, membaca dan memahami kitab, serta pelajaran diniyah. Al-Qur’an: pembinaan hafalan Al-Qur’an melalui sistem karantina yang intensif dan terstruktur. Program unggulan yang ditawarkan meliputi: Akhlaqul Karimah Hafidz Qur’an (Karantina Percepatan Hafalan) Pelajaran Diniyah (Percepatan Baca Kitab & Bahasa Arab) Pelajaran Umum (Muadalah) Dengan kurikulum khas pesantren, Al-Bahjah menekankan pendidikan yang seimbang antara hafalan, pemahaman agama, dan pengembangan karakter. Syarat Usia & Kuota PSB Gelombang 2 dibuka untuk dua kategori: Program Tahfidz: usia 10-13 tahun Program Tafaqqquh: usia 14-22 tahun Kuota santri disesuaikan dengan ketersediaan kamar asrama dan kelas pembinaan. Alur dan Mekanisme Pendaftaran Calon santri dapat mendaftar melalui formulir online dengan memindai QR Code pada brosur resmi atau menghubungi admin. Tahapan pendaftaran meliputi: Menghubungi admin/scan QR Code Mengisi formulir online Mengirimkan berkas persyaratan Mengikuti proses seleksi Pengumuman hasil seleksi Daftar ulang Kontak Resmi Pendaftaran: PSB Tahfidz: 0821-1577-9231 PSB Tafaqqquh: 0853-3332-2707 Persyaratan berkas meliputi KK, Akta Kelahiran, pas foto terbaru, serta dokumen pendukung pendidikan. Informasi biaya pendaftaran dan daftar ulang akan disampaikan langsung melalui admin resmi. Fasilitas dan Lingkungan Pendidikan Al-Bahjah menyediakan beragam fasilitas pendukung pendidikan dan pembinaan santri, antara lain: Asrama putra dan putri Masjid dan ruang ibadah Ruang kelas diniyah dan umum Area kegiatan santri Program karantina tahfidz dan bahasa Pembinaan ibadah harian Lingkungan pesantren yang aman, kondusif, dan tertata Tenaga pendidik di Al-Bahjah merupakan para pembimbing yang berpengalaman dalam tahfidz, tafaqquh, dan pembinaan anak secara psikologis maupun spiritual. Komitmen Membangun Generasi Beradab Dalam pernyataannya, pimpinan lembaga menegaskan bahwa Al-Bahjah hadir sebagai pesantren yang mengutamakan akhlaq sebagai pondasi utama: “Program Tahfidz & Tafaqqquh Al-Bahjah kami rancang untuk membentuk generasi yang kuat hafalan, dalam pemahaman, dan luhur akhlaknya. Kami mengajak para orang tua untuk memberikan pendidikan terbaik bagi putra-putrinya di lingkungan pesantren yang aman, nyaman, dan penuh keberkahan.” Sebagai lembaga yang berbasis dakwah dan pendidikan, Al-Bahjah berkomitmen menghadirkan proses belajar yang tidak hanya fokus pada ilmu, tetapi juga adab, kemandirian, serta kesungguhan dalam bermuamalah. Dengan dibukanya Penerimaan Santri Baru Gelombang 2, Al-Bahjah berharap semakin banyak generasi muda yang siap menjadi pribadi saleh, beradab, dan berkontribusi untuk umat. Pendaftaran telah resmi dibuka, dan masyarakat dapat segera mengakses informasi lengkap melalui kontak resmi atau platform digital Al-Bahjah. Lembaga Pengembangan Dakwah Al-Bahjah Divisi Pendidikan Kantor Divisi Pondok Pesantren Blok C Jl. Pangeran Cakrabuana Blok Gudang Air No. 178 Sendang, Sumber, Cirebon-45611 Website: albahjah.edu Instagram & TikTok: @albahjahedu Facebook: Al Bahjah Edu

Studi Tiru Al-Bahjah ke Sulaimaniyah Bandung: Memperkuat Sistem Pembinaan Santri dan Pengelolaan Pondok
Artikel
SDIQu Al-Bahjah

Studi Tiru Al-Bahjah ke Sulaimaniyah Bandung: Memperkuat Sistem Pembinaan Santri dan Pengelolaan Pondok

Dalam upaya meningkatkan mutu pembinaan, pengembangan kurikulum, serta tata kelola kelembagaan, Divisi Pendidikan Pondok Pesantren Al-Bahjah melaksanakan kegiatan silaturahim dan studi tiru ke Ponpes Tahfidz Qur’an Sulaimaniyah Bandung pada Rabu, 19 Jumadal Akhirah 1447 H/10 Desember 2025 M. Kegiatan ini dipimpin oleh Abah H. Deni, Abah H. Zaenal, beserta para pengurus dan asatidz. Rombongan disambut hangat oleh Abi Bahrul Fikri dan Abi Abdurrahman Wahyu selaku perwakilan Pondok Pesantren Sulaimaniyah, sehingga suasana dialog dan pertukaran ilmu berlangsung cair dan penuh keakraban. Pondok Pesantren Sulaimaniyah Bandung dikenal sebagai lembaga tahfidz dan takhassus Al-Qur’an yang memiliki sistem pembinaan sangat rapi, profesional, serta dibangun dengan standar yang sama di lebih dari 20 cabang di Jawa Barat. Dalam kunjungan ini, tim Al-Bahjah memperoleh penjelasan komprehensif mengenai metode pendidikan yang mereka terapkan, termasuk budaya penggunaan sapaan “Abi” sebagai wujud kedekatan emosional antara santri dan pembina tanpa mengurangi adab. Visi besar Sulaimaniyah adalah “Mencetak generasi muda penghafal Al-Qur’an yang mengamalkannya dan menjadi teladan umat”, diwujudkan melalui beberapa langkah konkret, di antaranya: metode tahfidz yang sangat terstruktur, dengan target harian, pekanan, hingga tahunan, penguatan bahasa Arab dan Turki sebagai materi wajib, program beasiswa ke Turki bagi santri berprestasi, standarisasi fasilitas asrama, mencakup tempat tidur, lemari, dan perangkat pembinaan yang seragam, dan sistem piagam dan syahadah sebagai bentuk penghargaan berjenjang bagi para penghafal Al-Qur’an. Salah satu filosofi unik yang menginspirasi rombongan Al-Bahjah adalah konsep manajemen waktu 8-8-8: 8 jam belajar-8 jam ibadah-8 jam istirahat. Sebuah pola hidup yang menyeimbangkan antara akademik, spiritual, dan kesehatan santri. Pondok Pesantren Sulaimaniyah juga menekankan pentingnya pembinaan akhlak dan motivasi. Santri mendapatkan pendampingan melalui: seminar motivasi, ceramah pekanan, sesi konseling sebelum tidur, dan konsultasi berkala antara wali santri dan pembina. Sistem ini menciptakan lingkungan belajar yang terarah, nyaman, dan penuh perhatian. Di sisi manajemen, Pondok Pesantren Sulaimaniyah mengelola pondoknya melalui berbagai komisi-komisi khusus: Komisi Pendidikan, Komisi Tahfidz, Komisi Legal, Komisi Irsyadi, dan Komisi Pembangunan. Struktur ini memastikan setiap bidang berjalan dengan standar prosedur yang jelas dan dapat dievaluasi secara berkala. Pelajaran Berharga untuk Penguatan Sistem di Al-Bahjah Dari kegiatan ini, tim menyimpulkan beberapa praktik baik yang sangat relevan untuk pengembangan Pondok Pesantren Al-Bahjah ke depan, di antaranya sebagai berikut. Sistem piagam prestasi yang terdiferensiasi (sertifikat penghargaan bagi yang tidak mutqin 30 Juz dan syahadah bagi yang mutqin 30 Juz) efektif memberikan pengakuan formal dan motivasi berjenjang bagi santri penghafal Al-Qur’an Filosofi waktu 8-8-8 (belajar, ibadah, istirahat) menciptakan disiplin dan keseimbangan hidup yang terstruktur, didukung oleh jadwal tidur siang (qoilulah) dan malam yang tetap. Standarisasi sarana dan prasarana dibuktikan dengan desain arsitetur lengkap dengan tata letak dan sebagainya khusus menjamin kualitas fisik, keamanan, dan kenyamanan lingkungan belajar secara konsisten di semua cabang. Muatan kurikulum life skills seperti kepribadian, tata boga, dan menjahit (khusus santriwati) mencerminkan perhatian pada pembentukan karakter, kemandirian, dan keterampilan praktis yang menyiapkan santri untuk kehidupan sehari-hari di masyarakat. Melalui studi tiru ini, Al-Bahjah berharap dapat terus memperkuat kualitas pendidikan, pembinaan santri, serta tata kelola pondok agar semakin profesional dan relevan dengan kebutuhan zaman, tanpa meninggalkan akar tradisi dan nilai-nilai adab yang menjadi ciri khas pesantren. Kegiatan silaturahim dan studi tiru ini tidak hanya memperluas wawasan, tetapi juga mempererat hubungan kelembagaan antara dua pesantren yang memiliki visi serupa dalam membentuk generasi berakhlak mulia dan berilmu mendalam. Al-Bahjah berharap sinergi semacam ini dapat terus dilanjutkan demi menghadirkan praktik terbaik dalam pendidikan pesantren.

Menampilkan 12 dari 64 publikasi

Sekolah Ponpes Al-Bahjah: Pusat Informasi dan Pendaftaran

Analisis komprehensif sistem pendidikan info_archive dalam ekosistem LPD Al-Bahjah Cirebon untuk mempersiapkan generasi visioner yang beradab dan kompetitif.

Transformasi Karakter melalui Jalur info_archive

Pesantren Al-Bahjah adalah oase pendidikan bagi Keluarga Visioner. Menggabungkan kedalaman sanad keilmuan Hadramaut dengan keunggulan akademik nasional dalam lingkungan tanpa gadget.

Tiga Pilar Utama Ekosistem Al-Bahjah

  • Pendidikan Formal (SDIQu, SMPIQu, SMAIQu): Integrasi Kurikulum Nasional dengan Diniyah Salaf dan Tahfidz intensif.
  • Jalur Muadalah (Pondok Tahfidz & Tafaqquh): Fokus mutlak pada hafalan 30 Juz dan penguasaan Kitab Kuning dengan ijazah penyetaraan resmi.
  • STAI Al-Bahjah: Pendidikan tinggi untuk mencetak sarjana ahli syariah yang beradab dan profesional.

Geser tutup »

dari di albahjah.org.

Logo

Saluran Al-Bahjah

Verified WhatsApp Channel

Dapatkan update harian, agenda penting, dan informasi pendaftaran langsung di WhatsApp Anda tanpa menyimpan nomor.

Update Cepat & Akurat
Privasi Nomor Terjamin
Gabung Saluran