
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan agar kita selalu bergegas menyambut rahmat dan ampunan-Nya. Termasuk tatkala kita bertemu dengan waktu-waktu mulia yang penuh dengan kebaikan. Dalam firman-Nya Allah mengatakan:
سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ …. الآية
“Berlomba-lombalah kalian untuk mendapatkan ampunan dari Tuhan kalian…”
Rasulullah Salallahu ‘Alahi Wasaalam juga bersabda dalam haditsnya:
إِنَّ لِرَبِّكُمْ عَزَّ وَجَلَّ فِي أَيَّامِ دَهْرِكُمْ نَفَحَاتٍ، فَتَعَرَّضُوا لَهَا، لَعَلَّ أَحَدَكُمْ أَنْ تُصِيبَهُ مِنْهَا نَفْحَةٌ لا يَشْقَى بَعْدَهَا أَبَدًا
“Sesungguhnya Tuhan kalian memiliki embusan-embusan rahmat pada hari-hari kehidupan kalian. Maka carilah dan raihlah embusan itu, semoga salah seorang di antara kalian mendapat satu embusan dari-Nya, sehingga ia tidak akan celaka setelah itu selamanya.”
Ramadan Bulan Penuh Rahmat
Hari ini kita masih berada di bulan yang mulia, yaitu bulan Sya’ban. Beberapa pekan setelah ini, insyaAllah kita akan dipertemukan dengan bulan yang lebih agung dan sangat dinantikan oleh orang-orang beriman, bulan yang membawa banyak kebaikan, yaitu Bulan Suci Ramadan. Bertemu kembali dengan bulan Ramadan adalah anugerah yang sangat besar. Betapa banyak saudara, keluarga, dan sahabat kita yang tidak Allah izinkan bertemu kembali dengan bulan yang mulia tersebut, karena mereka telah lebih dahulu berpulang kepada Allah. Maka kita berharap dan memohon kepada Allah agar kita kembali diberi kesempatan bertemu dengan Ramadan tahun ini, serta termasuk orang-orang yang beruntung; yang mampu meraih kebaikan di dalamnya, memperoleh rahmat dan ampunan-Nya, dan keluar dari Ramadan dalam keadaan bersih serta dosa-dosa kita diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sesungguhnya kerugian yang sebenarnya bukanlah ketika seseorang tidak sempat bertemu dengan bulan Ramadan. Namun kerugian yang lebih besar adalah ketika ia bertemu dengan Ramadan, tetapi tidak mendapatkan apa-apa darinya. Bahkan lebih merugi lagi orang-orang yang justru merusak kemuliaan bulan Ramadan.
Orang yang Sukses di Bulan Ramadan
Kesuksesan kita di bulan Ramadan bermula dari hati yang mengagungkan dan memuliakan bulan tersebut. Sebab hati adalah penggerak utama seluruh amal. Apabila hati memandang Ramadan sebagai bulan yang agung dan bernilai, maka anggota badan akan terdorong untuk memaksimalkan ketaatan di dalamnya.
Sebagaimana seseorang yang mengetahui nilai sebuah barang yang sangat berharga, tentu ia akan menjaga, merawat, dan mengerahkan segala upaya untuk mendapatkannya. Demikian pula Ramadan; jadikan Ramadan di mata kita sebagai bulan yang istimewa agar kita memperlakukannya secara istimewa. Hendaknya ibadah ditingkatkan, maksiat ditinggalkan, dan waktu dijaga agar tidak berlalu sia-sia. Jadikan Ramadan adalah bulan spesial bagi kita yang Allah khususkan bagi umat Nabi Muhammad Salallahu ‘Alahi Wassalam dengan keutamaan-keutamaan yang tidak diberikan pada bulan lainnya. Maka sudah sepantasnya ia kita spesialkan dan kita muliakan dengan hati yang penuh dengan pengagungan kepadanya. Allah Ta’ala berfirman:
ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
“Demikianlah, dan barang siapa mengagungkan syi‘ar-syi‘ar Allah, maka sesungguhnya hal itu termasuk ketakwaan hati.”
Orang yang Rugi di Bulan Ramadan
Bayangkan seandainya Ramadan tahun ini adalah Ramadan terakhir bagi kita. Seandainya Allah tidak lagi memberi kesempatan untuk bertemu dengannya di tahun depan. Tentu kita akan menjalaninya dengan penuh kesungguhan, rasa takut, penuh harap dan khawatir jika kesempatan emas ini tidak terulang kembali. Walaupun kita berharap dapat berjumpa dengan Ramadan di setiap tahun, namun seorang mukmin yang cerdas tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan yang mungkin tidak akan datang kembali.
Adapun orang yang memandang Ramadan seperti bulan-bulan lainnya, yang tidak menghadirkan pengagungan di dalam hatinya, maka ia tidak akan bisa memaksimalkan ibadah. Bahkan bisa jadi ia justru berani merusak kemuliaan Ramadan dengan meninggalkan kewajiban dan melakukan pelanggaran, padahal ia sedang berada di bulan yang paling mulia. Na‘ūdzu billāhi min dzālik. Inilah sebabnya Rasulullah Salallahu ‘Alahi Wasalam memperingatkan dengan keras:
رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ رَمَضَانَ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ
“Sungguh celaka seseorang yang mendapati bulan Ramadan, lalu Ramadan berlalu darinya sebelum ia mendapatkan ampunan.”
Sangat disayangkan, ada satu fenomena yang sering kita jumpai di sekitar kita bahkan mungkin pada diri kita sendiri. Tidak sedikit dari kita yang justru lebih sibuk mempersiapkan datangnya Hari Raya, dibandingkan mempersiapkan diri untuk menyambut Ramadan itu sendiri. Dia sibuk dengan persiapan pakaian, makanan, dan berbagai urusan dunia yang telah direncanakan jauh-jauh hari. Sementara persiapan hati, tobat, perbaikan ibadah, dan kesiapan untuk memaksimalkan Ramadan justru sering terabaikan. Seolah-olah yang paling ditunggu adalah akhir Ramadan, bukan Ramadan itu sendiri. Kemenangan kita bukanlah hanya saat berhari raya, namun saat kita dapat menyelesaikan pendidikan di Ramadan, maka itulah kemenangan yang sesungguhnya dengan meraih ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana disebutkan dalam Riwayat hadits bahwa barang siapa yang berpuasa Ramadan dan mendirikan malam-malam Ramadan dengan ibadah karena iman kepada Allah dan mengharap pahala dari-Nya maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
Mulianya Bulan Ramadan
Ramadan bukan sekadar bulan yang kita lewati, tapi kesempatan yang sedang menunggu kesiapan hati kita. Ia datang membawa ampunan, namun hanya untuk hati yang siap menerimanya. Ia hadir dengan kemuliaan, namun hanya diraih oleh mereka yang memuliakannya. Jangan sampai Ramadan datang akan tetapi hanya lewat begitu saja sebagai rutinitas tahunan. Padahal disebutkan dalam riwayat hadits al Imam Tirmidzi dan al Imam Ahmad:
وينادي مناد: يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَا بَاغِيَ الشّرِّ أقْصِرْ، وَللهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ
“Setiap malam malaikat diperintah oleh Allah untuk menyeru kepada para hamba-hamba Allah: ‘Wahai yang merindukan kebaikan datanglah dan wahai yang menginginkan keburukan berhentilah, dan setiap malam Allah juga akan membebaskan hamba-hamba-Nya dari neraka.’”
Semoga Allah jadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang beruntung di bulan Ramadan, semoga Allah jadikan hati kita penuh pengagungan dan senantiasa memuliakan bulan Ramadan sehingga kita mudah untuk menghidupkan Ramadan dengan ibadah, dan semoga Allah bersihkan hati kita dari segala benci, dengki, dan dendam kepada sesama agar kita tidak terhalang dari mendapatkan kemuliaan bulan Ramadan.
Penulis: Maulid Johansyah, M.Pd.
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Artikel Ramadan dan Kesempatan yang Tak Terulang pertama kali tampil pada Pustaka.