
AKU menulis ini bukan sebagai seseorang yang telah selesai dengan hidupnya, melainkan sebagai seseorang yang masih berjalan tersendat, ragu, dan sering berhenti di tengah jalan. Kisah ini bukan tentang masa lalu yang sudah kutinggalkan, tetapi tentang masa kini yang masih kutanggung setiap hari. Tentang seseorang yang tidak sepenuhnya pergi, dan tentang diriku yang belum sepenuhnya tinggal.
Ada sebuah ruang di dalam dada yang bentuknya seperti labirin. Aku sudah masuk terlalu jauh, dan setiap kali aku mencoba menemukan pintu keluar, aku justru menemukan lorong baru yang berisi kenangan-kenangan kecil. Kita sering mengira bahwa kehilangan adalah sebuah ledakan besar. Namun bagiku, kehilangan adalah gerimis panjang yang perlahan-lahan menenggelamkan seluruh kota tanpa aku sempat menyadarinya.
Ia hadir tanpa suara yang mencolok. Tidak ada perkenalan yang dramatis, tidak pula janji yang diikat sejak awal. Ia hanya datang, lalu menetap perlahan, seolah keberadaannya memang tidak perlu diumumkan. Awalnya aku mengira ia hanya persinggahan, seperti banyak orang lain yang datang dan pergi tanpa benar-benar meninggalkan bekas. Namun waktu bekerja dengan caranya sendiri diam-diam mengubah kebiasaan menjadi kebutuhan.
Kami menjalani hari-hari dengan sederhana. Percakapan kami tidak selalu penting, bahkan sering kali remeh. Tentang lelah setelah seharian beraktivitas, tentang cuaca yang terlalu panas, tentang hidup yang terasa berjalan di tempat. Namun justru dari hal-hal kecil itulah kedekatan tumbuh. Tanpa kusadari, ia menjadi tempatku kembali setelah hari yang panjang, meski tidak pernah kusebut sebagai tujuan.
Aku ingat bagaimana ia mendengarkan ceritaku yang tak berujung. Ia tidak banyak berkomentar. Namun tatapannya seolah mengatakan bahwa aku aman. Keamanan itulah yang menjadi jebakan paling mematikan. Aku lupa bahwa keamanan yang tidak memiliki dasar hukum dan kepastian adalah sebuah kerapuhan yang disamarkan.
Aku tidak pernah menanyakan ke mana arah semua ini. Mungkin karena aku takut pada jawabannya. Memberi nama berarti memberi tuntutan, dan aku belum siap menanggungnya. Ia pun tidak pernah memulai pembicaraan itu. Kami sama-sama memilih diam, seolah ketidakpastian lebih aman daripada kejujuran yang bisa melukai.
Dalam diam itu, aku sering membangun skenario di kepalaku. Tentang rumah kecil, tentang sore yang permanen, tentang kita yang tidak lagi harus berpamitan setiap kali malam datang. Namun, setiap kali imajinasi itu menyentuh realitas, aku merasa seperti menyentuh dinding es yang dingin. Ada sesuatu yang menghalangi, sesuatu yang tidak kasat mata namun sangat kokoh.
Sore hari sering menjadi waktu kami berbincang. Duduk berhadapan, membiarkan senja turun tanpa tergesa. Aku sering berbicara tentang masa depan tentang keinginanku memiliki arah yang jelas, hidup yang lebih tertata.
“Kamu selalu ingin memastikan segalanya,” katanya suatu kali, nada suaranya datar, tanpa menghakimi.
“Bukankah itu wajar?” tanyaku. Ia tidak langsung menjawab. Matanya menatap ke kejauhan, seolah sedang memilih kata yang paling tidak menyakitkan.
“Wajar,” katanya akhirnya. “Tapi tidak semua yang kita inginkan bisa kita bawa sejauh itu.”
Aku menoleh, menunggu penjelasan lebih lanjut yang sebenarnya sudah kutakuti sejak lama. “Ada hal-hal yang tidak cukup diperjuangkan berdua,” lanjutnya. “Ada izin yang harus datang dari luar kita.”
Aku terdiam. Kata itu tidak ia ucapkan secara langsung, tetapi aku tahu apa yang ia maksud. Restu. Kata itu seketika menjadi gema yang memekakkan telinga. Aku mulai memahami bahwa ia hidup dengan batas-batas yang berbeda denganku. Bahwa baginya, melangkah jauh tanpa izin orang tua bukanlah sebuah bentuk perjuangan cinta, melainkan sebuah kedurhakaan yang ia hindari. Sementara aku, aku tumbuh dengan keyakinan bahwa niat baik cukup untuk membuka jalan. Di situlah letak retakan pertama dalam fondasi kami.
Di situlah kami mulai berjarak, meski masih duduk bersebelahan. Aku mencoba mengabaikan kegelisahan itu, meyakinkan diri bahwa waktu akan mengubah hati orang-orang di sekitar kami. Namun hari demi hari justru membuat batas itu semakin jelas. Ia tidak menjanjikan apa pun bukan karena tidak peduli, melainkan karena ia tidak ingin memberiku harapan yang akan menjadi racun di kemudian hari.
Setiap kali aku menatapnya, aku melihat sebuah perpisahan yang sedang mengantre untuk terjadi. Aku mulai merasa seperti tamu di hidupnya, yang hanya diizinkan tinggal di ruang tamu. Namun tak pernah diperkenankan menyentuh inti dari rumahnya.
Suatu sore, di bawah langit yang berwarna jingga pucat, aku memberanikan diri. Aku lelah dengan keadaan “setengah” ini.
“Kalau aku memilih pergi,” tanyaku, suaraku bergetar meski berusaha terdengar biasa, “apa kamu akan menahanku?”
Hening yang tercipta setelah itu terasa lebih panjang dari perjalanan hidupku.
“Aku tidak ingin menahanmu di tempat yang belum tentu bisa kamu tuju,” jawabnya akhirnya, “aku tidak ingin kamu menggantungkan hidupmu pada sesuatu yang belum pasti. Aku mencintaimu, tapi aku tidak bisa memberikan kepastian yang kunci pintunya bukan aku yang pegang.”
Jawaban itu adalah kejujuran yang paling kejam. Sejak hari itu, aku hidup dalam keadaan setengah-setengah. Masih bersama, tetapi jiwaku sudah mulai berkemas. Di luar, hidup tampak normal. Di dalam, aku bergulat dengan pilihan: bertahan dalam ketidakpastian yang melelahkan, atau pergi membawa luka yang belum kering.
Aku mulai menyadari bahwa tidak semua cinta diuji oleh jarak geografis atau kehadiran orang ketiga. Sebagian cinta diuji oleh takdir yang tidak memberikan celah bagi restu. Dan ujian itu jauh lebih sunyi, jauh lebih melelahkan karena kita harus melawan sesuatu yang kita hormati: prinsip dan keluarga.
Kini, aku berdiri di ambang pintu itu. Aku mulai belajar bahwa mencintai tidak harus selalu memiliki, dan melepaskan bukan berarti kalah. Terkadang, melepaskan adalah cara tertinggi untuk menghargai diri sendiri dan orang lain. Di akhir perjalanan yang melelahkan ini, aku kembali kepada satu-satunya pemilik ketetapan. Aku menyadari bahwa mungkin selama ini aku terlalu sibuk mengejar restu bumi, hingga lupa bahwa hati manusia ada di antara jari-jemari Sang Maha Membolak-balikkan Hati. Aku teringat sebuah ayat yang menjadi penyejuk di tengah bara kegelisahan ini:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Mungkin kehilanganku hari ini adalah cara Allah menyelamatkanku dari kesedihan yang lebih besar di masa depan. Aku memilih untuk melangkah pergi, bukan karena kakiku kuat, tetapi karena aku percaya pada janji-Nya:
“Barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang jauh lebih baik.” (HR. Ahmad)
Aku melepaskanmu, bukan untuk kehilanganmu, tapi untuk mengembalikanmu kepada pemilikmu yang sebenarnya. Jika memang kita adalah bagian dari takdir yang tertulis di Lauh Mahfuzh, maka tidak ada tembok restu di dunia ini yang sanggup menghalangi. Namun jika tidak, biarlah perpisahan ini menjadi ibadahku untuk patuh pada ketetapan Nya.
Biarkan aku pergi, untuk menemukan jalan pulang yang lebih diridhai.
Penulis: Syariif Ahmad Ja’far Shoodiq
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Artikel (Cerpen) Biarkan Aku Pergi pertama kali tampil pada Pustaka.