Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Saat ini kita hidup di zaman yang disebut sebagai era digital. Zaman yang memungkinkan setiap orang dapat menggenggam dunia. Hal tersebut dikarenakan jarak yang jauh menjadi terasa dekat dan informasi yang dahulu sulit didapat kini bisa dalam sentuhan jari. Namun, di balik kemudahan ini, tersimpan fitnah (ujian) yang luar biasa besar. Jika dahulu para ulama banyak mengingatkan tentang bahaya lisan, maka hari ini keselamatan kita tidak lagi hanya ditentukan oleh apa yang keluar dari mulut, melainkan juga oleh apa yang diketik oleh jari-jemari kita di layar ponsel. Al imam al Ghozali pernah mengatakan di dalam kitabnya Bidayatul Hidayah sebuah kalimat yang sangat dalam maknanya:
القَلَمُ أَحَدُ اللِّسَانَينِ
“Pena adalah salah satu dari 2 lisan.”
Maksudnya, kebaikan ataupun keburukan yang disampaikan oleh seseorang tidak hanya keluar melalui lisannya, tetapi juga bisa disampaikan melalui tulisannya. Pada masa beliau, pena adalah alat untuk menulis di atas kertas. Tetapi pada masa kita, pena itu telah berubah bentuk menjadi papan ketik di ponsel dan layar sentuh yang setiap hari kita gunakan. Maka sebagaimana lisan bisa menjadi sebab kebaikan yang besar atau keburukan yang besar, demikian pula tulisan kita. Dikatakan bahwa :
اللِّسَانُ جِرْمُهَا صَغِير وَجُرْمُهَا كَبِير
“Lisan itu bentuknya kecil namun dampak darinya sangatlah besar”
Ia tidak lebih dari segumpal daging kecil di dalam mulut, namun dengannya seseorang bisa masuk surga atau terjerumus ke dalam neraka. Begitu pula jari-jemari kita. Ukurannya hanya beberapa senti, tetapi dampaknya bisa menjangkau ribuan bahkan jutaan orang. Satu tulisan bisa menjadi sebab seseorang mendapatkan hidayah, satu tulisan pula bisa menjadi sebab tersebarnya fitnah, kebencian, dan permusuhan. Karena itu, di era digital ini, menjaga diri tidak cukup hanya dengan menahan ucapan. Kita juga harus belajar menahan ketikan. Sebab setiap huruf yang kita tulis, setiap kalimat yang kita unggah, tidak hanya dibaca oleh manusia, tetapi juga tercatat di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam firman-Nya Allah Subhanahu wa Ta’ala berpesan kepada kita:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَولٍ إلاَّ لَدَيهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ (ق : ١٨)
“Tidaklah seseorang mengucapkan satu perkataan pun kecuali di kanan kirinya ada 2 malaikat yang mengawasi dan mencatat”. (QS. Qof : 18)
Maka setiap kata yang keluar dari lisan kita tidak pernah benar-benar hilang. Ia direkam, ia disimpan. Di kanan dan kiri kita ada dua malaikat yang tidak pernah lalai, tidak pernah salah tulis, dan tidak pernah tertukar. Kadang manusia lupa. Kadang orang yang kita sakiti sudah memaafkan. Kadang kita sendiri tidak lagi ingat apa yang pernah kita ucapkan. Tetapi catatan di hadapan Allah tidak pernah terhapus
Hendaknya kita belajar dari ayat ini. Jika ucapan saja begitu ketat penjagaannya, begitu teliti pencatatannya, lalu bagaimana dengan tulisan kita di media sosial? Bukankah tulisan itu lebih jelas, lebih nyata, dan lebih lama bertahannya? Ucapan mungkin didengar oleh beberapa orang lalu dilupakan. Tetapi tulisan bisa disimpan, di-screenshot, dibagikan kembali, bahkan bertahun-tahun kemudian masih bisa muncul dan dibaca ulang. Inilah yang disebut dengan jejak digital. Sesuatu yang sudah direkam hampir mustahil untuk benar-benar dihapus. Kita mungkin bisa menghapus sebuah postingan. Kita mungkin bisa menghapus akun. Tetapi kita tidak pernah benar-benar tahu siapa saja yang sudah menyimpan, menyalin, atau menyebarkan kembali tulisan tersebut. Dan yang lebih penting dari itu semua, kita tidak pernah bisa menghapus catatan yang sudah tertulis di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Beberapa prinsip yang harus kita miliki di zaman ini dalam bersosial media:
Pertama, jangan menjadi orang yang ikut-ikutan. Apa yang viral, apa yang sedang ramai tidak harus selalu menjadi tolok ukur. Manfaatkan sosial media dengan bijak untuk belajar dan mengakses informasi yang bermanfaat. Tapi jangan hanya sekadar ikut-ikutan. Jangan hanya scroll tanpa tujuan, tanpa nilai, tanpa manfaat. Apalagi jika media sosial digunakan untuk hal-hal yang tidak ada faedahnya, bahkan berdampak keburukan. Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:
لا تَكُونُوا إِمَّعَةً، تَقُولُونَ: إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا، وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا، وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ، إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا، وَإِنْ أَسَاءُوا فَلا تَظْلِمُوا (رواه الترمذي)
“Janganlah kalian menjadi orang yang ikut-ikutan, yang berkata: ‘Jika manusia berbuat baik, kami ikut berbuat baik; dan jika mereka berbuat dzalim, kami ikut berbuat dzalim.’ Tetapi mantapkanlah diri kalian: jika manusia berbuat baik, hendaklah kalian tetap berbuat baik; dan jika mereka berbuat buruk, maka janganlah kalian berbuat dzalim.’” (HR. Tirmidzi)
Kalau ada orang berbuat baik, kita pun berbuat baik, bukan karena fomo atau ingin terlihat sama dengan yang lain, tapi karena memang kita ingin mencari pahala dari Allah Ta’ala. Sebab, ketika ada orang berbuat keburukan, apa alasannya kita ikut-ikutan dalam keburukan tersebut?
Kedua, kita hendaknya menjaga komentar di sosial media. Jika memang harus berkomentar, berkomentarlah dengan bijak. Jangan menyakiti perasaan siapa pun. Jangan merendahkan, menghina, dan mencela. Dalam sebuah hadits disebutkan:
وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ عَلَى وُجُوهِهِمْ فِي النَّارِ، إِلا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ (رواه ابن ماجه)
“Tidaklah ada yang menjerumuskan manusia ke dalam api neraka kecuali hasil dari lisan-lisan mereka.” (HR. Ibnu Majah)
Di zaman ini, lisan itu bukan hanya yang terucap, tapi juga yang tertulis. Bisa saja seseorang terjerumus dalam lembah dosa, bahkan kelak menyeretnya ke dalam api neraka hanya karena komentar yang pernah ia tulis di media sosial.
Ketiga, bijaklah dalam menyaring berita. Jangan semua hal kita terima mentah-mentah. Nabi Sallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ (رواه مسلم)
“Cukuplah seseorang dianggap sebagai pendusta ketika ia mudah menceritakan semua yang ia dengar.” (HR. Muslim)
Maka ketika kita melihat atau membaca sebuah berita, hendaknya kita bijak. Jangan langsung percaya. Jangan langsung menyebarkan. Terlebih lagi jika itu menyangkut aib seseorang. Apa perlunya kita menyebarkan kembali aib tersebut? Jika kita ikut menyebarkannya, kita pun berpotensi mendapatkan bagian dari dosanya
Mudah-mudahan Allah menjaga hati, lisan, dan tulisan kita. Semoga apa yang kita lakukan di era ini menjadi amal yang bermanfaat, bukan justru menjadi beban yang harus kita tanggung akibat buruknya setelah kita meninggal dunia nanti.
Penulis: Maulid Johansyah, M.Pd.
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Artikel Menjaga Lisan di Era Digital pertama kali tampil pada Pustaka.
Identitas Buku
Judul : Fiqih Bepergian Solusi Shalat di Perjalanan dan Saat Macet
Penulis : Buya Yahya
Penerbit : Pustaka Al-Bahjah
Tahun Terbit : 2015
Tebal : 59 Halaman
Dalam ceramahnya, Buya Yahya sering mengatakan, bahwa beribadah itu jangan dibuat susah. Justru harus dipermudah. Seperti halnya dalam melakukan shalat 5 waktu sebagai kewajiban utama yang merupakan tiang agama dan pondasi keimanan seorang Muslim. Sebab, dosanya teramat besar jika ditinggalkan tanpa udzur. Termasuk dalam keadaan macet di perjalanan sekali pun. Akan tetapi, masih banyak yang belum mengetahui ilmu tentang shalat 5 waktu yang dapat dilakukan dalam kondisi tersebut. Kebanyakan hanya mengetahui bahwa shalat mesti dalam keadaan normal, di tempat yang layak dan bersih, serta kondisi air yang tercukupi. Betapa banyak aktivitas harian di sekitar kita yang membuat seseorang meninggalkan shalat karena kesalahan pemahaman tersebut, terutama mereka yang mengharuskan bekerja di dalam perjalanan tanpa kenal waktu. Termasuk siapa pun yang memiliki hajat bepergian atau menjadi musafir sering kali harus meninggalkan shalatnya karena tidak mengetahui ilmunya.
Selain itu, saat berada di perjalanan atau menjadi musafir sering kali muncul keraguan apakah pakaian yang digunakan suci atau tidak karena kotor. Apakah shalatnya sah atau tidak jika tidak menghadap kiblat dan lainnya. Keraguan-keraguan seperti itu yang membuat akhirnya seorang hamba malah tidak melaksanakan shalat.
Dalam buku yang berjudul Fiqih Bepergian Solusi Shalat di Perjalanan dan Saat Macet karya Buya Yahya terdapat panduan shalat sederhana dan praktis yang bisa dijalankan umat Rasulullah Salallahu ‘Alahi Wasalam. Spesifiknya yakni ketika kita sedang berada di perjalanan atau saat macet, sehingga memudahkan umat untuk tetap bisa menunaikan shalat 5 waktu. Di dalamnya terdapat beberapa panduan sederhana dengan bahasa yang mudah dipahami umat.
Buya Yahya menyusun buku ini berdasarkan beberapa referensi dari jumhur ulama, khususnya pendapat dari madzhab Imam Syafi’i yang digunakan mayoritas umat Islam di Indonesia. Buku ini memuat beberapa bab di antaranya:
kewajiban seorang Muslim yang mukalaf untuk shalat,
beberapa kondisi orang yang boleh meninggalkan shalat,
tata cara melaksanakan shalat jama’ dan qoshor,
syarat diperbolehkannya menjama’ dan mengqoshor shalat saat di tol atau ketika jalanan macet,
macam-macam keadaan saat berada di perjalanan/musafir, dan
tata cara shalat di atas kendaraan.
Buya Yahya menjelaskannya dengan bahasa sederhana dan praktis. Walaupun ketebalan bukunya tipis, tetapi kualitas kertasnya kuat dan tidak mudah sobek. Adapun kekurangannya terdapat pada minimnya contoh yang disajikan. Hal tersebut mungkin dikarenakan buku tersebut sengaja disusun agar tidak terlalu tebal.
Setelah membaca buku tersebut, kaum muslimin akan mendapatkan pengetahuan sehingga tidak ragu lagi melaksanakan shalat meski saat di kendaraan. Seperti halnya hasil reviu penulis yang didapatkan setelah membaca buku tersebut di antaranya adalah sebagai berikut.
Shalat bisa dilakukan dengan posisi duduk di kendaraan dengan gerakan (secukupnya) seperti orang shalat saat kondisi normal atau dengan isyarat jika kondisinya berdesakan (dengan catatan mengqodhonya saat kondisi normal).
Shalat bisa dilakukan mengikuti arah kendaraan saat berjalan tanpa harus menghadap kiblat (dengan catatan membaca niat menghadap kiblat).
Shalat jama’ takhir harus niat mengakhirkan shalat pada waktu shalat yang pertama.
Wudhu bisa dilakukan dengan air secukupnya. Misal hanya menggunakan air mineral gelas. Caranya cukup membasuh dan mengusap bagian anggota wudhu yang wajib saja dalam rukun wudhu seperti (niat, membasuh wajah, membasuh tangan, mengusap rambut di kepala, dan membasuh kaki) dengan 1 kali basuhan.
Tayamum dapat dilakukan saat di dalam kendaraan ketika sama sekali tidak menemukan air.
Meringkas shalat/qoshor yang berjumlah 4 rakaat menjadi 2 rakaat lalu digabungkan menjadi 4 rakaat seperti pada shalat Dzuhur dan Ashar. Bisa dilaksanakan di waktu Dzuhur (jama’ taqdim) dan di waktu Ashar (jama’ ta’khir).
Diperbolehkan melakukan shalat jama’ dan qoshor jika jarak tempuh perjalanan mencapai 84 KM.
Diperbolehkan melakukan shalat jama’ dan qoshor ketika sudah melewati batas desa.
Oleh karena itu, buku ini sangat recommended bagi umat, khususnya bagi yang sering berpergian seperti para supir atau penumpang, sehingga tidak meninggalkan ibadah shalat wajib 5 waktu, baik perjalanan jauh atau perjalanan macet. Pesan Buku Fiqih Bepergian Solusi Shalat di Perjalanan dan Saat Macet karya Buya Yahya melalui link berikut.
Penulis: Ivan Arief Rachman, S.Pd.
Penyunting: Idan Sahid
Artikel Meski Macet dan Sedang di Perjalanan, Shalat Bisa Dilakukan di dalam Mobil pertama kali tampil pada Pustaka.
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Islam yang asing merupakan sebuah keniscayaan yang terjadi pada abad ke-21, abad di mana generasi Z, Alfa, dan Beta lahir. Generasi ini lahir pada masa teknologi berkembang pesat, sehingga untuk mendapatkan pengetahuan seperti halnya agama bisa dilakukan dari gawai mereka sendiri. Tanpa perlu susah-susah datang ke pengajian atau sebuah majelis. Namun kondisi itu memiliki risiko apabila orang tua tidak mengajari ilmu agama yang cukup dan mengarahkannya kepada guru agama.
Hal tersebut dapat ditilik dari fakta bahwa sudah sangat jarang sekali kita melihat generasi muda sekarang pergi ke sebuah majelis ilmu. Maka tidak heran, jika didikan ilmu agama yang sangat kurang mengakibatkan lemah dan keroposnya iman serta Islam pada generasi sekarang. Mereka bisa mengakses semua ilmu agama, bahkan dari semua golongan sekalipun─ golongan yang bertentangan dengan akidahnya. Hal itu diperparah dengan orang tuanya yang juga tidak faham dengan ilmu agama, membuat anaknya salah dalam beragama dan akhirnya salah juga memilih guru yang benar. Kondisi tersebut membuat generasi ini menjadi seperti asing dengan agamanya sendiri, jauh dari Tuhan dan ragu dengan keyakinannya. Barangkali memang sudah menjadi sebuah fakta bahwa hal tersebut dampak dari ketidakbijakan menghadapi perkembangan teknologi seperti gawai.
Sebagai pembanding, saya ambil contoh generasi sebelumnya yaitu generasi Y/Milenial yang terlahir pada rentang waktu 1981-1996. Tahun itu gawai yang dianggap tercanggih adalah Nokia, Motorolla, Ericsson, dan Siemens. Itupun hanya orang-orang tertentu yang benar-benar mampu dan mempunyai banyak uang saja yang dapat memilikinya. Artinya, sangat sedikit sekali orang yang mempunyai gawai. Para remaja kala itu masih banyak bermain permainan tradisional bersama, shalat ke masjid bersama, mengaji bersama, dan banyak kegiatan lainnya yang dilakukan secara bersama, terutama dalam aktivitas peribadahan.
Pada zaman itu, masih banyak seorang anak belajar mengaji Al-Qur’an yang dimulai dengan pembacaan Iqro oleh orang tuanya langsung secara talaqqi. Jika salah melafalkan huruf, orang tuanya akan menghukumnya dan memberi peringatan agar tidak mengulangi kesalahan. Anak mempunyai rasa tanggung jawab agar tidak salah kembali, memiliki jiwa kedisiplinan yang kuat karena takut akan hukuman ibunya lalu dia pun bekerja keras lebih giat belajar mengaji.
Contoh lainnya, saat menjelang shalat berjamaah Magrib, para remaja berbondong-bondong pergi ke masjid/mushala/surau/tajug. Kebersamaan, kekeluargaan, dan kebahagiaan masih sangat bisa dirasakan walaupun tanpa gawai. Bahkan kesenangannya membekas melebihi daripada bermain gawai. Sudah sangat terasa, bahwa seorang teman yang menggunakan gawai kala itu cenderung memiliki rasa simpati dan empati yang kurang terhadap teman lainnya. Rasa peka terhadap sekitar juga menurun, serta jiwa sosial yang lambat laun hilang karena faktor gawai. Maka menjadi tidak heran jika saat ini kondisi tersebut─kecenderungan dampak dari penggunaan gawai─pun turut dirasakan.
Selain itu, tatkala memasuki bulan Ramadan seperti sekarang, suasananya sungguh berbeda. Dahulu, Ramadan adalah bulan penuh keceriaan. Sebab di dalamnya banyak kegiatan yang bisa dilakukan. Salah satunya aktivitas setelah shalat Subuh, anak-anak diwajibkan mencatat kajian Subuh/kultum (kuliah tujuh menit) melalui sebuah buku yang diberikan oleh sekolah. Bagi siswa yang tidak mencatat dan mendapatkan tanda tangan Kyai/Ustadz maka akan mendapat sanksi dari sekolah. Dengan penuh kekhusyukan dan tertib anak-anak mendengarkan ceramah dari ustadz pengisi. Meski terkesan sebagai tugas belaka, hal tersebut ampuh membuat seseorang menjadi tahu akan ilmu agama.
Mari kita refleksikan kondisi ini. Di tengah umat Islam sebagai umat terbesar di dunia, akankah kembali ke masa di mana Nabi Muhammad Salallahu ‘Alahi Wasalam berdakwah dianggap asing? Terdapat sebuah hadis Rasulullah Salallahu ‘Alahi Wasalam tentang kondisi umat Islam di akhir zaman yang diibaratkan seperti buih di lautan. Artinya, berjumlah banyak namun tidak memiliki kualitas dan kekuatan, sehingga lawan/musuh tidak segan untuk menyerang dari sudut mana pun. Tentu pekerjaan rumah ini adalah tugas bersama. Langkah awal yang perlu dilakukan dari diri sendiri adalah mengenalkan ilmu agama kepada keluarga kita sendiri (orang tua, suami/istri, anak/menantu, cucu, dan lainnya). Selanjutnya, orang-orang yang berada di sekitar kita (tetangga, teman, rekan kerja, dan lainnya).
Tayangan yang ada saat ini di media TV khususnya lebih diperbanyak muatan agamanya. Jangan menayangkan hiburan belaka tanpa dibalut dengan pendidikan agama yang hanya akan semakin menjerumuskan generasi ini jauh dengan agama. Selain itu, perlu adanya peran pemerintah selaku pemangku kebijakan. Aturan yang terikat pun perlu dibuat oleh pemerintah dalam hal ini Presiden sebagai pemegang otoritas tertinggi di negara ini. Seperti mengaji setelah Magrib yang dapat dimasukkan ke dalam aturan pembiasaan siswa di bawah naungan Kementerian Pendidikan. Aturan pembatasan umur remaja yang boleh menggunakan gawai, dan aturan-aturan lainnya yang dapat mengatasi degradasi keasingan generasi saat ini pada agama. Semoga kita semua diberikan kekuatan dalam menghadapi segala ujian, serta dimudahkan dalam menjalankan segala kebaikan. Amin.
Penulis: Ivan Arief Rachman, S.Pd.
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Artikel Islam yang Asing pertama kali tampil pada Pustaka.
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Puasa di bulan Ramadan adalah kewajiban bagi setiap Muslim yang mampu melaksanakannya. Namun, Islam juga memberikan keringanan (rukhsah) bagi orang yang sedang sakit, terutama jika puasa dapat memperburuk kondisi kesehatan. Akan tetapi yang sering kali menjadi pertanyaan di kalangan masyarakat, apakah cuci darah dapat membatalkan puasa?
Dalam kajian fiqih praktis, hal-hal yang membatalkan puasa salah satunya adalah memasukkan sesuatu ke dalam rongga tubuh melalui lubang utama (mulut, hidung, telinga, kemaluan, dan dubur. Pada prosedur cuci darah, darah dikeluarkan dari tubuh, disaring melalui mesin, lalu dikembalikan lagi melalui pembuluh darah (bukan melalui lima lubang utama tersebut). Pertanyaan di atas kiranya sudah cukup terjawab. Namun muncul pertanyaan lain, apakah orang yang harus cuci darah tetap wajib puasa? Ini poin yang lebih penting. Dalam Islam orang sakit boleh tidak puasa. Bahkan dalam kondisi tertentu, tidak puasa bisa lebih utama jika puasa membahayakan kesehatan.
Dijelaskan oleh Imam Nawawi di dalam kitab Al-Majmu’ bab puasa:
الْمَرِيضُ الْعَاجِزُ عَنِ الصَّوْمِ لِمَرَضٍ يُرْجَى زَوَالُهُ لَا يَلْزَمُهُ الصَّوْمُ فِي الْحَالِ … وَشَرْطُ إِبَاحَةِ الْفِطْرِ أَنْ تَلْحَقَهُ بِالصَّوْمِ مَشَقَّةٌ يَشُقُّ احْتِمَالُهَا
“Orang sakit yang tidak mampu berpuasa karena sakit yang diharapkan sembuh, maka tidak wajib baginya berpuasa saat itu. Syarat bolehnya berbuka adalah jika puasa menyebabkan kesulitan yang berat untuk ditanggung.”
Islam tidak memaksakan umatnya untuk ibadah hingga membahayakan diri. Apabila dokter menyarankan tidak puasa, maka mengikuti dokter termasuk menjaga amanah kesehatan. Sebab, memaksakan puasa saat membahayakan tubuh justru bisa berdosa karena menyia-nyiakan kesehatan. Kemudian muncul pertanyaan baru, jika tidak puasa, apakah harus qadha atau fidyah? Hal tersebut harus merujuk ke beberapa kondisi. Jika sakitnya ada harapan sembuh maka wajib mengqadha puasa yang ditinggalkannya ketika sudah sehat. Namun jika tidak ada harapan sembuh (penyakit kronis permanen), tidak wajib qadha dan menggantinya dengan fidyah (memberi makan orang miskin setiap hari puasa yang ditinggalkan). Allah ta’ala berfirman didalam QS. Al-Baqarah: 184
وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ…
“…Dan bagi yang berat menjalankannya wajib membayar fidyah memberi makan orang miskin.” (QS Al-Baqarah: 184)
Dari sini dapat dipahami bahwa syariat Islam sangat menjunjung tinggi kemaslahatan dan keselamatan hamba-Nya. Penjelasan para ulama seperti Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab menegaskan bahwa rukhsah bagi orang sakit adalah bentuk kasih sayang agama, bukan bentuk kelemahan dalam ibadah. Demikian pula petunjuk dalam Al-Qur’an menunjukkan bahwa Allah tidak menghendaki kesulitan bagi hamba-Nya, melainkan kemudahan dan kebaikan.
Maka bagi pasien cuci darah, keputusan berpuasa atau tidak hendaknya didasarkan pada pertimbangan medis yang aman serta tuntunan fiqih yang benar. Dengan begitu, seorang Muslim tetap bisa menjaga ketaatan kepada Allah sekaligus menjaga amanah kesehatan yang telah diberikan. Semoga Allah memberi kemudahan dalam beribadah, menerima amal ibadah kita, dan memberikan kesembuhan serta kekuatan lahir batin
Referensi: Youtube Al-Bahjah TV
Penulis: Solahudin Al Ayyubi, S.Sos.
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Artikel Apakah Cuci Darah Membatalkan Puasa? pertama kali tampil pada Pustaka.
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Lingkungan yang baik dan nyaman merupakan tempat yang diidamkan oleh setiap orang. Apalagi di tempat tersebut sambil melakukan aktivitas harian seperti bekerja, belajar, dan lainnya. Lingkungan yang nyaman tersebut bisa tercipta karena terdapat ketenangan di dalam hati. Dan memiliki ketenangan hati bisa didapatkan dari sebuah lingkungan yang disebut pondok pesantren.
Pondok pesantren merupakan tempat santri/wasiat Nabi menimba ilmu dunia untuk bekal akhirat. Siang dan malam mereka senantiasa mempelajari dan mengamalkan ilmu yang dibawa serta diajarkan oleh Baginda Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasalam. Di dalamnya penuh keberkahan dari para santri yang mengaji kitab dan membaca/murajaah Al-Qur’an. Oleh karena itu, orang-orang yang bekerja/berjuang di dalamnya tentulah sangatlah beruntung. Sebab pekerjaan yang dilakukannya bernilai pahala. Tujuannya hanya semata mengharap ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala dan syafaat Baginda Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasalam. Setiap kebaikan yang dilakukan menjadi pahala jariyah yang terus mengalir untuk dirinya, kedua orang tuanya, dan keturunannya.
Selain itu, secara langsung seorang pejuang bisa ikut mengaji kepada seorang Murobbi (guru). Mendapat pemahaman dari guru yang ilmunya bersanad dari guru-guru sebelumnya hingga sampai kepada Baginda Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasalam. Kekayaan ilmu yang dimiliki oleh seorang mursyid diyakini sebagai jalan keselamatan (wasilah) bagi murid-muridnya yang ikhlas dan ridha dalam berjuang. Ilmu (agama) itu jugalah yang diturunkan kepada para santri untuk diteladani. Para pejuang yang mengerti tentang arti Syafaat akan berlomba-lomba mengabdi semaksimal mungkin kepada gurunya dan para santri.
Terdapat sebuah kutipan Mutiara Hikmah dari Guru Mulia Buya Yahya yang berbunyi, “Jangan Seperti Ayam yang Mati di Lumbung Padi”. Kutipan tersebut memiliki makna yang sangat dalam sekaligus menjadi peringatan kepada orang-orang yang berada di sebuah lingkungan yang serba berkecukupan ilmu. Bagaimana tidak, seseorang yang berada di lingkungan pesantren akan menerima limpahan ilmu dari seorang mursyid. Tentunya dengan catatan adanya niat yang lurus dan semangat dalam mendapatkan ilmu tersebut. Sebaliknya, istilah “Ayam Mati di Lumbung Padi” akan dialami oleh seseorang (yang menderita dan merugi,) karena rasa malas, tidak bersyukur, atau tidak tahu cara memanfaatkan kondisi. Padahal di tempat tersebut ia sedang berada di sebuah lumbung ilmu dan lumbung kebaikan.
Seorang pejuang hendaknya mengambil kesempatan sebanyak mungkin dari tempat mereka mencari nafkah dan mendapatkan keberkahan dari gurunya dengan cara giat dalam menghadiri kajian/majelis gurunya. Berkhidmah dengan maksimal kepada para santri, baik dalam bentuk transfer ilmu dan juga suri teladan dalam bentuk tindak tutur yang baik. Jangan sampai seorang pejuang menjadi “Ayam Mati di Lumbung Padi”. Berada di tempat yang penuh dengan keberkahan. Namun tidak bisa mengambil kesempatan karena rasa ego, angkuh, malas, atau sombong yang ada di dalam hatinya.
Oleh karena itu, segala kekotoran hati harus segera dibersihkan dalam diri. Berada di lingkungan pesantren seharusnya mendapat pahala dan ridha Allah, bukan mendapat dosa. Ambil kesempatan berkhidmah kepada guru dan kepada santri dengan maksimal dengan penuh keyakinan, bahwa suatu saat akan tiba hari pembalasan dan penghitungan amal, kita akan mendapatkan balasan dari kebaikan yang kita berikan. Semoga Allah mudahkan kita dalam melakukan amal jariyah yang kelak mengalir ke akhirat. Amin.
Penulis: Ivan Arief Rachman, S.Pd.
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Artikel Jangan Seperti Ayam yang Mati di Lumbung Padi pertama kali tampil pada Pustaka.
CIREBON – Selasa (24/2/2026), siswa SMK Wahidin jalani Pesantren Ramadhan guna menyerap ilmu tentang adab dan karya digital bersama Buya Yahya dan Asatidz Al-Bahjah.
Ratusan siswa kelas XI secara resmi memulai rangkaian kegiatan pembinaan spiritual yang dijadwalkan berlangsung hingga 26 Februari mendatang.
Kehadiran para pelajar ini turut didampingi langsung oleh Kepala Sekolah SMK Wahidin, menandai sinergi yang kuat dalam upaya membangun karakter generasi muda di bulan suci.
Dalam sesi pembekalan yang berlangsung khidmat, Buya Yahya menitikberatkan pesannya pada fondasi utama kehidupan, yakni adab kepada orang tua.
Beliau mengingatkan para pelajar bahwa bakti dan rasa hormat harus tetap dijaga secara tulus meski tidak sedang bertatap muka.
Menjaga etika saat berkomunikasi melalui telepon menjadi salah satu contoh nyata yang ditekankan, karena kebahagiaan sejati seorang anak sangat bergantung pada ridha dan baktinya kepada ayah dan ibu.
Lebih dari sekadar nasihat spiritual, para peserta didorong untuk menjadi generasi melek digital yang produktif.
Daripada sekadar menjadi penikmat arus informasi, pelajar diajak menciptakan karya positif yang membawa manfaat luas, baik berupa konten edukatif, karya tulis, maupun lagu.
Sejalan dengan semangat ini, Buya Yahya secara terbuka menyambut lulusan SMK Wahidin yang ingin mengembangkan potensinya dan berjuang bersama di lingkungan Al-Bahjah sesuai dengan keahlian mereka masing-masing.
Selama tiga hari ke depan, para peserta akan mendalami materi agama yang aplikatif. Ustadz Muhammad Rosyad, S.Pd. membimbing materi fiqih praktis, sementara Ustadz Jumu’atul Khoir, B.Sc. fokus pada perbaikan bacaan Al-Qur’an melalui tahsin Al-Fatihah.
Selain itu, Ustadz Miftahul Arifin, B.Sc. turut memberikan pendalaman mengenai akidah dan etika.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata komitmen Al-Bahjah dalam melahirkan generasi yang seimbang antara kematangan spiritual dan keunggulan profesional.
Sebagai institusi yang terus bertransformasi, Al-Bahjah membuka ruang kolaborasi yang luas bagi talenta-talenta muda berbakat.
Sejalan dengan pesan Buya Yahya, Al-Bahjah mengundang para siswa yang memiliki integritas dan keahlian khusus untuk bergabung dalam barisan perjuangan dakwah setelah lulus nanti.
Melalui berbagai proyek strategis dan pengembangan ekosistem digital yang tengah berkembang di lingkungan pesantren, kami percaya bahwa setiap keahlian baik di bidang teknologi, media, maupun pendidikan dapat menjadi wasilah kebaikan yang berkesinambungan bagi masyarakat.
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di bulan Ramadan, setiap Muslim dianjurkan untuk lebih maksimal dan fokus beribadah, seperti shalat, membaca Al-Qur’an, dan berdzikir. Lalu muncul pertanyaan, apakah aktivitas duniawi seperti bermain media sosial dapat mengurangi pahala ibadah? Selama bermain medsos tersebut tidak melalaikan dari kewajiban dan tidak mengandung unsur haram, maka pada dasarnya diperbolehkan dan tidak mengurangi pahala puasanya selagi niat atau tujuannya baik. Rasulullah Salallahu ‘Alahi Wassalam bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya. Dan setiap orang mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bahkan seseorang yang membuka media sosial dan ditujukan untuk mendapatkan ilmu, motivasi ibadah, atau dakwah, maka itu bisa bernilai pahala. Namun jika isinya maksiat atau membuat lalai dari ibadah wajib, maka bisa mengurangi kualitas pahala, bahkan bisa menjadi dosa. Oleh karena itu, terdapat rambu-rambu dalam menggunakan media sosial seperti TikTok, Instagram, dan Facebook. Seorang Muslim hendaknya mampu memilih dan memilah konten yang dikonsumsi. Jangan sampai niat awal mencari kebaikan justru berubah menjadi kebiasaan melihat hal-hal yang melalaikan, membuka aurat, atau menghabiskan waktu tanpa manfaat. Karena waktu di bulan Ramadan adalah waktu yang sangat berharga dan setiap detiknya memiliki nilai pahala yang besar di sisi Allah.
Para ulama menjelaskan bahwa sesuatu yang mubah (boleh) bisa berubah hukumnya tergantung dampaknya. Jika media sosial membuat seseorang lalai dari shalat, mengurangi waktu membaca Al-Qur’an, membuat hati jauh dari dzikir, dan bahkan menyengaja membuka pintu maksiat, maka hal tersebut bisa mengurangi kualitas pahala puasa, walaupun puasanya tetap sah selama tidak melakukan hal yang membatalkan puasa secara syariat. Sebaliknya, jika media sosial digunakan untuk mendengar kajian agama, mendapat motivasi ibadah, menguatkan keimanan, maka hal tersebut justru bisa menjadi tambahan pahala, karena termasuk dalam menuntut ilmu dan mengingat Allah.
Pada bulan Ramadan, para ulama menganjurkan konsep tartibul aulawiyat (mendahulukan yang lebih utama), yaitu menjadikan ibadah pokok sebagai prioritas utama. Sedangkan hiburan atau aktivitas tambahan ditempatkan setelah kewajiban dan amalan utama terpenuhi. Cara praktis agar tetap aman menggunakan media sosial di Ramadan antara lain:
Niatkan untuk kebaikan dan ilmu.
Batasi waktu penggunaan.
Langsung skip konten yang tidak bermanfaat.
Follow akun dakwah yang jelas dan terpercaya.
Perbanyak waktu dengan ibadah utama dibanding scrolling.
Kesimpulannya, membuka media sosial tidak otomatis mengurangi pahala puasa. Yang memengaruhi adalah niat, isi konten, serta dampaknya terhadap ibadah kita. Jika digunakan untuk kebaikan, bisa bernilai pahala. Jika digunakan untuk hal yang melalaikan, bisa mengurangi kualitas pahala bahkan bisa menjadi dosa. Ramadan adalah momentum memperbaiki diri, jadikan aktivitas dunia sebagai jalan menuju kebaikan akhirat. Maka bijaklah dalam menggunakan media sosial, ambil manfaatnya, dan tinggalkan yang tidak berguna.
Referensi: Youtube Al-Bahjah TV
Penulis: Solahudin Al Ayyubi, S.Sos.
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Artikel Main Medsos ketika Puasa, Apakah Pahalanya Bisa Berkurang? pertama kali tampil pada Pustaka.
Cirebon – Buya Yahya bersamai 13 mahasiswa asing PDIH UNISSULA di Al-Bahjah Cirebon, Sabtu (21/2/26) guna sinergikan IPTEK dan akhlak mulia dalam diskusi Birrul Walidadain.
Lembaga Pengembangan Dakwah (LPD) Al-Bahjah Cirebon memperkuat posisinya sebagai mitra akademik internasional melalui agenda Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang diinisiasi oleh Program Doktor Ilmu Hukum (PDIH) Fakultas Hukum Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA).
Kegiatan yang berlangsung pada dilaksanakan pada Sabtu, 3 Ramadhan 1447 H / 21 Februari 2026 ini dihadiri oleh jajaran pimpinan tinggi akademisi:
Prof. Dr. H. Jawade Hafidz, S.H., M.H. (Dekan FH UNISSULA)
Dr. Ida Musofiana, S.H., M.H. (Sekretaris Prodi S1 Ilmu Hukum)
Prof. Dr. Anis Mashdurohatun, S.H., M.Hum. (Ketua PDIH)
Dr. Lathifah Hanim, S.H., M.Hum., M.KN. (Sekretaris PDIH)
Sebanyak kurang lebih 45 delegasi hadir dalam kegiatan ini, termasuk 13 mahasiswa asing yang berasal dari berbagai negara, di antaranya Gambia, Mesir, Yaman, Aljazair, Maroko, Yordania, Pakistan, Timor Leste, Palestina, Sudan, Sierra Leone, dan Malaysia.
Kehadiran peserta internasional tersebut semakin memperkaya suasana diskusi dan memperluas perspektif keilmuan yang berkembang.
Dari pihak Yayasan dan Lembaga Pendidikan Al-Bahjah, kegiatan ini turut dihadiri oleh Wakil Ketua Yayasan Bidang Pendidikan, Kepala Divisi Perguruan Tinggi, Kepala Divisi Pendidikan Formal Dikdasmen, segenap pimpinan unit pendidikan, serta keluarga besar LPD Al-Bahjah Cirebon.
Acara inti diisi dengan pemaparan materi oleh Pengasuh LPD Al-Bahjah, Buya Yahya, dengan tema “Membangun Karakter Birrul Walidain guna Pengembangan IPTEK dalam Kerangka Rahmatan lil ‘Alamin”.
Diskusi kemudian berkembang dinamis ketika para mahasiswa asing mengangkat isu Fikih Puasa dan praktik Rukyah Hilal di negara masing-masing.
Perbincangan mengenai metode penetapan awal Ramadan, perbedaan pendekatan rukyah dan hisab, serta dinamika ijtihad di berbagai kawasan dunia Islam berlangsung hangat dan ilmiah.
Dengan pendekatan fikih yang moderat dan argumentatif, Buya Yahya memberikan penjelasan komprehensif seraya menekankan pentingnya menjaga persatuan umat di tengah perbedaan pandangan.
Suasana dialog berlangsung penuh adab, mencerminkan tradisi keilmuan Islam yang menghargai khilafiyah.
Kegiatan ditutup dengan penyerahan cinderamata, foto bersama, serta buka puasa bersama dalam suasana kebersamaan dan ukhuwah.
Momentum ini menjadi wujud nyata sinergi antara pesantren dan perguruan tinggi dalam melahirkan generasi intelektual yang unggul dalam IPTEK sekaligus kokoh dalam akhlak dan nilai-nilai keislaman.
CIREBON – Suasana pagi di Aula Utama Al-Bahjah Cabang Cirebon 1 pada Sabtu, 4 Ramadan 1447 H (21 Februari 2026), terasa begitu hangat bersama Buya Yahya yang menguatkan penggunaan 2 bahasa.
Di tengah kekhusyukan bulan suci, para santri dan pengurus berkumpul bukan untuk memulai sesuatu yang asing, melainkan untuk memperkuat kembali tradisi lama yang menjadi identitas mereka: berkomunikasi dengan bahasa dunia.
Menghidupkan Kembali Suasana Percakapan
Pertemuan yang berlangsung sejak pukul 10:00 WIB ini menjadi momen penting bagi seluruh warga pesantren. Priyanto, perwakilan Tim Media Humas setempat, menceritakan bagaimana pesan dari Buya Yahya mengalir, mengajak semua orang untuk tidak sekadar belajar bahasa di dalam kelas, tapi menjadikannya nafas dalam obrolan sehari-hari.
Instruksi Buya Yahya cukup lugas namun penuh makna. Beliau mengajak para santri, guru (asatidz), hingga pengurus asrama (murokib) untuk mulai membiasakan diri menggunakan Bahasa Arab dan Inggris dalam interaksi harian.
Mulai hari ini hingga menjelang kepulangan nanti, lingkungan pondok diharapkan riuh dengan sapaan dan diskusi dalam dua bahasa tersebut, menanggalkan sementara penggunaan bahasa daerah agar lidah para santri semakin terbiasa.
Mengapa Harus Arab dan Inggris?
Bagi Buya Yahya, penguasaan bahasa adalah jembatan hati dan akal. Beliau menekankan bahwa Bahasa Arab adalah wujud cinta kepada Al-Quran dan Rasulullah SAW, sebuah kunci untuk menyelami samudera ilmu agama langsung dari sumber aslinya.
Sementara itu, Bahasa Inggris dipandang sebagai alat perjuangan. Agar pesan dakwah yang menyejukkan dari Al-Bahjah bisa menyapa masyarakat dunia dan para santri mampu menyerap berbagai ilmu pengetahuan internasional, penguasaan bahasa universal ini menjadi mutlak diperlukan.
Pendampingan Profesional di Sekolah
Langkah penguatan ini tidak dibiarkan berjalan tanpa arah. Hegar Hakimantieq, M.Pd., yang sehari-hari memimpin SMA Islam Qur’ani Al-Bahjah Cirebon, turun langsung mengawal jalannya program.
Dengan latar belakangnya sebagai akademisi, Dosen di STAI Al-Bahjah sekaligus praktisi pendidikan melalui Deva Edu Center, Ustadz Hegar memastikan bahwa di sekolah formal, praktik berbahasa ini berjalan secara alami dan terukur.
Beliau meyakini bahwa bahasa adalah jendela dunia yang akan membuat santri lebih percaya diri saat melangkah ke kancah global tanpa kehilangan jati diri sebagai seorang muslim yang berakhlak mulia.
Harapan Besar
Penyuluhan yang berakhir menjelang tengah hari ini meninggalkan semangat baru.
Dokumentasi kegiatan menunjukkan antusiasme santri di bawah backdrop bertema “Arabic and English Are The Key to The Future”, mencerminkan kesiapan mental kader dakwah masa depan.
Dengan bimbingan langsung dari Buya Yahya dan pengawalan akademis dari para pakar seperti Ustadz Hegar Hakimantieq, Sekolah Formal Pondok Pesantren Al-Bahjah Cirebon 1 optimis dapat mencetak generasi yang tidak hanya shalih secara personal, tetapi juga kompetitif secara global.
Berikut link jadwal imsakiyah Ramadan 1447 H. untuk Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon:
Imsakiyah Ramadan 1447 H.
Bagi sahabat yang bertugas menjadi muraqqi shalat Tarawih, bisa mengklik link berikut:
Bacaan Muroqqi Shalat Tarawih
Dapatkan buku-buku kajian Ramadan dan karya Buya Yahya lainnya melalui link berikut ini: Buku-buku karya Buya Yahya
Artikel Jadwal Imsakiyah Ramadan 1447 dan Bacaan Muraqqi Tarawih pertama kali tampil pada Pustaka.
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Puasa Ramadan merupakan salah satu ibadah paling agung dalam Islam. Ia bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi ibadah yang sarat dengan nilai keimanan, keikhlasan, dan pengharapan pahala dari Allah. Keutamaannya sangat banyak, hingga Rasulullah Salallahu ‘Alahi Wassalam menjadikannya sebab utama diampuninya dosa-dosa seorang hamba dan diraihnya kemuliaan Lailatul Qadar. Rasulullah Rasulullah Salallahu ‘Alahi Wassalam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (رواه البخارى ومسلم)
“Barang siapa berpuasa di bulan Ramadan dengan iman dan ihtisab (mengharap pahala), maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Makna Imanan itu meyakini bahwa puasa adalah perintah Allah, dilakukan karena kita iman kepada Allah, bukan sekadar tradisi atau kebiasaan. Dan Ihtisaban dengan mengharap pahala hanya dari Allah, bukan pujian, sanjungan, atau penilaian manusia. Dengan terpenuhinya dua syarat ini, puasa Ramadan menjadi sebab diampuninya dosa-dosa yang telah lalu. Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dosa-dosa yang diampuni dalam hadis ini adalah dosa-dosa kecil, bukan dosa besar. Imam an-Nawawi berkata:
“Yang dimaksud dalam hadis-hadis ini adalah diampuninya dosa-dosa kecil. Adapun dosa besar, maka wajib dengan tobat khusus.” (Syarh Shahih Muslim, 6:39)
Namun demikian, dosa kecil tidak boleh diremehkan, karena jika menumpuk dan belum diampuni, ia bisa menjadi sebab seorang hamba harus mempertanggungjawabkannya di akhirat. Selain puasa di siang hari, Islam juga menganjurkan menghidupkan malam-malam Ramadan dengan ibadah. Rasulullah Rasulullah Salallahu ‘Alahi Wassalam bersabda:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa menghidupkan malam Ramadan dengan iman dan ihtisab, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Qiyam Ramadan tidak terbatas hanya pada shalat tarawih. Ia mencakup shalat malam, membaca Al-Qur’an, berdzikir, i’tikaf dan segala bentuk ibadah malam yang dilakukan dengan ikhlas selama mayoritas waktu malam Ramadan diisi dengan ibadah, maka seseorang telah tergolong orang yang menghidupkan Ramadan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam surat QS. Al-Qadr Ayat 3:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Malam Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.”
Lailatul Qadar memang dirahasiakan waktunya, namun Rasulullah Rasulullah Salallahu ‘Alahi Wassalam menegaskan bahwa ia berada di sepuluh malam terakhir Ramadan. Barang siapa bersungguh-sungguh beribadah dari awal hingga akhir Ramadan, maka sangat besar kemungkinan ia mendapatkannya, meskipun tanpa mengetahui malam ke berapa.
Jika telah masuk sepuluh malam terakhir Ramadan, Rasulullah Rasulullah Salallahu ‘Alahi Wassalam menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan ikat pinggangnya (bersungguh-sungguh dalam ibadah). Inilah puncak Ramadan, saat peluang meraih Lailatul Qadar terbuka lebar. Doa yang paling dianjurkan pada malam-malam ini adalah:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.”
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang berpuasa dan beribadah dengan iman dan ihtisab, serta mempertemukan kita dengan kemuliaan Lailatul Qadar. Aamiin.
Referensi: Youtube Al-Bahjah TV
Penulis: Solahudin Al Ayyubi S.Sos.
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Artikel Keutamaan Puasa Ramadan, Jalan menuju Ampunan dan Meraih Lailatul Qadar pertama kali tampil pada Pustaka.
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Akhir-akhir ini telah terjadi berbagai bencana yang terjadi di negeri ini, terutama longsor dan banjir. Menurut berbagai sumber hal tersebut salah satunya disebabkan oleh alih fungsi hutan. Sebagaimana yang kita tahu, hutan sangat berpengaruh terhadap ekosistem yang ada di dalamnya bahkan juga manusia dan tempat tinggalnya. Praktis ketika peran hutan dihilangkan, maka keseimbangan lingkungan akan terganggu dan dampak yang paling mengerikan adalah terjadinya bencana alam.
Pohon-pohon hutan mempunyai akar yang dapat mengikat tanah, air, dan batu. Namun kini berganti dengan tanaman lain yang biodiversitasnya lebih rendah. Jika daerah hutan semakin hari semakin habis dan pohon-pohon digantikan dengan jenis yang lain maka munculnya bencana-bencana yang lebih besar di negeri ini hanya tinggal menunggu waktu.
Sebagai seorang makhluk yang diberi akal pikiran, kita harus menahan hawa nafsu yang ada dalam diri. Alangkah bijaknya jika kita ber-muhasabah atas kesalahan yang kita lakukan. Khawatirlah dengan ibadah yang kita lakukan itu tidak diterima sebab kita tidak mencintai alam yang merupakan ciptaan-Nya. Kondisi sekarang mencerminkan bahwa kita gagal dalam merawat alam. Sebaliknya, alih-alih merawatnya kita justru merusaknya demi keuntungan segelintir semata.
Pemerintah yang memiliki kewenangan besar dalam hal ini harus mengevaluasi ulang setiap program apabila dalam pelaksanaan bertentangan dengan prinsip kelestarian alam. Jangan beri izin bagi program yang secara jelas akan merusak alam dan segala kebijakan harus mutlak berpihak bagi kepentingan alam. Selain itu, penebangan hutan secara liar, baik yang dilakukan secara kelompok maupun perorangan harus ditindak tegas tanpa pandang bulu. Yang tak kalah penting adalah melakukan reboisasi, menanam kembali bibit pohon di hutan-hutan yang sudah gundul. Semoga kita semua menjadi makhluk Tuhan dan warga negara yang memiliki rasa cinta dan sayang terhadap ciptaan-Nya, yaitu alam yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan hajat manusia ini.
Penulis: Ivan Arief Rachman, S.Pd.
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Artikel Tafsir Alam: Ketika Alam Tak Lagi Diam pertama kali tampil pada Pustaka.
LPD Al-Bahjah ("kami") sangat menghargai privasi wali santri dan calon pendaftar. Dokumen ini menjelaskan bagaimana kami mengumpulkan, menggunakan, dan melindungi informasi pribadi Anda melalui website pendaftaran ini.
1. Pengumpulan Data Pribadi
Kami hanya mengumpulkan data yang relevan untuk keperluan pendaftaran, konsultasi pendidikan, dan statistik internal. Data tersebut meliputi: Nama Lengkap, Nomor WhatsApp, dan Informasi Pendidikan yang Anda berikan secara sukarela.
2. Penggunaan Data
Data Anda hanya digunakan untuk tujuan administratif internal, menghubungi Anda mengenai pendaftaran, dan mengirimkan dokumen brosur yang diminta. Kami tidak pernah menjual atau menyewakan data Anda kepada pihak ketiga mana pun.
3. Keamanan Data
Kami menerapkan protokol keamanan enkripsi standar industri untuk mencegah akses tidak sah terhadap informasi pribadi Anda.
Terakhir diperbarui: April 2026
Syarat & Ketentuan Layanan
Dengan mengakses dan menggunakan website Al-Bahjah Education Ecosystem, Anda menyetujui syarat dan ketentuan berikut:
1. Penggunaan Website
Website ini merupakan portal informasi dan pendaftaran awal. Pengisian formulir di website ini bukan merupakan jaminan penerimaan mutlak sebagai santri Al-Bahjah. Penerimaan akhir ditentukan melalui proses seleksi dan wawancara resmi.
2. Akurasi Informasi
Anda bersedia memberikan informasi yang akurat dan benar pada saat pengisian formulir. Informasi palsu dapat mengakibatkan pembatalan proses pendaftaran.
3. Perubahan Kebijakan
Al-Bahjah berhak mengubah syarat, ketentuan, dan rincian biaya pendidikan kapan saja. Perubahan akan diperbarui pada dokumen resmi yang tersedia.
Terakhir diperbarui: April 2026
Disclaimer Legal
Harap perhatikan ketentuan pelepasan tanggung jawab hukum berikut:
Semua informasi yang terdapat pada website ini bertujuan untuk memberikan panduan umum terkait unit pendidikan di bawah naungan LPD Al-Bahjah.
Kami telah berupaya maksimal untuk menjaga keakuratan data. Namun, kami tidak memberikan jaminan absolut bahwa seluruh informasi bebas dari kekeliruan ketik atau human error.
Rincian investasi pendidikan (biaya) yang tercantum bersifat estimasi dan dapat disesuaikan sewaktu-waktu mengikuti kebijakan Yayasan tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Website ini tidak berafiliasi dengan pihak ketiga yang menawarkan jasa "calo" penerimaan santri. Pendaftaran resmi hanya melalui jalur yang telah ditetapkan.
Terakhir diperbarui: April 2026
Sekolah Ponpes Al-Bahjah: Pusat Informasi dan Pendaftaran
Analisis komprehensif sistem pendidikan info_archive
dalam ekosistem LPD Al-Bahjah Cirebon untuk mempersiapkan generasi visioner yang beradab dan kompetitif.
Transformasi Karakter melalui Jalur info_archive
Pesantren Al-Bahjah adalah oase pendidikan bagi Keluarga Visioner. Menggabungkan kedalaman sanad keilmuan Hadramaut dengan keunggulan akademik nasional dalam lingkungan tanpa gadget.
Tiga Pilar Utama Ekosistem Al-Bahjah
Pendidikan Formal (SDIQu, SMPIQu, SMAIQu): Integrasi Kurikulum Nasional dengan Diniyah Salaf dan Tahfidz intensif.
Jalur Muadalah (Pondok Tahfidz & Tafaqquh): Fokus mutlak pada hafalan 30 Juz dan penguasaan Kitab Kuning dengan ijazah penyetaraan resmi.
STAI Al-Bahjah: Pendidikan tinggi untuk mencetak sarjana ahli syariah yang beradab dan profesional.
Geser tutup »
dari
di
albahjah.org.
Saluran Al-Bahjah
Verified WhatsApp Channel
Dapatkan update harian, agenda penting, dan informasi pendaftaran langsung di WhatsApp Anda tanpa menyimpan nomor.