Sekolah Ponpes Al-Bahjah: Pusat Informasi dan Pendaftaran

Pusat Literasi Digital

Pustaka Ilmu.

Eksplorasi ribuan materi edukasi, transkrip mutiara hikmah, dan video tutorial dari ekosistem pendidikan Al-Bahjah.

Peluang Santri Masuk IPB, Al-Bahjah Bahas Jalur SNBP, SNBT, dan BUD
Artikel
Al-Bahjah

Peluang Santri Masuk IPB, Al-Bahjah Bahas Jalur SNBP, SNBT, dan BUD

Bogor – Yayasan Lembaga Pengembangan Dakwah (LPD) Al-Bahjah melaksanakan audiensi dengan pimpinan IPB University pada Rabu, 19 Syawal 1447 H / 8 April 2026 M, bertempat di Kampus Pascasarjana IPB Baranangsiang, Bogor. Audiensi ini dihadiri oleh Wakil Rektor 1 Bidang Akademik dan Kemahasiswaan IPB, Prof. Drh. Deni Noviana, Ph.D., DAiCVIM., didampingi Direktur Administrasi Pendidikan dan Penerimaan Mahasiswa Baru, Dr. Utami Dyah Syafitri, S.Si., M.Si., serta Direktur Kerja Sama IPB, Dr. Hamzah, S.Pd., M.Si. Sementara itu, dari pihak Yayasan Al-Bahjah turut hadir Ketua Umum Yayasan Al-Bahjah, Ust. Bambang Siswanto, S.T., M.Pd., Wakil Ketua Umum Bidang Pendidikan, Ust. Carnawi, M.Pd., Kepala Divisi Perguruan Tinggi, Ust. Imam Abdullah, B.Sc., M.A., Kepala Subdivisi Seleksi dan Kerja Sama Perguruan Tinggi, Ust. Ilham Nurhidayah, S.Pd., Ketua STAI Al-Bahjah, Ust. Muhamad Sachu, Lc., M.E., serta Wakil Ketua I Bidang Akademik, Gus Zamzami Ar-Rahbini, B.Sc., M.A. Pemaparan Jalur Masuk IPB University Dalam pertemuan tersebut, pihak IPB University memaparkan berbagai jalur penerimaan mahasiswa baru. Beberapa di antaranya meliputi jalur SNBP (berbasis nilai rapor), SNBT (berbasis UTBK), jalur mandiri, serta jalur khusus seperti Ketua OSIS, jalur talenta/tahfidz, dan Beasiswa Utusan Daerah (BUD). Disampaikan bahwa jalur SNBP memiliki porsi kuota sekitar 40 persen. Proses seleksi ini mempertimbangkan akreditasi sekolah, nilai rapor, kesesuaian dengan program studi, indeks sekolah, hingga rekam jejak alumni. Pihak IPB menekankan secara tegas bahwa siswa yang telah dinyatakan lolos melalui jalur SNBP wajib mengambil kesempatan tersebut. Jika dilepas, hal ini dapat berdampak buruk pada rekam jejak sekolah maupun siswa yang bersangkutan ke depannya. Peluang Emas Santri Melalui Jalur BUD dan Talenta Dalam kesempatan yang sama, IPB membuka peluang kerja sama melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD) berbasis kemitraan. Program strategis ini memberikan kesempatan bagi lembaga pendidikan, termasuk pesantren, untuk mengirimkan peserta didik terbaiknya ke IPB melalui skema kerja sama resmi. Pihak IPB juga membagikan informasi mengenai sejumlah program studi yang memiliki peluang besar untuk ditembus. Beberapa di antaranya adalah bidang sains murni seperti matematika dan fisika, serta program-program di sektor perikanan, peternakan, dan kehutanan. Program studi baru seperti Teknik Mesin dan Teknik Kimia juga menjadi opsi strategis ke depan. Menariknya, jalur masuk IPB via jalur talenta, khususnya pada program sarjana terapan (vokasi), masih relatif jarang terisi. Kondisi ini menjadi peluang besar bagi santri berprestasi. Hal ini membuka ruang bagi pesantren untuk lebih aktif mendorong peserta didiknya memanfaatkan ceruk jalur tersebut. Sinergi Ke Depan Yayasan Al-Bahjah dalam audiensi ini menyampaikan komitmen kuatnya untuk terus meningkatkan kualitas akademik santri serta memperluas akses mereka ke perguruan tinggi negeri, khususnya IPB University. Edukasi pemahaman jalur masuk perguruan tinggi kepada santri dan orang tua menjadi perhatian penting yayasan dalam waktu dekat. Sebagai tindak lanjut, kedua belah pihak sepakat menjalin komunikasi lebih intensif, mencakup rencana sosialisasi lanjutan kepada santri dan wali santri, serta penyiapan dokumen kerja sama (MoU) yang diperlukan. Audiensi ini diharapkan menjadi langkah awal yang strategis dalam memperkuat sinergi antara Yayasan Al-Bahjah dan IPB University guna mencetak generasi santri yang unggul dan berdaya saing di tingkat nasional.

Kita Tidak Krisis Teknologi Tapi Krisis Akhlak
Artikel
Tahfidz Al-Qur'an

Kita Tidak Krisis Teknologi Tapi Krisis Akhlak

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Saat ini kita hidup di era modern, infrastuktur semakin maju, teknologi berkembang begitu pesat, dan segala informasi dengan mudah kita dapat. Semua itu bisa kita lakukan melalui gadget. Akan tetapi, semakin majunya perkembangan teknologi justru orang-orang berpotensi lebih besar untuk saling membenci. Teknologi tidak pernah salah, karena ia hanyalah alat untuk membantu aktivitas manusia. Ia bisa digunakan untuk kebaikan, bisa juga untuk keburukan. Artinya, jika kita jumpai pada teknologi atau aplikasi yang isinya bertentangan dengan etika sosial ataupun agama, itu bukan karenanya teknologinya yang salah, tetapi kita yang salah dalam menggunakan teknologi tersebut. Kita sering kali menjumpai komentar-komentar negatif di media sosial, baik yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang yang memang dibayar untuk itu (buzer), penyebaran berita-berita hoax, konten adu domba yang tak jarang menyerang tokoh-tokoh agama, serta konten-konten yang berisi caci maki atau merendahkan individu maupun kelompok tertentu. Dunia maya terasa bebas tanpa aturan karena siapa pun bisa berekspresi di dalamnya. Akan tetapi terkadang kebablasan dan tidak berakhlak, sehingga menimbulkan perpecahan dan konflik. Kita pintar, tapi kita kurang bijak dalam menyikapi sesuatu hal di media sosial. Banyak orang yang jago berteknologi tapi lupa dengan etika. Cepat bereaksi terhadap sesuatu, tapi lambat dalam berpikir. Banyak juga dari kita lebih mengejar viral daripada menyebarkan kebenaran. Merasa lebih membutuhkan popularitas daripada integritas. Tanpa sadar kita juga sering merendahkan orang lain melalui media sosial, menertawakan orang yang kulitnya hitam, merendahkan orang dengan wajah yang pas-pasan, mencemooh orang yang berpakaian seadanya, tidak memiliki empati kepada orang yang memiliki kelainan, dan agama menjadi bahan candaan. Sebenarnya yang kita hadapi saat ini adalah bukan lagi krisis sinyal internet atau teknologi, tapi krisis akhlak. Kita sudah mulai lupa dengan etika yang diajarkan oleh guru-guru di sekolah atau madrasah. Begitu juga dengan nasihat-nasihat orang tua yang selalu mengajarkan kita untuk terus berbuat baik di mana pun, kapan pun, dan dengan siapa pun. Di saat kita kecil selalu diajarkan untuk berbicara dengan sopan dan memperlakukan orang lain dengan baik. Akan tetapi setelah dewasa kita sudah tidak pernah lagi mengamalkan itu. Kita berbicara dengan begitu bebasnya dan memperlakukan orang lain dengan seenaknya tanpa memikirkan sebab dan akibatnya. Hingga tak jarang memicu adanya konflik karena orang lain merasa tersinggung atau sakit hati dengan ucapan kita, ingatlah bahwa “mulutmu, harimaumu”. Mengapa hal demikian bisa terjadi? Umumnya karena kurang dibiasakan menerapkan adab sejak kecil. Selain itu lingkungan yang kurang baik juga menjadi pengaruh besar dalam membentuk akhlak seseorang. Sebab, kebiasaan terbentuk dari lingkungan, apabila lingkungannya baik maka ia akan ikut baik, begitu pun sebaliknya. Ditambah lagi dengan konten-konten negatif yang bertebaran di media sosial turut menjadi pemicu pergeseran akhlak pada generasi penerus kita. Kita sering menganggap nilai agama sebagai opsional bukan suatu kaharusan. Padahal agamalah yang menjadi benteng terakhir dalam menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Bagi siapa pun yang membaca tulisan ini, mari kita sama-sama belajar menerapkan akhlak pada diri kita dan orang-orang di sekitar kita, baik di dunia nyata ataupun di dunia maya. Mulailah dari diri sendiri, menyaring suatu informasi sebelum di-sharing, menjaga lisan dan tulisan baik dalam keadaan marah ataupun senang. Gunakan teknologi dengan bijak untuk hal-hal yang bermanfaat. Ingatlah bahwasannya apa pun yang kita lakukan akan di pertanggungjawabkan termasuk postingan-postingan dan komentar-komentar kita di media sosial. Teknologi boleh maju, tapi akhlak jangan sampai mundur. Jadilah generasi yang bukan hanya pintar dalam penggunaan teknologi, tapi juga generasi yang mempunyai empati, adab, dan nurani, sehingga setiap tindakan yang kita lakukan terarah bukan hanya ikut-ikutan. Jadilah pribadi yang pintar dalam segala bidang, mudah bergaul dengan siapa saja, tapi tetap menggunakan akhlak dalam berkomunikasi baik di dunia nyata ataupun di dunia maya.   Penulis: Moh. Minanur Rohman Penyunting: Idan Sahid Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.     Artikel Kita Tidak Krisis Teknologi Tapi Krisis Akhlak pertama kali tampil pada Pustaka.

Buya Yahya: Silaturahmi yang Benar Harus Menggabungkan Aspek Zahir dan Batin
Artikel
Tahfidz Al-Qur'an

Buya Yahya: Silaturahmi yang Benar Harus Menggabungkan Aspek Zahir dan Batin

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Silaturahmi diambil dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata, yaitu Shilatun (صلة) yang berarti penghubung, ikatan atau penyambung, dan Rahim (رحم) yang bertarti kasih sayang. Maka silaturahmi berarti penghubung/pengikat/penyambung kasih sayang. Silaturahmi juga merupakan istilah yang digunakan untuk suatu kegiatan sosial yang bertujuan untuk mempererat kasih sayang kepada sesama, baik saudara, teman atau orang yang sama sekali belum kita kenal. Banyak sekali bentuk silaturahmi yang bisa kita lakukan untuk menguatkan tali persaudaraan dan kasih sayang terhadap sesama. Seperti berkunjung ke rumah-rumah, bertukar kabar melalui sosial media, atau hanya sekadar bertegur sapa yang diiringi dengan senyum dan salam saat bertemu di jalan. Silaturahmi bukan hanya sekadar kegiatan sosial, namun merupakan sesuatu yang sangat terpuji dan memiliki banyak sekali manfaat. Baik secara umum, seperti mendatangkan ketenangan hati dan juga kebahagiaan serta bisa meningkatkan kesehatan mental. Ataupun manfaat khusus karena didasari dengan iman, seperti mendapatkan rahmat dan ampunan dari Allah, dimudahkan jalan menuju surga, dan masih banyak yang lainnya. Oleh karena itu silaturahmi memiliki nilai pahala yang sangat besar dalam Islam. Bahkan, ada kecaman yang sangat mengerikan bagi orang-orang yang memutus silaturahim. Baginda Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى أَفْضَلِ الْأَخْلَاقِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ; تَعْفُو عَمَّنْ ظَلَمَكَ وَتَصِلُ مَنْ قَطَعَكَ وَتُعْطِي مَنْ مَنَعَك “Aku tunjukkan kepadamu bahwa sebaik-baik akhlak di dunia dan akhirat adalah jika engkau memaafkan orang-orang yang berbuat dzalim kepadamu, dan menyambung kasih sayang dengan orang-orang yang berbuat aniaya kepadamu, dan memberi kepada orang yang menghalangimu dari pemberian.” (HR. Ibnu Majah dan At Tirmiidzi) Silaturahmi juga menjadi salah satu amalan yang menyebabkan kita masuk surga, sebagaimana hadis Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam: يَا أيُّهَا النَّاسُ، أفْشُوا السَّلَامَ، وَأطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصِلُوا الأرْحَامَ، وَصَلُّوا والنَّاسُ نِيَامٌ، تَدْخُلُوا الجَنَّةَ بِسَلَام )رواه الترمذي( “Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, sambunglah tali silaturahim, dan shalatlah di waktu malam ketika manusia tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.” (HR At-Tirmidzi) Selain itu juga, terdapat hadis-hadis yang menyebutkan keutamaan silaturahmi sebagai sebab penggugur dosa, pembuka pintu rezeki, dan memanjangkan umur, serta yang lainnya. Begitu mulia dan agungnya pahala silaturahmi. Akan tetapi, silaturahmi yang memiliki nilai pahala adalah yang dilakukan dengan memenuhi syaratnya, bukan hanya basa-basi sosial tanpa dilandasi niat yang tulus. Menurut Buya Yahya, silaturahmi yang benar harus menggabungkan dua aspek: zahir (fisik) dan batin (hati). Syarat utamanya meliputi niat tulus menyambung hubungan, memaafkan, mendoakan kerabat sebelum dan setelah bertemu, tidak sombong, serta menjaga syariat, khususnya dalam berinteraksi dengan lawan jenis, sekaligus menghindari prasangka buruk. Sudah seharusnya bagi kita untuk menghadirkan niat tersebut dan menjauhkan diri dari berpamer ria menunjukkan hasil kerja dan merendahkan keluarga dan saudara yang masih berproses, justru seharusnya kita bisa saling membantu antarsesama. Pertemuan yang tidak didasari dengan niat yang tulus, bahkan disertai dengan saling merendahkan atau menyakiti orang lain, tidak akan menumbuhkan kasih sayang dan silaturahmi. Justru itulah yang memutus tali silaturahmi, memecah hubungan persaudaraan, dan menumbuhkan kebencian. Itulah orang-orang yang disebut sebagai Qathi’urrohim yang diancam oleh Baginda Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam sebagai berikut: مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ تَعَالَى لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا – مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْبَغْيِ وَقَطِيْعَةِ الرَّحِمِ “Tidak ada dosa yang lebih pantas disegerakan balasannya bagi para pelakunya di dunia bersama dosa yang disimpan untuknya di akhirat daripada perbuatan dzalim dan memutus silaturahmi.” (HR Abu Daud) Begitulah keutamaan silaturahmi dan ancaman bagi orang yang memutusnya. Semoga kita senantiasa bisa menjalin dan mempererat silaturahmi kita dengan keluarga, saudara, teman, guru dan semuanya, tentunya dengan menjaga adab dan syari’at Islam. Bukan hanya pada momen-momen tertentu seperti saat Idulfitri. Namun setiap hari, baik saat bertemu atau dengan media sosial di saat jauh. Wallahu A’lam Bisshowab   Penulis: Habibullah Penyunting: Idan Sahid   Artikel Buya Yahya: Silaturahmi yang Benar Harus Menggabungkan Aspek Zahir dan Batin pertama kali tampil pada Pustaka.

Liburan Usai, Suasana Berbeda: Dua Golongan Santri Saat Kembali ke Pesantren
Artikel
Tahfidz Al-Qur'an

Liburan Usai, Suasana Berbeda: Dua Golongan Santri Saat Kembali ke Pesantren

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Liburan telah usai, sudah waktunya para santri kembali ke pondok untuk meneruskan perjuangan menuntut ilmu. Balik ke pondok atau disingkat balpon ini menjadi istilah yang populer pada kalangan santri, terutama setelah liburan panjang bulan Ramadan hingga Syawwal. Sebagian santri menyambut balpon dengan semangat dan antusias karena kerinduan mereka terhadap belajar dan suasana pondok. Meski di dalamnya tidak hanya ada kesenangan tetapi juga terdapat kesusahan, namun bagi santri yang serius dan tulus belajar, setiap kesusahan dan kesenangan itu dijadikan pengalaman yang indah dan tak terlupakan. Di samping itu, ada sebagian lainnya yang menyambut kembalinya mereka ke pondok ini secara biasa saja. Bahkan ada yang merasa sangat berat untuk kembali ke pondok, sehingga kurangnya ghiroh atau semangat dalam hatinya untuk kembali belajar. Hal tersebut dipengaruhi oleh berbagai hal, salah satunya karena manajemen liburan saat menuntut ilmu yang kurang baik. Liburan memang merupakan waktu yang sangat berharga bagi para santri. Namun setiap santri berbeda-beda dalam memanfaatkan waktu liburan tersebut. Jika digolongkan maka ada dua golongan santri saat berlibur. Santri yang Beruntung Santri yang beruntung yaitu santri yang mengisi waktu liburannya dengan hal-hal yang bermanfaat. Mengamalkan ilmu yang telah didapat di pondok pesantren, mulai dari mendawamkan dzikir harian dan amalan-amalan sunnah yang biasa dilakukan di pondok. Seperti bangun malam, shalat Dhuha dan lainnya, berkhidmah kepada orang tua, muroja’ah, atau mengulang pelajaran dan hafalan. Golongan pertama ini juga melakukan hobi dan hiburan. Akan tetapi mereka menjalankan hobi dan hiburan-hiburan yang tidak melanggar syariat serta dengan memperhatikan waktu. Maka bagi para santri yang menggunakan waktu liburannya dengan demikian, tidak akan merasa berat ketika waktunya kembali ke pondok. Bahkan belajarnya setelah liburan justru akan berjalan lancar. Sebab, materi-materi yang dipelajari sebelumnya terus diulang dan tidak terputus saat liburan. Santri yang Rugi Santri yang rugi yaitu santri yang mengisi waktu liburannya dengan hal-hal yang bertolak belakang dari golongan pertama. Mereka justru mengisi waktu liburnya dengan hal-hal yang sia-sia. Seperti bermain gadget atau menonton TV tanpa memperhatikan waktu, berkumpul dengan teman masa kecilnya namun tidak bisa menyaring hal-hal buruk yang ada dalam perkumpulan tersebut sehingga terbawa dalam ketidakbaikannya, melalaikan pelajaran yang sudah dipelajari di pondok pesantren, dan hal-hal yang sia-sia lainnya. Maka bagi santri yang mengisi waktu liburan dengan hal-hal demikian, sudah pasti akan merasa berat ketika harus kembali ke pondok. Sebab mereka merasa semua kebebasan saat berlibur yang tanpa ada pengawasan dari pengurus dan tanpa hukuman, membuat mereka harus kembali menyesuaikan dengan kegiatan pondok. Di samping penyesuaian itu tentu membutuhkan waktu yang terkadang tidak sebentar, sehingga tidak hanya membuang waktu, tetapi juga terasa sangat berat. Nabi Muhammad Salallahu ‘Alahi Wassalam bersabda: من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه “Termasuk kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.” Ini adalah sebuah pesan dari Baginda Nabi Muhammad Salallahu ‘Alahi Wassalam untuk seluruh umatnya, terutama bagi para santri dan penuntut ilmu di mana pun berada. Hendaknya bagi kita sebagai umat Islam terlebih para santri, agar memperhatikan setiap pekerjaan yang dilakukan dan kalimat yang diucapkan. Jika hal tersebut tidak bermanfaat secara dzahir dan batin serta dunia dan akhirat, maka sebaiknya kita tinggalkan jauh. Ini adalah pesan yang sangat penting, khususnya bagi para santri yang saat ini akan atau sudah kembali ke pondok pesantren, agar senantiasa fokus dalam perjalanannya menuntut ilmu guna membela agama Allah dan mengangkat syi’ar Islam kelak di kemudian hari. Wallahu A’lam bisshowab   Penulis: Habibullah Penyunting: Idan Sahid Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.     Artikel Liburan Usai, Suasana Berbeda: Dua Golongan Santri Saat Kembali ke Pesantren pertama kali tampil pada Pustaka.

Gema Takbir 1447 di Tanah Wali: Polisi Kawal Malam Idulfitri
Artikel
SDIQu Al-Bahjah

Gema Takbir 1447 di Tanah Wali: Polisi Kawal Malam Idulfitri

CIREBON – Al Bahjah bersama jajaran Polsek Sumber sukses menyelenggarakan kegiatan Syiar Takbir Keliling Idulfitri 1447 Hijriah pada Jumat malam Sabtu (20/3/2026) untuk menghidupkan sunah malam kemenangan di 9 masjid wilayah Kabupaten Cirebon. Di bawah arahan Buya Yahya dan pengawalan langsung Kapolsek Sumber, Pak Afandi, ratusan peserta melakukan konvoi tertib menyambangi sembilan masjid utama mulai pukul 18.30 WIB guna menggemakan takbir dengan tetap menjunjung tinggi nilai adab, keamanan, serta ketertiban lalu lintas. Tradisi takbir keliling memiliki akar yang kuat dalam budaya Islam Nusantara, khususnya di Cirebon yang secara historis dikenal sebagai pusat penyebaran Islam oleh Sunan Gunung Jati. Kegiatan takbir keliling seperti ini bukan sekadar pawai kendaraan, melainkan cara mulia untuk menjalankan pesan Al-Qur’an (Surah Al-Baqarah: 185) tentang merayakan kemenangan dengan rasa syukur yang mendalam. Sejalan dengan tuntunan Imam Syafi’i, menghidupkan malam Idulfitri dengan takbir adalah ibadah yang sangat dianjurkan agar hati kita tetap “hidup” dan tidak lalai di tengah kemeriahan hari raya. Secara sosial, momen kumpul bersama ini menciptakan energi positif yang mampu mempererat tali persaudaraan antarwarga. Pendekatan ini merupakan wujud nyata dari upaya merawat tradisi lokal tanpa mengorbankan nilai-nilai syariat dan ketertiban umum. Pawai yang seringkali identik dengan euforia jalanan diubah menjadi sebuah pergerakan syiar yang terstruktur, edukatif, dan berpusat pada pemakmuran masjid. Rangkaian kegiatan difokuskan pada kedisiplinan ibadah, yang dimulai tepat pada pukul 18.30 WIB di Masjid Oemar LPD Al-Bahjah, kawasan Sendang. Sebelum iring-iringan kendaraan diberangkatkan, seluruh peserta yang terdiri dari santri dan jamaah diwajibkan mengikuti pelaksanaan salat Isya berjamaah. Kehadiran Buya Yahya di tengah barisan jamaah memberikan arahan ruhani dan keilmuan yang menegaskan pentingnya menjaga kesantunan, menghindari perkataan sia-sia, dan menjadikan setiap putaran roda kendaraan sebagai sarana ibadah di malam Idulfitri. Keberhasilan manifestasi syiar yang tertib ini merupakan hasil kolaborasi lintas sektoral yang solid antara panitia penyelenggara (Al-Bahjah Event Organizer) dengan aparat penegak hukum dan institusi pemerintah terkait. Pengamanan rute mendapatkan atensi penuh dari Kepolisian Sektor (Polsek) Sumber. Kapolsek Sumber, Bapak Afandi, memimpin langsung personel kepolisian dan tim Patroli dan Pengawalan (Patwal) di lapangan. Bersama dengan jajaran Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Cirebon, petugas memastikan arus lalu lintas kendaraan syiar dan pengguna jalan umum berjalan harmonis. Sinergi ini mencerminkan tingginya tingkat kepercayaan (trust) dan otoritas institusi keamanan dalam mengawal kebebasan beragama yang terorganisasi dengan sangat baik. Pemilihan rute perjalanan dirancang secara strategis untuk mengintegrasikan simpul-simpul masjid di wilayah Kecamatan Sumber dan sekitarnya. Iring-iringan kendaraan yang tertata rapi melintasi sembilan titik koordinat syiar utama, yaitu: Masjid Oemar (Sendang) – Titik Keberangkatan Masjid Nurul Huda (Sendang) Masjid Nur Bayti Ismail (Babakan) Masjid Agung Sumber (Pusat Kota Sumber) Masjid Ar Rodloh (Kaliwadas) Masjid Jami’ Baitul Muttaqin (Karangsari) Masjid Mu’tamarul Huda (Bode Lor) Masjid Jami’ Nurul Huda (Watubelah) Masjid Nur Aswitiyah (Kemantren) – Titik Kepulangan Seluruh armada rombongan dilaporkan telah kembali ke kompleks LPD Al-Bahjah pada tengah malam dalam kondisi aman. Kelancaran kegiatan Syiar Takbir Keliling 1447 H ini mengukuhkan posisi LPD Al-Bahjah sebagai institusi pendidikan Islam yang mampu menyelenggarakan manajemen acara skala besar dengan tetap menjunjung tinggi nilai agama, harmoni sosial, dan ketaatan pada hukum negara. Informasi Publikasi: ​Topik: Syiar Islam, Idulfitri 1447 H, Keamanan Wilayah. ​Lokasi: Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. ​Otoritas: LPD Al-Bahjah, Polsek Sumber, Dishub Cirebon. Redaksi: Ustadz Nasruddin Abdul Matin, M. Sos., Humas Al-Bahjah

Makna Suci di Hari nan Fitri
Artikel
Tahfidz Al-Qur'an

Makna Suci di Hari nan Fitri

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Idulfitri sering kali disebut sebagai Hari Kemenangan bagi kaum muslimin. Setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa di bulan Ramadan, memperbanyak amal ibadah, serta berusaha menjauhi segala larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala, akhirnya umat Islam menyambut Idulfitri dalam suasana yang suci, penuh kebahagiaan, dan suka cita. Makna suci yang dirasakan pada Idulfitri adalah bentuk harapan seorang hamba agar setelah melalui bulan Ramadan dia dapat kembali dalam keadaan suci atau fitrah. Harapan tersebut muncul karena selama Ramadan seorang Muslim berusaha mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui berbagai ibadah, seperti shalat tarawih, shalat witir, berpuasa, bersedekah, menunaikan zakat fitrah, melakukan i’tikaf, serta mengerjakan berbagai amalan kebaikan lainnya. Beriringan dengan itu, kita melanjutkan kebaikan setelah bulan Ramadan dengan saling bersilaturahmi, saling memaafkan, dan saling menyenangkan hati dengan sesama sehingga dengan semua itu kita berharap bisa menjadi hamba yang diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun, tidak semua orang mampu memanfaatkan bulan Ramadan dengan sebaik-baiknya. Hal ini pernah dijelaskan oleh Baginda Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wassalam bahwa ada orang-orang yang menemui bulan Ramadan, lalu keluar darinya tanpa membawa kebaikan apa pun dan tidak pula memperoleh ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kerugian tersebut dialami oleh mereka yang ketika bertemu dengan Ramadan tidak berusaha meningkatkan kualitas ibadahnya, tidak bersungguh-sungguh mengharapkan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta tidak menjaga dan memperkuat tali silaturahmi dengan sesama. Mereka hanya menjalani Ramadan sekadar menahan lapar dan dahaga, tanpa mengambil hikmah, keutamaan, dan manfaat yang terkandung di dalamnya. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Guru kita Buya Yahya: “Ketika seseorang aktif di bulan Ramadan, maka dia InsyaAllah termasuk golongan ahli fitrah, yaitu orang yang mendapatkan fitri. Itulah sebabnya hari raya (1 Syawal) disebut dengan Idulfitri. Di hari tersebut (setelah) kita beribadah kepada Allah di bulan pengampunan (Ramadan) dengan serius, lalu menjalin hubungan sesama manusia dengan baik dan indah, maka dengan itu semua kita (kembali dalam keadaan) fitri, seolah-olah kita telah bersih dari dosa. Karenanya, makna suci di Idulfiti adalah pengharapan (seorang hamba agar bisa dikembalikan oleh Allah menjadi hamba yang diampuni dari dosa).” Oleh karena itu, mari kita senantiasa berusaha meningkatkan kualitas ibadah selama bulan Ramadan dan melanjutkan semangat kebaikan tersebut pada Idulfitri dengan mempererat silaturahmi, saling memaafkan, dan saling mengasihi sesama. Dengan demikian, Idulfitri tidak hanya menjadi perayaan semata, tetapi juga menjadi momentum untuk memperbaiki diri dan memperkuat hubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala serta dengan sesama manusia. Semoga semangat kebaikan yang telah kita bangun selama bulan Ramadan dapat terus kita jaga dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Semoga dengan segala amal kebaikan yang telah kita lakukan, kita termasuk golongan orang yang memperoleh kemuliaan Ramadan dan keberkahan Idulfitri dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mudah-mudahan kita keluar dari bulan Ramadan dalam keadaan yang lebih baik dan suci, serta dipertemukan kembali dengan Ramadan di tahun berikutnya dengan harapan dan semangat yang lebih baru lagi. Mari kita jadikan momen Ramadan dan Idulfitri sebagai titik awal untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih bermanfaat bagi diri secara pribadi, keluarga, lingkungan sekitar, bangsa, dan agama.   Penulis: Fahmi Sidik Marunduri Penyunting: Idan Sahid Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.     Artikel Makna Suci di Hari nan Fitri pertama kali tampil pada Pustaka.

Hukum Shalat Jumat Ketika Bertepatan dengan Hari Raya I Oleh Buya Yahya
Artikel
Tahfidz Al-Qur'an

Hukum Shalat Jumat Ketika Bertepatan dengan Hari Raya I Oleh Buya Yahya

Pada tahun-tahun tertentu, kita menemukan hari raya bertepatan dengan hari Jumat. Bersamaan dengan itu, muncul pertanyaan apakah melaksanakan shalat Jumat tetap wajib? Bagi para penuntut ilmu fiqih di Indonesia yang mayoritas bermazhab Syafi’i masalah seperti ini sangatlah jelas dan tidak dipermaslahkan. Akan tetapi, di zaman modern ini karena kita sudah biasa berinteraksi dengan mazhab-mazhab lain melalui berbagai media yang yang ada, akhirnya munculah pertanyaan dari masyarakat sehingga menjelaskan kembali permasalahan seperti menjadi sangat perlu. Berikut ini kami buatkan catatan praktis untuk menjadi sebuah wawasan serta panduan, sehingga nantinya kita menjadi lebih bijaksana, mudah dalam menjalankan ibadah, dan tidak mudah menyalahkan orang lain. Download catatan praktis: Hukum Shalat Jumat Ketika Bertepatan dengan Hari Raya Ole: Buya Yahya Artikel Hukum Shalat Jumat Ketika Bertepatan dengan Hari Raya I Oleh Buya Yahya pertama kali tampil pada Pustaka.

Agar Mudik Bernilai Pahala dan Penuh dengan Keberkahan
Artikel
Tahfidz Al-Qur'an

Agar Mudik Bernilai Pahala dan Penuh dengan Keberkahan

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Mudik telah menjadi tradisi tahunan yang dilaksanakan masyarakat di Indonesia. Tak hanya bagi umat Islam, sering kali non-Muslim pun ikut melaksanakannya juga. Di akhir Ramadan biasanya pemerintah menentukan Hari Libur Nasional agar warganya yang merantau dapat “pulang kampung” dan mengunjungi orang tua, sanak saudara, kerabat, serta teman di kampung halaman dalam momen Idulfitri.  Adapun jangka waktu liburan ini biasanya berkisar 1 pekan atau lebih sebelum akhirnya kembali kepada rutinitasnya. Lantas apa makna mendalam dalam tradisi ini? Apa saja yang perlu dilakukan agar tradisi ini menjadi penuh keberkahan dan ridha dari Allah Subhanahu wa Ta’ala? Momen yang Tepat untuk Bersilaturahmi Pada kesempatan ini Buya Yahya, memberikan pandangannya terkait tradisi mudik. Menurutnya, silaturahmi bisa dilakukan kapan saja tanpa harus menunggu hari raya. Akan tetapi, ini adalah satu momen yang sangat tepat dalam hal ini. Bahkan para ulama menghubungkan antara hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan sesamanya. Menjaga hubungan baik di antara keduanya. Jika salah satu saja tidak dilaksanakan maka kita tidak bisa dianggap sebagai orang baik. “Saat Ramadan, seorang Muslim sibuk beribadah kepada Allah dengan melaksanakan berbagai perintah yang dianjurkan. Menjalin hubungan baik dengan Allah. Separuh perjalanan sudah tuntas. Tinggal menuntaskan separuh perjalanan lagi yaitu menjalin hubungan yang baik dengan sesama manusia. Saat hari raya, setiap orang saling bermaaf-maafan. Itu momen. Semua orang melakukan itu, dan itu indah.” ujarnya. Rambu-Rambu dalam Mudik Buya Yahya melanjutkan, dalam rangka menjalin hubungan baik dengan manusia jangan sampai melanggar Allah Subhanahu wa Ta’ala. Misalnya, saat jadwal kunjungan ke sanak saudara yang begitu padat membuat kita meninggalkan shalat yang menjadi kewajiban. “Mudik adalah dalam rangka silaturahmi, menyambung silaturahim, dan ini adalah hal baik dengan catatan jangan ada pelanggaran-pelanggaran syariat di saat kita mengadakan mudik,” tambahnya. Imbauan untuk Senantiasa Menghidupkan Hati Mudik biasanya dilakukan menjelang hari raya. Artinya pemudik ini melakukan perjalanan pada hari-hari istimewa tatkala para kekasih Allah berada di masjid untuk melakukan I’tikaf dan ibadah lainnya. Dalam hal ini Buya Yahya mengimbau, sebagai pemudik yang cerdas, jadikan perjalanan Anda seperti i’tikaf di dalam masjid. Buatlah sebuah rencana tentang bagaimana perjalanan Anda bernilai pahala di hadapan Allah dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an, dzikir, shalawat, dan melakukan amalan lainnya. Selain itu, saat perjalanan bisa melaksanakan shalat di atas kendaraan meskipun saat mengendarai. “Dalam sebuah hadits, Nabi (Muhammad) pernah melaksanakan shalat sambil menunggangi seekor unta,” pungkasnya. Jangan Tinggalkan Shalat Fardu saat Mudik Di akhir pembahasan, Buya Yahya mengingatkan kepada para pemudik agar tidak meninggalkan shalat fardu. Saat arus mudik, banyak orang meninggalkan shalat fardu. Dalam konteks ini, Buya Yahya menjelaskan bahwa saat mudik tiba, dirinya beserta keluarga besar Al-Bahjah senantiasa mengamalkan Fiqih Bepergian Solusi Shalat di Perjalanan dan Saat Macet dengan tujuan agar orang tidak meninggalkan shalat fardu meski dalam keadaan di perjalaan di dalam kendaraan. Buya Yahya juga mengingatkan bahwa shalat fardu bisa dilakukan di tanah lapang apabila kondisi masjid-masjid yang ada di jalan penuh sesak oleh para pemudik sehingga tidak memungkinkan melaksanakan shalat. Tidak hanya itu, Buya Yahya menjelaskan tentang tata cara wudhu dengan segelas air dan tata cara beristinja dengan menggunakan tisu. Terakhir, Buya Yahya juga perpesan agar para pemudik bisa mempelajari tata cara shalat jamak dan qoshor.   Sumber: Al-Bahjah TV Penulis: Ivan Arief Rachman, S.Pd. Penyunting: Idan Sahid Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.     Artikel Agar Mudik Bernilai Pahala dan Penuh dengan Keberkahan pertama kali tampil pada Pustaka.

Kemudahan Shalat Saat Mudik
Artikel
Tahfidz Al-Qur'an

Kemudahan Shalat Saat Mudik

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Saat sedang mudik dengan perjalanan yang panjang dan lama. Seorang pemudik terkadang meninggalkan shalat dengan berbagai alasan. Ini bisa terjadi karena beberapa faktor. Bisa dari kondisinya yang berat, tidak mengetahui ilmunya, tahu ilmunya namun ragu untuk melaksanakannya, atau mungkin tahu ilmunya namun lalai. Hal itu perlu dipahami kembali, bahwa dalam Islam terdapat kemudahan dalam melaksanakan shalat di perjalanan. Lalu bagaimana tata cara shalat saat di perjalanan? Rukhsah, Sebuah Kemudahan Untuk mengupas permasalahan ini, Buya Yahya menjelaskan bahwa jika dalam sebuah perjalanan berjarak lebih dari 84 KM, dalam konteks ini perjalanan mudik. Terdapat kemudahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang disebut rukhsah, yakni menjadikan shalat yang berjumlah 4 rakaat menjadi 2 rakaat (qoshor) dan 2 shalat digabungkan menjadi satu waktu (jamak). Adapun dalam praktik di lapangan, masih banyak orang yang melaksanakan shalat dengan jumlah yang utuh atau bahkan tidak shalat sama sekali karena tidak mengetahui ilmunya atau jarang mengaji. “Ada sebagian jamaah, ibu-ibu yang salehah mungkin kurang ilmu, diajak shalat jamak dan qoshor itu marah-marah. Shalat itu mudah kenapa harus mengqoshor dan menjama? kan ada rest area,” imbuhnya. Dalam kesempatan ini, Buya Yahya memberikan isyarat atau pesan untuk tidak meninggalkan shalat. Pembahasan tersebut telah Buya Yahya jelaskan dalam bukunya yang berjudul Fiqih Bepergian Solusi Shalat di Perjalanan dan Jalan Macet. Penjelasan ringkas dan mudah dipahami tentang kemudahan shalat saat di perjalanan. Menjamak dan Mengqoshor Shalat Buya Yahya menambahkan keterangannya tentang menjamak dan mengqoshor shalat di perjalanan. Ibadah ini lebih diutamakan dan mendapat pahala yang besar dibanding dengan melaksanakan shalat secara utuh, karena ini merupakan suatu kepatuhan kita kepada Allah berupa kemudahan dalam ibadah. Jangan sampai meninggalkan shalat yang dosanya teramat besar. Buya Yahya menuturkan terkait menjamak shalat sebagai berikut, “Dzuhur dengan Ashar dilakukan di satu waktu, boleh kita lakukan di waktu Dzuhur, sehingga nanti setelah Ashar tidak mikir shalat. Magrib digabung dengan Isya. Kan enak. Jadi waktunya hanya 3 kali dengan shalat Subuh.” Buya Yahya juga menjelaskan tentang jamak taqdim dari penuturannya berikut, “Di saat di perjalanan, sebisa mungkin bisa menjamak taqdim misalnya, wah di waktu Dzuhur bisa ketemu masjid, kita mending shalat di masjid sekalian Dzuhur sama Ashar.” Adapun jamak takhir Buya Yahya menambahkan penjelasannya sebagai berikut, “Atau waktu Dzuhur ini susah kalau kita turun dari mobil, nanti aja deh Ashar, boleh namanya jamak takhir. Kita tinggal niat melintaskan di hati, kita ingin mengakhirkan shalat di waktu Ashar” Kemudian perihal qoshor, Buya Yahya berujar: “Kemudian di saat anda di perjalanan itu, mengqosor yang 4 menjadi 2 itu lebih bagus. Mengqoshor shalat jauh lebih bagus dong, sudah pendek shalatnya, pahalanya lebih banyak. Masa gak mau. Ibadah itu perlu patuh, sehingga dalam madzhab lain, madzhab Hanafi, wajib mengqoshor itu. Lakukan jamak, gabungkan dengan qoshor.” Shalat Qodho Dalam situasi tertentu, seperti halnya dalam perjalanan mudik, seseorang tidak memungkinkan untuk melaksanakan shalat dengan mencari air untuk wudhu dan turun dari mobil. Namun ia tetap harus shalat karena menghormati waktu (shalat bihurmatil waktu). Dalam hal ini, Buya Yahya menjelaskan ada beberapa kondisi seseorang harus shalat di perjalanan walaupun tidak memenuhi syarat-syaratnya karena kondisi tidak memungkinkan atau adanya udzur. Tetapi dia harus mengulang kembali shalatnya dalam keadaan normal. Contoh: kalau Anda tidak menemukan air atau debu di dalam kendaraan lalu untuk turun dari kendaraan tidak bisa karena macet atau terjadi kecelakaan. Maka shalatlah tanpa wudhu dan tayamum. Kemudian Anda nanti menggantinya saat menemukan air atau debu. Contoh lainnya, jika Anda meyakini pakaian yang digunakan terkena najis, lalu Anda tidak bisa mengganti pakaian karena takut terlihat auratnya oleh orang lain (terutama ibu-ibu), maka shalatlah dengan kondisi tersebut. Lalu nanti Anda menggantinya saat keadaan normal di saat menggunakan pakaian yang suci. Dalam pungkasannya, Buya Yahya menyampaikan bahwa shalat dengan kondisi semacam itu lebih baik (dalam rangka menggugurkan dosa) dari pada meninggalkan shalat yang mana dosanya teramat besar.   Sumber: Al Bahjah TV Penulis: Ivan Arief Rachman, S.Pd. Penyunting: Idan Sahid Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.     Artikel Kemudahan Shalat Saat Mudik pertama kali tampil pada Pustaka.

Bagan Mahram Laki-Laki dan Perempuan
Artikel
Tahfidz Al-Qur'an

Bagan Mahram Laki-Laki dan Perempuan

Sering kali tanpa disadari kita berjabat tangan, bersalaman, bahkan berinteraksi dengan lawan jenis tanpa mengetahui apakah ia termasuk mahram atau bukan. Padahal dalam syariat Islam, batasan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram sangat jelas. Ketidaktahuan inilah yang kadang membuat sesuatu yang dianggap sepele justru menjadi perkara yang perlu dihindari. Oleh karena itu, agar kita lebih memahami siapa saja yang termasuk mahram, kami hadirkan bagan mahram berikut sebagai panduan sederhana bagi kaum muslimin dan muslimat. MAHRAM BAGI LAKI-LAKI MAHRAM BAGI PEREMPUAN Artikel Bagan Mahram Laki-Laki dan Perempuan pertama kali tampil pada Pustaka.

Hati-Hati Tukar Uang Jelang Lebaran
Artikel
Tahfidz Al-Qur'an

Hati-Hati Tukar Uang Jelang Lebaran

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Lebaran sering kali menjadi momen yang sangat dinantikan untuk berkumpul bersama keluarga. Pada waktu inilah banyak orang yang dapat kembali bersua dengan kerabat dan sanak saudara setelah sekian lama disibukkan oleh aktivitas sehari-hari. Di Indonesia, libur Lebaran dimanfaatkan oleh masyarakat untuk saling bersilaturahmi, mengunjungi rumah keluarga, serta melakukan tradisi mudik ke kampung halaman, khususnya bagi mereka yang merantau atau tinggal di luar daerah. Suasana kebersamaan, saling memaafkan, dan mempererat hubungan kekeluargaan menjadi ciri khas yang melekat dalam Idulfitri. Untuk menyambut momen istimewa tersebut, berbagai persiapan biasanya telah dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya. Mulai dari membersihkan rumah, menyiapkan hidangan khas Lebaran, membeli pakaian baru, hingga menyiapkan uang Lebaran yang akan dibagikan kepada anak-anak atau kerabat yang lebih muda. Tradisi memberikan uang Lebaran sendiri telah menjadi kebiasaan yang cukup melekat di tengah masyarakat sebagai bentuk berbagi kebahagiaan dan rasa syukur di hari yang penuh kemenangan. Umumnya, uang Lebaran disiapkan dengan cara menukarkan uang pecahan besar menjadi pecahan yang lebih kecil melalui bank atau jasa penukaran uang lainnya. Hal ini dilakukan agar uang yang dibagikan lebih praktis dan mudah diberikan kepada banyak orang. Namun, dalam praktiknya sering kali ditemukan adanya selisih antara jumlah uang yang ditukarkan dengan jumlah uang yang diterima. Selisih tersebut biasanya dianggap sebagai biaya jasa penukaran, sehingga tidak jarang kegiatan penukaran uang ini terlihat menyerupai praktik jual beli uang. Dalam Islam, kegiatan tukar-menukar uang pada dasarnya diperbolehkan selama dilakukan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam syariat. Salah satu prinsip penting dalam pertukaran uang adalah tidak adanya selisih pada nilai uang yang ditukarkan. Artinya, uang yang diserahkan harus sama dengan nilai uang yang diterima, tanpa adanya penambahan ataupun pengurangan dari salah satu pihak. Apabila dalam proses serah terima terjadi selisih antara jumlah uang yang ditukarkan dengan jumlah yang diterima, maka transaksi tersebut telah mengandung riba. Dalam Islam, riba merupakan perbuatan yang dilarang karena mengandung ketidakadilan dalam transaksi. Oleh karena itu, praktik tukar-menukar uang yang mengandung selisih nilai tidak dibenarkan dan dapat menyebabkan kedua belah pihak terjerumus dalam perbuatan yang diharamkan. Sebagai contoh, si Fulan menukarkan uang sebesar Rp100.000 kepada si Fulano untuk ditukar dengan pecahan yang lebih kecil. Namun, si Fulano mengatakan kalau si Fulan harus menyerahkan uang sebesar Rp130.000 agar penukaran tersebut dapat dilakukan. Kelebihan sebesar Rp30.000 dari jumlah yang seharusnya ditukarkan inilah yang dianggap sebagai riba. Agar tukar menukar uang tersebut tidak mengandung riba, guru mulia kita Buya Yahya telah menganjurkan kita untuk memperhatikan tiga hal berikut: Jumlah uang yang ditukarkan tidak memiliki selisih. Artinya, jika menukar uang pecahan besar ke pecahan kecil, maka nilai uang tersebut harus sama. Misalnya uang Rp100.000 ditukar dengan uang pecahan Rp2000 senilai Rp100.000. Jika terjadi selisih seperti Rp10000 menjadi Rp120.000 tanpa akad yang terpisah, maka kita telah melakukan riba fadl. Dilakukan di waktu yang sama atau tidak ditunda. Artinya, kita melakukan tukar menukar uang di waktu yang sama. Jika kita menukar uang tetapi uang yang hendak kita tukarkan diberikan keesokan harinya atau kita menukar uang pecahan besar tetapi uang pecahan kecil diberikan keesokan harinya, maka hal itu termasuk riba yang disebut sebagai riba Transaksi harus langsung. Jika transaksi penukaran uang tidak dilakukan secara langsung, maka transaksi tersebut dianggap transaksi yang mengandung riba, yaitu riba nasi’ah. Karena itu, agar si Fulan bisa menggunakan jasa penukaran uang dari si Fulano, maka dia bisa melakukannya dengan memperhatikan tiga hal tersebut, yakni: melakukannya secara langsung; di waktu yang sama; serta memisahkan akad penukaran uang dan akad pembayaran jasa penukaran. Jika dilakukan dengan cara ini, maka transaksi yang dilakukan telah terhindar dari riba. Sebagai contoh, si Fulan ingin menukarkan uang sebesar Rp100.000 ke dalam pecahan yang lebih kecil. Ketika transaksi tersebut akan dilakukan, si Fulano menyampaikan bahwa si Fulan harus membayar biaya jasa penukaran uang sebesar Rp30.000 pada saat itu juga. Setelah terjadi kesepakatan antara kedua belah pihak, maka pertama-tama si Fulano menukarkan uang Rp100.000 milik si Fulan dengan uang pecahan kecil yang nilainya tetap Rp100.000. Setelah proses penukaran selesai, barulah si Fulan memberikan uang sebesar Rp30.000 kepada si Fulano sebagai pembayaran atas jasa penukaran uang yang telah disediakan. Sebagai catatan, uang jasa tersebut tidak boleh langsung dipotong atau diambil dari jumlah uang yang ditukarkan apabila akadnya tidak dipisahkan. Jika biaya jasa langsung digabungkan dengan transaksi penukaran uang, maka hal tersebut berpotensi menjadikan transaksi tersebut mengandung unsur riba. Oleh karena itu, pemisahan akad antara penukaran uang dan pembayaran jasa menjadi hal yang penting untuk diperhatikan agar transaksi tetap sesuai dengan prinsip-prinsip yang dibenarkan dalam Islam. Kita harus waspada saat menggunakan jasa penukaran uang agar niat baik untuk menyenangkan keluarga tetap terbebas dari riba. Sering kali seseorang melakukan kesalahan tanpa menyadarinya. Ketika ingin menyenangkan anak-anak dengan memberikan uang baru kepada mereka, tetapi caranya mengandung riba, maka hal tersebut justru dapat membuat kita terjerumus ke dalam perbuatan yang haram dan berdosa.   Penulis: Fahmi Sidik Marunduri Penyunting: Idan Sahid Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.     Artikel Hati-Hati Tukar Uang Jelang Lebaran pertama kali tampil pada Pustaka.

Bolehkah Mendukung Iran yang Mayoritas Beraqidah Syiah?
Artikel
Tahfidz Al-Qur'an

Bolehkah Mendukung Iran yang Mayoritas Beraqidah Syiah?

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Akhir-akhir ini, dunia sedang terfokus pada peperangan yang terjadi di Timur Tengah. Yakni peperangan antara Israel yang didukung oleh sekutunya yaitu Amerika Serikat melawan Iran: negara dengan mayoritas penganut Syiah. Di media sosial, ramai masyarakat Indonesia yang mendukung perlawanan Iran. Akan tetapi, banyak juga yang tidak mendukungnya karena negara tersebut mayoritas menganut aqidah Syiah. Salah satu alasan orang yang mendukungnya karena Iran membela saudara seiman kita yakni Palestina. Sedangkan yang tidak mendukung beranggapan walaupun Iran membela Palestina, kita jangan mendukungnya karena aqidahnya yang berbeda. Artinya, kelompok ini menganggap jika mendukung Iran berarti sama saja kita mendukung aqidah Syiah yang menyimpang dari ajaran Islam. Dalam situasi seperti ini, bagaimana sikap kita selaku Islam Ahlusunnah? Apakah kita boleh mendukung langkah Iran karena membela Palestina ataukah ada batasan terhadap golongan yang berbeda aqidah?   Bentuk Dukungan atas Dasar Kemanusiaan Dalam hal ini Buya Yahya memberikan jawaban yang sangat bijak. Siapa pun yang menyuarakan dan membela Palestina atas kedzaliman yang dilakukan Israel harus kita dukung bersama. Bukan berarti ikut keyakinan orang yang berbeda dengan kita, namun kita mendukung perlawanannya sebagai bentuk dukungan kemanusiaan. “Siapa pun yang ingin membela Palestina saat ini, maka tentu kita harus dukung bersama. Sekarang dukungan bukan dari yang mengaku Islam saja. Di luar Islam pun banyak dukungan untuk orang Palestina.” Masih menurut Buya Yahya, kita perlu menyuarakan kepada masyarakat di seluruh dunia tentang kejahatan yang dilakukan Israel. Bahwa kedzaliman yang dilakukan oleh Israel itu harus dihentikan. “Apakah nanti muncul orang dari Iran, atau nanti dari Inggris, atau nanti dari Cina. Selagi untuk menghancurkan kedzaliman kepada kemanusiaan, mereka adalah pejuang dunia. Jangan sampai gara-gara berbeda keyakinan menjadikan kita tidak tahu ada musuh bersama yang membahayakan dunia. Ini urusan tentang kemanusiaan.” Selain itu, penting untuk kita panjatkan doa untuk masyakat Palestina agar senantiasa diberi kekuatan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Termasuk memberikan dukungan berupa donasi untuk kebutuhan, serta melakukan boikot terhadap produk-produk yang terafiliasi ikut membantu mempersenjatai Israel. Masyarakat dunia yang kini mengecam tindakan Israel yang melakukan genosida di Palestina dan membela Iran adalah orang-orang yang hidup hatinya. Maka jangan kaget jika bertemu dengan yang berbeda keyakinan dengan kita lalu membela Palestina, karena berbicara urusan kemanusiaan. Buya Yahya menambahkan: “Sekarang orang berbondong-bondong membela, bukan hanya orang Islam saja. Mereka orang punya nurani itu. Nurani. Batin nuraninya hidup. Ini bukan tentang urusan agama. Walaupun di sana ada unsur agama ada. Tapi hati nurani hidup.”   Menyikapi Seorang Muslim yang Tidak Memiliki Hati Nurani Buya menjelaskan terkait sebagian orang yang mengaku Muslim namun menjadikan penderitaan yang dialami rakyat Palestina sebagai guyonan, bahkan ada yang secara terang-terangan membela apa yang dilakukan Israel. Beliau pun mengingatkan apabila ada kaum muslimin yang simpati terhadap orang yang menjadikan Palestina sebagai bahan ejekan dan menganggap bahwa tidak terjadi sebuah pelanggaran yang dilakukan Israel adalah orang yang bermasalah. Tidak memiliki hati nurani. “Anda itu, tidak merasa risih dengan orang-orang semacam itu, ada masalah dalam diri Anda. Masa Anda melihat orang yang tertawa di balik musibah kok masih tenang-tenang saja. Saya tidak bicara kepada mereka yang tidak memiliki hati nurani. Saya bicara kepada Anda yang mengaku mempunyai hati nurani. Apa perasaan Anda?” Sebagai penutup, Buya Yahya berpesan bahwa seorang Muslim memiliki tingkatan yang lebih tinggi. Selain urusan kemanusiaan, membantu Palestina adalah hubungan keimanan kita dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selanjutnya mengimbau agar kaum muslimin senantiasa berusaha sekuat tenaga untuk membantu saudara kita di Palestina dengan segala kemampuan yang dimiliki secara maksimal serta tidak mempermasalahkan golongan yang berbeda dalam membela Palestina karena itu tugas bersama dalam misi kemanusiaan.   Sumber: Youtube Al-Bahjah TV Penulis: Ivan Arief Rachman, S.Pd. Penyunting: Idan Sahid Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.     Artikel Bolehkah Mendukung Iran yang Mayoritas Beraqidah Syiah? pertama kali tampil pada Pustaka.

Menampilkan 12 dari 64 publikasi

Sekolah Ponpes Al-Bahjah: Pusat Informasi dan Pendaftaran

Analisis komprehensif sistem pendidikan info_archive dalam ekosistem LPD Al-Bahjah Cirebon untuk mempersiapkan generasi visioner yang beradab dan kompetitif.

Transformasi Karakter melalui Jalur info_archive

Pesantren Al-Bahjah adalah oase pendidikan bagi Keluarga Visioner. Menggabungkan kedalaman sanad keilmuan Hadramaut dengan keunggulan akademik nasional dalam lingkungan tanpa gadget.

Tiga Pilar Utama Ekosistem Al-Bahjah

  • Pendidikan Formal (SDIQu, SMPIQu, SMAIQu): Integrasi Kurikulum Nasional dengan Diniyah Salaf dan Tahfidz intensif.
  • Jalur Muadalah (Pondok Tahfidz & Tafaqquh): Fokus mutlak pada hafalan 30 Juz dan penguasaan Kitab Kuning dengan ijazah penyetaraan resmi.
  • STAI Al-Bahjah: Pendidikan tinggi untuk mencetak sarjana ahli syariah yang beradab dan profesional.

Geser tutup »

dari di albahjah.org.

Logo

Saluran Al-Bahjah

Verified WhatsApp Channel

Dapatkan update harian, agenda penting, dan informasi pendaftaran langsung di WhatsApp Anda tanpa menyimpan nomor.

Update Cepat & Akurat
Privasi Nomor Terjamin
Gabung Saluran