Sekolah Ponpes Al-Bahjah: Pusat Informasi dan Pendaftaran

Pusat Literasi Digital

Pustaka Ilmu.

Eksplorasi ribuan materi edukasi, transkrip mutiara hikmah, dan video tutorial dari ekosistem pendidikan Al-Bahjah.

Peluang Santri Masuk IPB, Al-Bahjah Bahas Jalur SNBP, SNBT, dan BUD
Artikel
Al-Bahjah

Peluang Santri Masuk IPB, Al-Bahjah Bahas Jalur SNBP, SNBT, dan BUD

Bogor – Yayasan Lembaga Pengembangan Dakwah (LPD) Al-Bahjah melaksanakan audiensi dengan pimpinan IPB University pada Rabu, 19 Syawal 1447 H / 8 April 2026 M, bertempat di Kampus Pascasarjana IPB Baranangsiang, Bogor. Audiensi ini dihadiri oleh Wakil Rektor 1 Bidang Akademik dan Kemahasiswaan IPB, Prof. Drh. Deni Noviana, Ph.D., DAiCVIM., didampingi Direktur Administrasi Pendidikan dan Penerimaan Mahasiswa Baru, Dr. Utami Dyah Syafitri, S.Si., M.Si., serta Direktur Kerja Sama IPB, Dr. Hamzah, S.Pd., M.Si. Sementara itu, dari pihak Yayasan Al-Bahjah turut hadir Ketua Umum Yayasan Al-Bahjah, Ust. Bambang Siswanto, S.T., M.Pd., Wakil Ketua Umum Bidang Pendidikan, Ust. Carnawi, M.Pd., Kepala Divisi Perguruan Tinggi, Ust. Imam Abdullah, B.Sc., M.A., Kepala Subdivisi Seleksi dan Kerja Sama Perguruan Tinggi, Ust. Ilham Nurhidayah, S.Pd., Ketua STAI Al-Bahjah, Ust. Muhamad Sachu, Lc., M.E., serta Wakil Ketua I Bidang Akademik, Gus Zamzami Ar-Rahbini, B.Sc., M.A. Pemaparan Jalur Masuk IPB University Dalam pertemuan tersebut, pihak IPB University memaparkan berbagai jalur penerimaan mahasiswa baru. Beberapa di antaranya meliputi jalur SNBP (berbasis nilai rapor), SNBT (berbasis UTBK), jalur mandiri, serta jalur khusus seperti Ketua OSIS, jalur talenta/tahfidz, dan Beasiswa Utusan Daerah (BUD). Disampaikan bahwa jalur SNBP memiliki porsi kuota sekitar 40 persen. Proses seleksi ini mempertimbangkan akreditasi sekolah, nilai rapor, kesesuaian dengan program studi, indeks sekolah, hingga rekam jejak alumni. Pihak IPB menekankan secara tegas bahwa siswa yang telah dinyatakan lolos melalui jalur SNBP wajib mengambil kesempatan tersebut. Jika dilepas, hal ini dapat berdampak buruk pada rekam jejak sekolah maupun siswa yang bersangkutan ke depannya. Peluang Emas Santri Melalui Jalur BUD dan Talenta Dalam kesempatan yang sama, IPB membuka peluang kerja sama melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD) berbasis kemitraan. Program strategis ini memberikan kesempatan bagi lembaga pendidikan, termasuk pesantren, untuk mengirimkan peserta didik terbaiknya ke IPB melalui skema kerja sama resmi. Pihak IPB juga membagikan informasi mengenai sejumlah program studi yang memiliki peluang besar untuk ditembus. Beberapa di antaranya adalah bidang sains murni seperti matematika dan fisika, serta program-program di sektor perikanan, peternakan, dan kehutanan. Program studi baru seperti Teknik Mesin dan Teknik Kimia juga menjadi opsi strategis ke depan. Menariknya, jalur masuk IPB via jalur talenta, khususnya pada program sarjana terapan (vokasi), masih relatif jarang terisi. Kondisi ini menjadi peluang besar bagi santri berprestasi. Hal ini membuka ruang bagi pesantren untuk lebih aktif mendorong peserta didiknya memanfaatkan ceruk jalur tersebut. Sinergi Ke Depan Yayasan Al-Bahjah dalam audiensi ini menyampaikan komitmen kuatnya untuk terus meningkatkan kualitas akademik santri serta memperluas akses mereka ke perguruan tinggi negeri, khususnya IPB University. Edukasi pemahaman jalur masuk perguruan tinggi kepada santri dan orang tua menjadi perhatian penting yayasan dalam waktu dekat. Sebagai tindak lanjut, kedua belah pihak sepakat menjalin komunikasi lebih intensif, mencakup rencana sosialisasi lanjutan kepada santri dan wali santri, serta penyiapan dokumen kerja sama (MoU) yang diperlukan. Audiensi ini diharapkan menjadi langkah awal yang strategis dalam memperkuat sinergi antara Yayasan Al-Bahjah dan IPB University guna mencetak generasi santri yang unggul dan berdaya saing di tingkat nasional.

Kita Tidak Krisis Teknologi Tapi Krisis Akhlak
Artikel
Tahfidz Al-Qur'an

Kita Tidak Krisis Teknologi Tapi Krisis Akhlak

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Saat ini kita hidup di era modern, infrastuktur semakin maju, teknologi berkembang begitu pesat, dan segala informasi dengan mudah kita dapat. Semua itu bisa kita lakukan melalui gadget. Akan tetapi, semakin majunya perkembangan teknologi justru orang-orang berpotensi lebih besar untuk saling membenci. Teknologi tidak pernah salah, karena ia hanyalah alat untuk membantu aktivitas manusia. Ia bisa digunakan untuk kebaikan, bisa juga untuk keburukan. Artinya, jika kita jumpai pada teknologi atau aplikasi yang isinya bertentangan dengan etika sosial ataupun agama, itu bukan karenanya teknologinya yang salah, tetapi kita yang salah dalam menggunakan teknologi tersebut. Kita sering kali menjumpai komentar-komentar negatif di media sosial, baik yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang yang memang dibayar untuk itu (buzer), penyebaran berita-berita hoax, konten adu domba yang tak jarang menyerang tokoh-tokoh agama, serta konten-konten yang berisi caci maki atau merendahkan individu maupun kelompok tertentu. Dunia maya terasa bebas tanpa aturan karena siapa pun bisa berekspresi di dalamnya. Akan tetapi terkadang kebablasan dan tidak berakhlak, sehingga menimbulkan perpecahan dan konflik. Kita pintar, tapi kita kurang bijak dalam menyikapi sesuatu hal di media sosial. Banyak orang yang jago berteknologi tapi lupa dengan etika. Cepat bereaksi terhadap sesuatu, tapi lambat dalam berpikir. Banyak juga dari kita lebih mengejar viral daripada menyebarkan kebenaran. Merasa lebih membutuhkan popularitas daripada integritas. Tanpa sadar kita juga sering merendahkan orang lain melalui media sosial, menertawakan orang yang kulitnya hitam, merendahkan orang dengan wajah yang pas-pasan, mencemooh orang yang berpakaian seadanya, tidak memiliki empati kepada orang yang memiliki kelainan, dan agama menjadi bahan candaan. Sebenarnya yang kita hadapi saat ini adalah bukan lagi krisis sinyal internet atau teknologi, tapi krisis akhlak. Kita sudah mulai lupa dengan etika yang diajarkan oleh guru-guru di sekolah atau madrasah. Begitu juga dengan nasihat-nasihat orang tua yang selalu mengajarkan kita untuk terus berbuat baik di mana pun, kapan pun, dan dengan siapa pun. Di saat kita kecil selalu diajarkan untuk berbicara dengan sopan dan memperlakukan orang lain dengan baik. Akan tetapi setelah dewasa kita sudah tidak pernah lagi mengamalkan itu. Kita berbicara dengan begitu bebasnya dan memperlakukan orang lain dengan seenaknya tanpa memikirkan sebab dan akibatnya. Hingga tak jarang memicu adanya konflik karena orang lain merasa tersinggung atau sakit hati dengan ucapan kita, ingatlah bahwa “mulutmu, harimaumu”. Mengapa hal demikian bisa terjadi? Umumnya karena kurang dibiasakan menerapkan adab sejak kecil. Selain itu lingkungan yang kurang baik juga menjadi pengaruh besar dalam membentuk akhlak seseorang. Sebab, kebiasaan terbentuk dari lingkungan, apabila lingkungannya baik maka ia akan ikut baik, begitu pun sebaliknya. Ditambah lagi dengan konten-konten negatif yang bertebaran di media sosial turut menjadi pemicu pergeseran akhlak pada generasi penerus kita. Kita sering menganggap nilai agama sebagai opsional bukan suatu kaharusan. Padahal agamalah yang menjadi benteng terakhir dalam menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Bagi siapa pun yang membaca tulisan ini, mari kita sama-sama belajar menerapkan akhlak pada diri kita dan orang-orang di sekitar kita, baik di dunia nyata ataupun di dunia maya. Mulailah dari diri sendiri, menyaring suatu informasi sebelum di-sharing, menjaga lisan dan tulisan baik dalam keadaan marah ataupun senang. Gunakan teknologi dengan bijak untuk hal-hal yang bermanfaat. Ingatlah bahwasannya apa pun yang kita lakukan akan di pertanggungjawabkan termasuk postingan-postingan dan komentar-komentar kita di media sosial. Teknologi boleh maju, tapi akhlak jangan sampai mundur. Jadilah generasi yang bukan hanya pintar dalam penggunaan teknologi, tapi juga generasi yang mempunyai empati, adab, dan nurani, sehingga setiap tindakan yang kita lakukan terarah bukan hanya ikut-ikutan. Jadilah pribadi yang pintar dalam segala bidang, mudah bergaul dengan siapa saja, tapi tetap menggunakan akhlak dalam berkomunikasi baik di dunia nyata ataupun di dunia maya.   Penulis: Moh. Minanur Rohman Penyunting: Idan Sahid Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.     Artikel Kita Tidak Krisis Teknologi Tapi Krisis Akhlak pertama kali tampil pada Pustaka.

Buya Yahya: Silaturahmi yang Benar Harus Menggabungkan Aspek Zahir dan Batin
Artikel
Tahfidz Al-Qur'an

Buya Yahya: Silaturahmi yang Benar Harus Menggabungkan Aspek Zahir dan Batin

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Silaturahmi diambil dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata, yaitu Shilatun (صلة) yang berarti penghubung, ikatan atau penyambung, dan Rahim (رحم) yang bertarti kasih sayang. Maka silaturahmi berarti penghubung/pengikat/penyambung kasih sayang. Silaturahmi juga merupakan istilah yang digunakan untuk suatu kegiatan sosial yang bertujuan untuk mempererat kasih sayang kepada sesama, baik saudara, teman atau orang yang sama sekali belum kita kenal. Banyak sekali bentuk silaturahmi yang bisa kita lakukan untuk menguatkan tali persaudaraan dan kasih sayang terhadap sesama. Seperti berkunjung ke rumah-rumah, bertukar kabar melalui sosial media, atau hanya sekadar bertegur sapa yang diiringi dengan senyum dan salam saat bertemu di jalan. Silaturahmi bukan hanya sekadar kegiatan sosial, namun merupakan sesuatu yang sangat terpuji dan memiliki banyak sekali manfaat. Baik secara umum, seperti mendatangkan ketenangan hati dan juga kebahagiaan serta bisa meningkatkan kesehatan mental. Ataupun manfaat khusus karena didasari dengan iman, seperti mendapatkan rahmat dan ampunan dari Allah, dimudahkan jalan menuju surga, dan masih banyak yang lainnya. Oleh karena itu silaturahmi memiliki nilai pahala yang sangat besar dalam Islam. Bahkan, ada kecaman yang sangat mengerikan bagi orang-orang yang memutus silaturahim. Baginda Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى أَفْضَلِ الْأَخْلَاقِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ; تَعْفُو عَمَّنْ ظَلَمَكَ وَتَصِلُ مَنْ قَطَعَكَ وَتُعْطِي مَنْ مَنَعَك “Aku tunjukkan kepadamu bahwa sebaik-baik akhlak di dunia dan akhirat adalah jika engkau memaafkan orang-orang yang berbuat dzalim kepadamu, dan menyambung kasih sayang dengan orang-orang yang berbuat aniaya kepadamu, dan memberi kepada orang yang menghalangimu dari pemberian.” (HR. Ibnu Majah dan At Tirmiidzi) Silaturahmi juga menjadi salah satu amalan yang menyebabkan kita masuk surga, sebagaimana hadis Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam: يَا أيُّهَا النَّاسُ، أفْشُوا السَّلَامَ، وَأطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصِلُوا الأرْحَامَ، وَصَلُّوا والنَّاسُ نِيَامٌ، تَدْخُلُوا الجَنَّةَ بِسَلَام )رواه الترمذي( “Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, sambunglah tali silaturahim, dan shalatlah di waktu malam ketika manusia tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.” (HR At-Tirmidzi) Selain itu juga, terdapat hadis-hadis yang menyebutkan keutamaan silaturahmi sebagai sebab penggugur dosa, pembuka pintu rezeki, dan memanjangkan umur, serta yang lainnya. Begitu mulia dan agungnya pahala silaturahmi. Akan tetapi, silaturahmi yang memiliki nilai pahala adalah yang dilakukan dengan memenuhi syaratnya, bukan hanya basa-basi sosial tanpa dilandasi niat yang tulus. Menurut Buya Yahya, silaturahmi yang benar harus menggabungkan dua aspek: zahir (fisik) dan batin (hati). Syarat utamanya meliputi niat tulus menyambung hubungan, memaafkan, mendoakan kerabat sebelum dan setelah bertemu, tidak sombong, serta menjaga syariat, khususnya dalam berinteraksi dengan lawan jenis, sekaligus menghindari prasangka buruk. Sudah seharusnya bagi kita untuk menghadirkan niat tersebut dan menjauhkan diri dari berpamer ria menunjukkan hasil kerja dan merendahkan keluarga dan saudara yang masih berproses, justru seharusnya kita bisa saling membantu antarsesama. Pertemuan yang tidak didasari dengan niat yang tulus, bahkan disertai dengan saling merendahkan atau menyakiti orang lain, tidak akan menumbuhkan kasih sayang dan silaturahmi. Justru itulah yang memutus tali silaturahmi, memecah hubungan persaudaraan, dan menumbuhkan kebencian. Itulah orang-orang yang disebut sebagai Qathi’urrohim yang diancam oleh Baginda Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam sebagai berikut: مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ تَعَالَى لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا – مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْبَغْيِ وَقَطِيْعَةِ الرَّحِمِ “Tidak ada dosa yang lebih pantas disegerakan balasannya bagi para pelakunya di dunia bersama dosa yang disimpan untuknya di akhirat daripada perbuatan dzalim dan memutus silaturahmi.” (HR Abu Daud) Begitulah keutamaan silaturahmi dan ancaman bagi orang yang memutusnya. Semoga kita senantiasa bisa menjalin dan mempererat silaturahmi kita dengan keluarga, saudara, teman, guru dan semuanya, tentunya dengan menjaga adab dan syari’at Islam. Bukan hanya pada momen-momen tertentu seperti saat Idulfitri. Namun setiap hari, baik saat bertemu atau dengan media sosial di saat jauh. Wallahu A’lam Bisshowab   Penulis: Habibullah Penyunting: Idan Sahid   Artikel Buya Yahya: Silaturahmi yang Benar Harus Menggabungkan Aspek Zahir dan Batin pertama kali tampil pada Pustaka.

Liburan Usai, Suasana Berbeda: Dua Golongan Santri Saat Kembali ke Pesantren
Artikel
Tahfidz Al-Qur'an

Liburan Usai, Suasana Berbeda: Dua Golongan Santri Saat Kembali ke Pesantren

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Liburan telah usai, sudah waktunya para santri kembali ke pondok untuk meneruskan perjuangan menuntut ilmu. Balik ke pondok atau disingkat balpon ini menjadi istilah yang populer pada kalangan santri, terutama setelah liburan panjang bulan Ramadan hingga Syawwal. Sebagian santri menyambut balpon dengan semangat dan antusias karena kerinduan mereka terhadap belajar dan suasana pondok. Meski di dalamnya tidak hanya ada kesenangan tetapi juga terdapat kesusahan, namun bagi santri yang serius dan tulus belajar, setiap kesusahan dan kesenangan itu dijadikan pengalaman yang indah dan tak terlupakan. Di samping itu, ada sebagian lainnya yang menyambut kembalinya mereka ke pondok ini secara biasa saja. Bahkan ada yang merasa sangat berat untuk kembali ke pondok, sehingga kurangnya ghiroh atau semangat dalam hatinya untuk kembali belajar. Hal tersebut dipengaruhi oleh berbagai hal, salah satunya karena manajemen liburan saat menuntut ilmu yang kurang baik. Liburan memang merupakan waktu yang sangat berharga bagi para santri. Namun setiap santri berbeda-beda dalam memanfaatkan waktu liburan tersebut. Jika digolongkan maka ada dua golongan santri saat berlibur. Santri yang Beruntung Santri yang beruntung yaitu santri yang mengisi waktu liburannya dengan hal-hal yang bermanfaat. Mengamalkan ilmu yang telah didapat di pondok pesantren, mulai dari mendawamkan dzikir harian dan amalan-amalan sunnah yang biasa dilakukan di pondok. Seperti bangun malam, shalat Dhuha dan lainnya, berkhidmah kepada orang tua, muroja’ah, atau mengulang pelajaran dan hafalan. Golongan pertama ini juga melakukan hobi dan hiburan. Akan tetapi mereka menjalankan hobi dan hiburan-hiburan yang tidak melanggar syariat serta dengan memperhatikan waktu. Maka bagi para santri yang menggunakan waktu liburannya dengan demikian, tidak akan merasa berat ketika waktunya kembali ke pondok. Bahkan belajarnya setelah liburan justru akan berjalan lancar. Sebab, materi-materi yang dipelajari sebelumnya terus diulang dan tidak terputus saat liburan. Santri yang Rugi Santri yang rugi yaitu santri yang mengisi waktu liburannya dengan hal-hal yang bertolak belakang dari golongan pertama. Mereka justru mengisi waktu liburnya dengan hal-hal yang sia-sia. Seperti bermain gadget atau menonton TV tanpa memperhatikan waktu, berkumpul dengan teman masa kecilnya namun tidak bisa menyaring hal-hal buruk yang ada dalam perkumpulan tersebut sehingga terbawa dalam ketidakbaikannya, melalaikan pelajaran yang sudah dipelajari di pondok pesantren, dan hal-hal yang sia-sia lainnya. Maka bagi santri yang mengisi waktu liburan dengan hal-hal demikian, sudah pasti akan merasa berat ketika harus kembali ke pondok. Sebab mereka merasa semua kebebasan saat berlibur yang tanpa ada pengawasan dari pengurus dan tanpa hukuman, membuat mereka harus kembali menyesuaikan dengan kegiatan pondok. Di samping penyesuaian itu tentu membutuhkan waktu yang terkadang tidak sebentar, sehingga tidak hanya membuang waktu, tetapi juga terasa sangat berat. Nabi Muhammad Salallahu ‘Alahi Wassalam bersabda: من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه “Termasuk kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.” Ini adalah sebuah pesan dari Baginda Nabi Muhammad Salallahu ‘Alahi Wassalam untuk seluruh umatnya, terutama bagi para santri dan penuntut ilmu di mana pun berada. Hendaknya bagi kita sebagai umat Islam terlebih para santri, agar memperhatikan setiap pekerjaan yang dilakukan dan kalimat yang diucapkan. Jika hal tersebut tidak bermanfaat secara dzahir dan batin serta dunia dan akhirat, maka sebaiknya kita tinggalkan jauh. Ini adalah pesan yang sangat penting, khususnya bagi para santri yang saat ini akan atau sudah kembali ke pondok pesantren, agar senantiasa fokus dalam perjalanannya menuntut ilmu guna membela agama Allah dan mengangkat syi’ar Islam kelak di kemudian hari. Wallahu A’lam bisshowab   Penulis: Habibullah Penyunting: Idan Sahid Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.     Artikel Liburan Usai, Suasana Berbeda: Dua Golongan Santri Saat Kembali ke Pesantren pertama kali tampil pada Pustaka.

Menampilkan 12 dari 77 publikasi

Sekolah Ponpes Al-Bahjah: Pusat Informasi dan Pendaftaran

Analisis komprehensif sistem pendidikan info_archive dalam ekosistem LPD Al-Bahjah Cirebon untuk mempersiapkan generasi visioner yang beradab dan kompetitif.

Transformasi Karakter melalui Jalur info_archive

Pesantren Al-Bahjah adalah oase pendidikan bagi Keluarga Visioner. Menggabungkan kedalaman sanad keilmuan Hadramaut dengan keunggulan akademik nasional dalam lingkungan tanpa gadget.

Tiga Pilar Utama Ekosistem Al-Bahjah

  • Pendidikan Formal (SDIQu, SMPIQu, SMAIQu): Integrasi Kurikulum Nasional dengan Diniyah Salaf dan Tahfidz intensif.
  • Jalur Muadalah (Pondok Tahfidz & Tafaqquh): Fokus mutlak pada hafalan 30 Juz dan penguasaan Kitab Kuning dengan ijazah penyetaraan resmi.
  • STAI Al-Bahjah: Pendidikan tinggi untuk mencetak sarjana ahli syariah yang beradab dan profesional.

Geser tutup »

dari di albahjah.org.

Logo

Saluran Al-Bahjah

Verified WhatsApp Channel

Dapatkan update harian, agenda penting, dan informasi pendaftaran langsung di WhatsApp Anda tanpa menyimpan nomor.

Update Cepat & Akurat
Privasi Nomor Terjamin
Gabung Saluran