
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Saat ini kita hidup di era modern, infrastuktur semakin maju, teknologi berkembang begitu pesat, dan segala informasi dengan mudah kita dapat. Semua itu bisa kita lakukan melalui gadget. Akan tetapi, semakin majunya perkembangan teknologi justru orang-orang berpotensi lebih besar untuk saling membenci.
Teknologi tidak pernah salah, karena ia hanyalah alat untuk membantu aktivitas manusia. Ia bisa digunakan untuk kebaikan, bisa juga untuk keburukan. Artinya, jika kita jumpai pada teknologi atau aplikasi yang isinya bertentangan dengan etika sosial ataupun agama, itu bukan karenanya teknologinya yang salah, tetapi kita yang salah dalam menggunakan teknologi tersebut.
Kita sering kali menjumpai komentar-komentar negatif di media sosial, baik yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang yang memang dibayar untuk itu (buzer), penyebaran berita-berita hoax, konten adu domba yang tak jarang menyerang tokoh-tokoh agama, serta konten-konten yang berisi caci maki atau merendahkan individu maupun kelompok tertentu. Dunia maya terasa bebas tanpa aturan karena siapa pun bisa berekspresi di dalamnya. Akan tetapi terkadang kebablasan dan tidak berakhlak, sehingga menimbulkan perpecahan dan konflik.
Kita pintar, tapi kita kurang bijak dalam menyikapi sesuatu hal di media sosial. Banyak orang yang jago berteknologi tapi lupa dengan etika. Cepat bereaksi terhadap sesuatu, tapi lambat dalam berpikir. Banyak juga dari kita lebih mengejar viral daripada menyebarkan kebenaran. Merasa lebih membutuhkan popularitas daripada integritas. Tanpa sadar kita juga sering merendahkan orang lain melalui media sosial, menertawakan orang yang kulitnya hitam, merendahkan orang dengan wajah yang pas-pasan, mencemooh orang yang berpakaian seadanya, tidak memiliki empati kepada orang yang memiliki kelainan, dan agama menjadi bahan candaan.
Sebenarnya yang kita hadapi saat ini adalah bukan lagi krisis sinyal internet atau teknologi, tapi krisis akhlak. Kita sudah mulai lupa dengan etika yang diajarkan oleh guru-guru di sekolah atau madrasah. Begitu juga dengan nasihat-nasihat orang tua yang selalu mengajarkan kita untuk terus berbuat baik di mana pun, kapan pun, dan dengan siapa pun. Di saat kita kecil selalu diajarkan untuk berbicara dengan sopan dan memperlakukan orang lain dengan baik. Akan tetapi setelah dewasa kita sudah tidak pernah lagi mengamalkan itu. Kita berbicara dengan begitu bebasnya dan memperlakukan orang lain dengan seenaknya tanpa memikirkan sebab dan akibatnya. Hingga tak jarang memicu adanya konflik karena orang lain merasa tersinggung atau sakit hati dengan ucapan kita, ingatlah bahwa “mulutmu, harimaumu”.
Mengapa hal demikian bisa terjadi? Umumnya karena kurang dibiasakan menerapkan adab sejak kecil. Selain itu lingkungan yang kurang baik juga menjadi pengaruh besar dalam membentuk akhlak seseorang. Sebab, kebiasaan terbentuk dari lingkungan, apabila lingkungannya baik maka ia akan ikut baik, begitu pun sebaliknya. Ditambah lagi dengan konten-konten negatif yang bertebaran di media sosial turut menjadi pemicu pergeseran akhlak pada generasi penerus kita. Kita sering menganggap nilai agama sebagai opsional bukan suatu kaharusan. Padahal agamalah yang menjadi benteng terakhir dalam menentukan mana yang baik dan mana yang buruk.
Bagi siapa pun yang membaca tulisan ini, mari kita sama-sama belajar menerapkan akhlak pada diri kita dan orang-orang di sekitar kita, baik di dunia nyata ataupun di dunia maya. Mulailah dari diri sendiri, menyaring suatu informasi sebelum di-sharing, menjaga lisan dan tulisan baik dalam keadaan marah ataupun senang. Gunakan teknologi dengan bijak untuk hal-hal yang bermanfaat. Ingatlah bahwasannya apa pun yang kita lakukan akan di pertanggungjawabkan termasuk postingan-postingan dan komentar-komentar kita di media sosial.
Teknologi boleh maju, tapi akhlak jangan sampai mundur. Jadilah generasi yang bukan hanya pintar dalam penggunaan teknologi, tapi juga generasi yang mempunyai empati, adab, dan nurani, sehingga setiap tindakan yang kita lakukan terarah bukan hanya ikut-ikutan. Jadilah pribadi yang pintar dalam segala bidang, mudah bergaul dengan siapa saja, tapi tetap menggunakan akhlak dalam berkomunikasi baik di dunia nyata ataupun di dunia maya.
Penulis: Moh. Minanur Rohman
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Artikel Kita Tidak Krisis Teknologi Tapi Krisis Akhlak pertama kali tampil pada Pustaka.