Sekolah Ponpes Al-Bahjah: Pusat Informasi dan Pendaftaran

Pusat Literasi Digital

Pustaka Ilmu.

Eksplorasi ribuan materi edukasi, transkrip mutiara hikmah, dan video tutorial dari ekosistem pendidikan Al-Bahjah.

Hari Santri 2025: Mengawal Merdeka, Menjaga Adab
Artikel
SDIQu Al-Bahjah

Hari Santri 2025: Mengawal Merdeka, Menjaga Adab

Tahun 2025 menjadi tahun istimewa. Indonesia genap 80 tahun merdeka. Mengiringi momentum itu, Al-Bahjah menyelenggarakan Maulid Nabi & Silaturahim Akbar (31/8/25), dan memperingati Hari Santri Nasional pada 29 Rabiul Akhir 1447 H. / 22 Oktober 2025. Tiga momentum ini seolah saling menyapa dan berpesan kepada bangsa ini: kemerdekaan yang sejati hanya akan hidup bila dijaga dengan ilmu dan adab. Tema Hari Santri tahun ini, “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia”, bukan sekadar slogan seremonial.  Tema yang mengingatkan bahwa kemerdekaan tidak berhenti pada tanggal dan bendera, namun harus tumbuh menjadi peradaban, dan di titik inilah peran santri, ulama, serta pesantren kembali mendapat tempat yang sangat penting. “Pondok pesantren adalah benteng terakhir,” pesan Buya Yahya dalam Maulid Akbar dan Silaturahim Satu Hati di Al-Bahjah, 7 Rabiul Awal 1447 H / 31 Agustus 2025.  Kalimat itu bukan sekadar nostalgia, tetapi peringatan. Ketika pondok-pondok mulai kehilangan makna, bangsa ini berisiko kehilangan arah. Mari kita pelajari lebih lanjut. Santri dan Ulama: Akar Kemerdekaan BangsaMaulid Nabi dan Kesadaran KolektifIsu dan Tantangan Pesantren Hari IniFilosofi Hari Santri 2025Jiwa Santri di Era DigitalMenjaga Merdeka dari Dalam Diri Santri dan Ulama: Akar Kemerdekaan Bangsa Sejarah mencatat, kemerdekaan Indonesia tidak lahir dari ruang kosong, tapi diperjuangkan oleh banyak tokoh yang lahir dan tumbuh dari pesantren.  Resolusi jihad tahun 1945 menjadi bukti bagaimana semangat keagamaan mampu menyalakan keberanian melawan penjajahan. Kini, setelah delapan puluh tahun merdeka, jumlah pesantren di Indonesia terus bertambah. Data Kementerian Agama tahun 2024 mencatat ada lebih dari 42 ribu pondok pesantren yang tersebar di seluruh penjuru negeri. Di dalamnya, jutaan santri menimba ilmu, menanamkan akhlak, dan membangun karakter bangsa. Pesantren bukan hanya tempat mengaji, tetapi juga pusat pembentukan watak dan disiplin hidup. Penelitian-penelitian pendidikan menegaskan bahwa sistem pondok telah terbukti membentuk kepribadian tangguh, sabar, dan mandiri, sesuatu yang sangat dibutuhkan di era modern yang serba cepat dan rapuh. Maulid Nabi dan Kesadaran Kolektif Peringatan Maulid Akbar 1447 H. di Al-Bahjah tahun ini membawa pesan dari Prof. Dr. Abdullah Bin Muhammad Baharun, rektor besar Universitas Al-Ahqof Yaman, yang diantaranya juga mengingatkan bahwa cinta kepada Rasulullah ﷺ tidak hanya diucapkan, tapi harus melahirkan cinta kepada sesama dan kepada negeri.  Dari pondok-pondoklah cinta itu dipelihara. Dari majelis ilmu lahir generasi yang tidak hanya beribadah, tapi juga membangun masyarakat dengan akhlak. Maka, ketika kita memperingati Maulid Nabi, sejatinya kita juga sedang memperingati sumber segala cinta dan peradaban.  Cinta yang membuat manusia berbuat baik tanpa pamrih. Cinta yang membuat bangsa ini tetap hidup meski diuji oleh zaman. Isu dan Tantangan Pesantren Hari Ini Namun di tengah semangat itu, muncul pula tantangan baru. Isu-isu negatif tentang pesantren mudah menyebar di media sosial.  Kasus individu sering dijadikan bahan untuk mengeneralisasi seluruh lembaga. Akibatnya, muncul pandangan keliru seolah pesantren adalah dunia tertutup yang harus dicurigai. Padahal, pesantren adalah bagian dari solusi. Pesantren menampung jutaan anak muda dari berbagai lapisan masyarakat, memberi mereka arah dan nilai.  Dalam laporan DataReportal 2025 disebutkan bahwa lebih dari 212 juta orang di Indonesia kini aktif menggunakan internet. Ini artinya, medan perjuangan pesantren hari ini bukan hanya di bilik belajar, tetapi juga di ruang digital. Narasi positif tentang santri dan ulama perlu diperbanyak. Literasi digital perlu diperkuat agar pesantren bisa tampil bukan sebagai peninggalan masa lalu, melainkan sebagai penjaga moral masa depan. Filosofi Hari Santri 2025 Logo Hari Santri 2025 menggambarkan “pita cakrawala” yang membentang dari timur ke barat. Warna merah putih melambangkan semangat nasionalisme, hijau menandakan kesejukan iman, dan cahaya di tengahnya menjadi simbol ilmu yang menerangi dunia. Filosofi ini sejalan dengan pesan besar peringatan tahun ini: santri tidak hanya menjaga Indonesia yang merdeka, tetapi juga membawa nilai-nilai luhur bangsa ke kancah global. Santri harus terbuka, adaptif, dan mampu berbicara dengan bahasa zaman tanpa kehilangan adab. Jiwa Santri di Era Digital Zaman berubah, tapi jiwa santri tidak pernah kehilangan arah.Jika dulu para santri menyalakan pelita dari bilik-bilik pesantren, kini mereka membawa cahaya itu ke ruang digital yang tak berbatas. Santri masa kini tidak lagi hanya duduk di serambi dan halaqah. Ia hadir di forum daring, di ruang diskusi, di konten yang menebar ilmu dan akhlak. Dunia boleh berpindah ke layar, tapi adab tetap menjadi pondasi. Bagi para alumni, asatidz, dan pengurus pesantren, ruang digital bukan ancaman, melainkan ladang dakwah dan pendidikan baru. Dari sini kita bisa menanamkan nilai keikhlasan, kejujuran, dan tanggung jawab, di tengah derasnya arus informasi yang sering kehilangan arah. Jihad santri hari ini tidak lagi mengangkat bambu runcing, tetapi pena, ide, dan kode. Mereka yang dulu menulis di kertas, kini menulis di ruang maya. Mereka yang dulu menyampaikan di mimbar, kini menyapa lewat layar. Namun ruhnya tetap sama:Tawadhu di hadapan ilmu, jujur dalam perjuangan, sabar dalam pengabdian, dan teguh menjaga marwah pesantren. Menjadi santri di era digital bukan sekadar melek teknologi, tapi mampu menyalurkan hikmah di tengah bisingnya dunia. Bukan sekadar aktif di media sosial, tapi hadir dengan niat menebar manfaat. Karena sejatinya, siapa pun yang masih menjaga adab, haus akan ilmu, dan berjuang memperbaiki diri, itulah yang disebut berjiwa santri. Menjaga Merdeka dari Dalam Diri Kemerdekaan sejati bukan hanya soal bebas dari penjajahan, tetapi bebas dari kebodohan, kebencian, dan kehilangan arah. Dan kebebasan semacam itu hanya bisa dijaga oleh mereka yang berilmu dan beradab. Pondok pesantren telah membuktikan diri sebagai penjaga keseimbangan antara iman dan kebangsaan. Dari sana lahir generasi yang mencintai Rasulullah ﷺ, menghormati ulama, dan mengabdi kepada negeri tanpa pamrih. Buya Yahya pernah berkata, jika pondok pesantren hilang, hilanglah arah bangsa ini. Maka menjaga pondok, berarti menjaga Indonesia. Cinta Rasul, cinta ilmu, dan cinta negeri, tiga hal yang seharusnya terus kita rawat di setiap sanubari. Karena dari cinta itulah kemerdekaan menemukan maknanya yang paling dalam. Mari teruskan cahaya ini bersama. Cahaya ilmu dan cinta Nabi ﷺ tidak berhenti di majelis, tapi terus mengalir di hati. Bergabunglah di Saluran WhatsApp kami, tempat berbagi inspirasi, nasihat ulama, info kegiatan bermanfaat, dan kisah perjuangan pesantren. Sumber Referensi Kementerian Agama Republik Indonesia. (2024). Sudah saatnya diwujudkan Direktorat Jenderal Pondok Pesantren. Diakses dari https://kemenag.go.id/opini/sudah-saatnya-diwujudkan-direktorat-jenderal-pondok-pesantren-lnCxK Katadata Insight Center. (2023). Ada lebih dari 30 ribu pesantren di Indonesia, ini sebarannya. Diakses dari https://databoks.katadata.co.id/pendidikan/statistik/7743406f18dc7ae/kemenag-ada-lebih-dari-30-ribu-pesantren-di-indonesia-ini-sebarannya Detik.com. (2025, 17 Oktober). Tema Hari Santri 2025, slogan, logo, dan susunan upacara lengkap. Diakses dari https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-8169137/tema-hari-santri-2025-slogan-logo-dan-susunan-upacara-lengkap IDN Times. (2025). Makna logo Hari Santri 2025: Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia. Diakses dari https://www.idntimes.com/life/inspiration/tema-hari-santri-2025-q9t04-00-6sxgf-x2yszf DataReportal. (2025, Februari). Digital 2025: Indonesia — The essential guide to the digital landscape. Diakses dari https://datareportal.com/reports/digital-2025-indonesia Riset IAI Darussalam. (2024). Peran pesantren dalam pembentukan karakter santri di era digital. Jurnal Pendidikan Islam, IAI Darussalam. Diakses dari https://riset-iaid.net/index.php/jppi/article/view/2173/1061 RSIS – Nanyang Technological University. (2023). Navigating pro-JI pesantrens in Indonesia: Understanding the roots and reform. Diakses dari https://rsis.edu.sg/rsis-publication/rsis/navigating-pro-ji-pesantrens/ Buya Yahya. (2025). Ancaman terhadap pondok pesantren. [Video Maulid Akbar 1447 H]. Diakses dari https://youtu.be/lgzXXTJBdkI?si=fZIqKMLK2R5g1jp1 Siswanto, B. (2025). HUT ke-80 RI 2025: Merdeka dengan menjadi juru damai. Diakses dari https://news.radioqukuningan.com/informasi/pelaksanaan-upacara-kemerdekaan-ri-ke-80-di-lpd-al-bahjah/

Hadirkan Wakil Rektor UNISSULA, P2M STAI Al-Bahjah Sukses Gelar Workshop Kurikulum & RPS Berbasis OBE
Artikel
SDIQu Al-Bahjah

Hadirkan Wakil Rektor UNISSULA, P2M STAI Al-Bahjah Sukses Gelar Workshop Kurikulum & RPS Berbasis OBE

CIREBON — Pusat Pengembangan Mutu (P2M) STAI Al-Bahjah kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas akademik dengan menggelar Workshop Kurikulum dan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) Berbasis Outcome Based Education (OBE), Senin (28 Rabiul Akhir 1447 H / 20 Oktober 2025) di Ruang Serbaguna STAI Al-Bahjah Cirebon. Kegiatan ini menghadirkan narasumber utama Dr. M. Abdul Basir, M.Pd., Wakil Rektor I Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang, yang membawakan materi seputar konsep, penerapan, dan strategi pengembangan kurikulum OBE di perguruan tinggi Islam. Acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Abdi Fajar Darmawan, mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah, dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars STAI Al-Bahjah. Bertindak sebagai pembawa acara, Ust. Sidik Nurasa, M.Pd., memandu jalannya kegiatan dengan penuh semangat dan profesionalisme. Turut hadir dalam kegiatan ini jajaran pimpinan STAI Al-Bahjah, yaitu Ketua STAI Al-Bahjah Ust. Muhammad Saechu, Lc., M.E., Wakil Ketua I Gus Zamzami, B.Sc., M.A., Wakil Ketua II Ust. Carnawi, M.Pd., dan Wakil Ketua III Ust. Imam Abdullah, B.Sc., M.A.. Selain itu, tampak pula Ketua P2M Ustadzah Kartika Novitasari, M.E., Ketua P3M Ust. Ramsito, M.E., serta para Kaprodi, dosen, dan tenaga kependidikan STAI Al-Bahjah, termasuk Kaprodi Tadris Matematika Ustadzah Susilawati, M.Pd. Dalam sambutannya, Ust. Muhammad Saechu, Lc., M.E., menekankan pentingnya kegiatan ini sebagai upaya berkelanjutan untuk memastikan setiap proses akademik di STAI Al-Bahjah selaras dengan standar mutu pendidikan tinggi nasional dan berorientasi pada capaian pembelajaran lulusan. Sesi workshop berlangsung interaktif dengan diskusi-diskusi mendalam antara narasumber dan peserta. Para dosen terlibat aktif dalam penyusunan draft RPS berbasis OBE, menghasilkan output konkret yang siap diimplementasikan pada semester mendatang. Ketua P2M, Ustadzah Kartika Novitasari, M.E., menyampaikan apresiasi atas antusiasme para peserta. “Workshop ini bukan sekadar forum teori, tetapi benar-benar menghasilkan luaran nyata berupa dokumen RPS yang siap pakai. Harapannya, ini menjadi langkah awal menuju sistem pembelajaran yang lebih terukur, efektif, dan berorientasi pada kompetensi lulusan,” ujarnya. Kegiatan yang berlangsung hingga pukul 15.00 WIB ini ditutup dengan penyerahan cenderamata dan sesi foto bersama, menandai berakhirnya workshop penuh manfaat dan inspirasi tersebut. /IAR

Rapat Kerja 2025: Al-Bahjah Menguatkan Manajemen Pesantren dan Pendidikan Islami
Artikel
SDIQu Al-Bahjah

Rapat Kerja 2025: Al-Bahjah Menguatkan Manajemen Pesantren dan Pendidikan Islami

CIREBON – Yayasan Al-Bahjah Cabang Cirebon 1 sukses menyelenggarakan Rapat Kerja (Raker) selama dua hari di Hotel Apita Cirebon, Rabu–Kamis (2–3 Rabiul Akhir 1447 H) bertepatan dengan 24–25 September 2025. Agenda ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat tata kelola pesantren, sekolah, serta pelayanan masyarakat di bawah naungan Al-Bahjah. Foto bersama jajaran pengurus Yayasan Al-Bahjah Cabang Cirebon 1 dan tim konsorsium di Rapat Kerja, Kamis (25/9/2025). Ketua Al-Bahjah Cabang Cirebon 1, Ust. Gunawan, M.Pd., menegaskan pentingnya rapat kerja ini sebagai momentum evaluasi dan perencanaan strategis. Ia menambahkan, harapan besar raker ini adalah agar Cabang Cirebon 1 dapat semakin baik. “Seluruh pengurus yang telah diberikan amanah diharapkan mampu mengembannya dengan maksimal, sesuai arahan guru kita, Buya Yahya,” kata Ust. Gunawan. Raker diikuti oleh jajaran pengurus dan struktural cabang, serta mendapat pendampingan dari tim konsorsium Lembaga Pengembangan Dakwah Al-Bahjah. Forum ini tidak hanya membahas evaluasi program sebelumnya, tetapi juga menyusun target baru untuk satu tahun ke depan. Fokus utama raker adalah peningkatan kualitas manajerial, pengelolaan pondok pesantren, mutu pendidikan Islami, hingga penguatan ekonomi cabang. Ketua Konsorsium Lembaga Pengembangan Dakwah Al-Bahjah menyampaikan, “Rapat kerja ini merupakan konsolidasi penting agar tata kelola cabang Cirebon 1 semakin kuat. Hasil keputusan insyaallah akan menjadi pijakan untuk perbaikan dan pengembangan ke depan, sehingga cabang ini dapat menjadi teladan bagi cabang lainnya.” Suasana Rapat Kerja Peserta Rapat Kerja Cabang Cirebon 1 antusias mengikuti sesi diskusi manajemen pendidikan dan pondok pesantren. Peserta raker menilai kegiatan berlangsung produktif dan penuh manfaat. Mereka mendapatkan banyak pembelajaran dari praktik baik cabang Bogor dan Cianjur yang lebih dahulu berkembang dalam manajemen pondok.  “Dua hari ini benar-benar memberikan wawasan strategis, mulai dari pengelolaan pendidikan hingga pelayanan publik. Semoga bisa kami terapkan di cabang Cirebon 1,” ujar Ust. Miftahul Arifin, Pengasuh Al-Bahjah Cabang Cirebon 1. Ketua Umum Yayasan Al-Bahjah, Ust. Bambang Siswanto, S.T., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya rapat kerja Cabang Cirebon 1. “Alhamdulillah, hari ini rapat kerja Yayasan Cabang Cirebon 1 telah selesai dilaksanakan. Harapan kami, hasil raker ini dapat menjadi pijakan perbaikan bagi cabang sehingga lebih mandiri,” ujarnya. Ia menambahkan, posisi Cirebon 1 yang berada di pusat Al-Bahjah menjadikan cabang ini memiliki tanggung jawab lebih besar. “Mudah-mudahan Cirebon 1 bisa menjadi contoh bagi cabang-cabang yang lain,” kata Ust. Bambang. Menurutnya, moto ‘Kuatkan Sinergi, Kobarkan Inspirasi’ akan semakin bermakna bila benar-benar diwujudkan dalam kinerja nyata. “Insyaallah semangat ini bisa terimplementasi dan menjadi kenyataan,” pungkasnya. Dukungan doa dan arahan Buya Yahya menjadi landasan penting agar seluruh pengurus tetap istiqamah dalam perjuangan dakwah. Day 1 – Rapat Kerja Yayasan Al-Bahjah Cabang Cirebon 1 Pembukaan dan sesi utama rapat kerja Yayasan Al-Bahjah Cabang Cirebon 1 di Hotel Apita Cirebon, 24 September 2025. Day 2 – Rapat Kerja Yayasan Al-Bahjah Cabang Cirebon 1 Penutupan rapat kerja Yayasan Al-Bahjah Cabang Cirebon 1, konsolidasi program, dan pesan akhir. 25 September 2025. .video-section { padding: 2rem 1rem; } .video-container { display: grid; grid-template-columns: 1fr; gap: 2rem; } .video-item { text-align: center; } .video-wrapper { position: relative; cursor: pointer; max-width: 100%; margin: 0 auto 1rem; } .video-thumbnail { width: 100%; height: auto; border-radius: 12px; box-shadow: 0 4px 10px rgba(0,0,0,0.2); } .play-button { position: absolute; top: 50%; left: 50%; transform: translate(-50%, -50%); width: 64px; height: 64px; background: rgba(0,0,0,0.6); border-radius: 50%; } .play-button::after { content: ''; position: absolute; left: 24px; top: 18px; border-style: solid; border-width: 14px 0 14px 24px; border-color: transparent transparent transparent #fff; } @media(min-width: 768px){ .video-container { grid-template-columns: 1fr 1fr; } } function loadVideo(wrapper, videoId) { const iframe = document.createElement('iframe'); iframe.setAttribute('src', `https://www.youtube.com/embed/${videoId}?autoplay=1`); iframe.setAttribute('frameborder', '0'); iframe.setAttribute('allowfullscreen', ''); iframe.style.width = '100%'; iframe.style.height = '315px'; wrapper.innerHTML = ''; wrapper.appendChild(iframe); } document.querySelectorAll('.video-wrapper').forEach((wrapper, index) => { const videoIds = ["KhyUYk36F9c", "VAjslxd-vEU"]; wrapper.addEventListener('click', () => loadVideo(wrapper, videoIds[index])); wrapper.addEventListener('keypress', (e) => { if (e.key === 'Enter' || e.key === ' ') loadVideo(wrapper, videoIds[index]); }); }); Editor: Tim Media dan Dakwah Al-Bahjah CirebonDOC. / Property: Al-Bahjah TV

Finding Peace and Tranquility in the Face of Adversity: Lessons from Buya Yahya
Artikel
SDIQu Al-Bahjah

Finding Peace and Tranquility in the Face of Adversity: Lessons from Buya Yahya

In Buya Yahya’s teaching, true peace comes from becoming a mukhbitiN—humble, patient souls who endure mistreatment by surrendering their grievances to Allah and trusting that He will administer the ultimate justice. They respond to injustice not with retaliation but with calm, forgiveness, and steadfast faith, finding strength in letting go and seeking to understand others. By cultivating patience, generosity, and a deep connection with Allah, they transform adversity into spiritual growth and earn rewards in the Hereafter, rather than allowing resentment to rob them of inner peace. In a world filled with chaos and conflict, the ability to maintain inner peace and tranquility can seem like an elusive goal. However, the renowned Islamic scholar Buya Yahya offers a profound and inspiring perspective on how we can cultivate a sense of calm and contentment, even in the face of adversity and hardship. In a captivating video titled “Hidup tetap Tenang dan Damai walau Disakiti” (Remaining Calm and Peaceful Even When Hurt), Buya Yahya delves into the concept of the “mukhbitin” – individuals who possess a deep level of humility, patience, and surrender to the will of Allah. These are the people who, when faced with injustice, oppression, or mistreatment, respond not with anger or retaliation, but with a profound sense of inner peace and forgiveness. Table of Contents The Essence of the “Mukhbitin” The Transformative Power of Patience and Forgiveness The Consequences of Harboring Resentment Practical Steps Towards Becoming a “Mukhbitin” Cultivating a Life of Tranquility and Contentment Frequently Asked Questions (FAQ) The Essence of the “Mukhbitin” According to Buya Yahya, the “mukhbitin” are those who, when wronged or mistreated, do not seek to defend themselves or retaliate. Instead, they humbly surrender their grievances to Allah, trusting that He will provide the ultimate justice and reward. These individuals are not only praised in the Quran but are also considered to be among the most noble and righteous of people. Buya Yahya explains that the “mukhbitin” are characterized by their unwavering faith in Allah and their ability to maintain a sense of tranquility and composure, even in the face of adversity. They understand that true strength lies not in retaliation or aggression, but in the ability to forgive, to let go, and to find solace in the knowledge that Allah is the ultimate judge and protector. The Transformative Power of Patience and Forgiveness One of the most striking examples Buya Yahya provides is the story of Imam Hasan Basri, who, upon hearing that someone had been cursing and insulting him, responded by sending the person a tray of the finest dates. When asked about this seemingly unusual reaction, Imam Hasan Basri explained that the person who had insulted him had, in fact, done him a favor by providing him with an opportunity to earn rewards in the Hereafter through his patient and forgiving response. This story illustrates the profound wisdom and spiritual depth of the “mukhbitin.” Rather than seeing insults or mistreatment as a reason for retaliation or resentment, they view them as opportunities to earn the pleasure of Allah and to elevate their own spiritual standing. By responding with kindness, patience, and forgiveness, they not only disarm their adversaries but also inspire awe and admiration in those around them. The Consequences of Harboring Resentment In contrast, Buya Yahya warns of the dangers of harboring resentment, anger, and a desire for revenge. He explains that such negative emotions can consume a person, robbing them of their inner peace and contentment. Those who are consumed by bitterness and a thirst for retribution, he says, are like the “bankrupt” mentioned in a hadith of the Prophet Muhammad (peace be upon him). In this hadith, the Prophet asks his companions, “Do you know who the bankrupt is?” The companions respond by describing someone who has lost all their wealth and possessions. However, the Prophet corrects them, explaining that the true “bankrupt” is the person who, on the Day of Judgment, finds that their good deeds have been exhausted, having been used to pay for the rights and wrongs they committed against others during their lifetime. Buya Yahya emphasizes that this is a sobering reminder of the importance of cultivating a spirit of forgiveness and letting go of resentment. Those who are consumed by a desire for revenge and retribution, he says, risk losing the very rewards and blessings they have earned through their religious observances and good deeds.Read : Mendidik dengan Cinta, Keluarga Al-Bahjah: Bukan Sekedar Pondok dan Sekolah Practical Steps Towards Becoming a “Mukhbitin” Develop a Strong Relationship with Allah: Buya Yahya stresses that the foundation of the “mukhbitin” is their deep connection with Allah. By constantly remembering Allah, seeking His guidance, and surrendering to His will, these individuals are able to maintain a sense of inner peace and tranquility, even in the face of adversity. Practice Patience and Forgiveness: The “mukhbitin” are characterized by their ability to exercise patience and forgiveness, even towards those who have wronged them. Buya Yahya encourages his followers to cultivate these virtues, recognizing that they are the keys to unlocking a life of contentment and spiritual growth. Seek to Understand and Empathize: Rather than reacting with anger or resentment, the “mukhbitin” strive to understand the perspective of those who have wronged them. They recognize that often, the actions of others are rooted in their own pain, insecurities, or misunderstandings, and they respond with compassion and a desire to heal, rather than to harm. Focus on Giving and Sharing: Buya Yahya emphasizes that the “mukhbitin” are characterized by their generosity and willingness to share their blessings with others. Whether it’s material wealth, knowledge, or simply a kind word, these individuals find joy and fulfillment in giving to those around them, even to those who have wronged them. Maintain a Positive Outlook: The “mukhbitin” are able to maintain a positive and optimistic outlook, even in the face of adversity. They understand that every challenge and hardship they face is an opportunity for spiritual growth and the earning of rewards in the Hereafter, and they approach life with a sense of gratitude and trust in Allah’s plan. Cultivating a Life of Tranquility and Contentment Throughout his teachings, Buya Yahya emphasizes that the path to true peace and contentment is not found in the pursuit of material wealth, status, or power, but in the cultivation of a humble, forgiving, and surrendered heart. He encourages his followers to strive to become “mukhbitin” – individuals who are able to maintain a sense of inner calm and composure, even in the face of the most trying circumstances. By following the example of the “mukhbitin” and embracing the principles of patience, forgiveness, and a deep connection with Allah, we can transform our lives and the lives of those around us. We can find solace in the knowledge that our trials and tribulations are not meaningless, but rather opportunities for spiritual growth and the earning of eternal rewards. As Buya Yahya so eloquently states, “The true ‘bankrupt’ is not the one who has lost all their worldly possessions, but the one who, on the Day of Judgment, finds that their good deeds have been exhausted, having been used to pay for the rights and wrongs they committed against others during their lifetime.” It is a sobering reminder of the importance of cultivating a spirit of forgiveness and letting go of resentment, for the sake of our own spiritual well-being and the well-being of those around us. In conclusion, the teachings of Buya Yahya on the “mukhbitin” offer a profound and inspiring path towards a life of tranquility, contentment, and spiritual fulfillment. By embracing the principles of patience, forgiveness, and a deep connection with Allah, we can transform our lives and the lives of those around us, finding peace and joy even in the midst of the most challenging circumstances. To learn more about Buya Yahya’s teachings and to access his books and official merchandise, please visit the Shopee and WhatsApp Admin pages. Remember, the path to true peace and contentment lies not in the pursuit of worldly gains, but in the cultivation of a humble, forgiving, and surrendered heart. May we all strive to become “mukhbitin” and find the tranquility and joy that comes from living a life in service to Allah and in service to our fellow human beings. Frequently Asked Questions (FAQ) Who are the mukhbitiN, and what defines them according to Buya Yahya? The mukhbitiN are people who, when wronged, do not defend themselves or retaliate; instead they humbly surrender their grievances to Allah, maintain unwavering faith, stay tranquil in adversity, and respond with forgiveness and compassion. How can I cultivate mukhbitiN qualities in daily life? Develop a strong relationship with Allah, practice patience and forgiveness, seek to understand others’ perspectives, focus on giving and sharing, and maintain a positive outlook that sees challenges as opportunities for spiritual growth. What is the Hasan Basri story and what does it illustrate about this approach? Imam Hasan Basri, when insulted, sent the accuser a tray of dates and explained that their insult was a chance to earn rewards through patient, forgiving conduct; the story shows that turning harm into a chance for divine reward embodies the mukhbitiN mindset. What happens if someone harbors resentment and seeks revenge? Harboring resentment erodes inner peace and can render a person spiritually bankrupt on the Day of Judgment, since their good deeds may be exhausted paying for the rights and wrongs they committed against others. What are practical steps to become more peaceful and content? Foster a strong relationship with Allah, practice patience and forgiveness, seek to understand others, give and share what you have, and maintain a hopeful, trusting outlook that finds meaning in trials as opportunities for growth.

Mendidik dengan Cinta, Keluarga Al-Bahjah: Bukan Sekedar Pondok dan Sekolah
Artikel
SDIQu Al-Bahjah

Mendidik dengan Cinta, Keluarga Al-Bahjah: Bukan Sekedar Pondok dan Sekolah

Ayah Bunda, ingin mendidik anak dengan cinta, karakter, dan nilai Qur’ani? Temukan cara mudah dan penuh makna di tempat pendidikan terbaik! Di tengah kesibukan kita sehari-hari, tidak jarang kita dihadapkan pada momen-momen yang penuh dengan takziah (berkabung), iyyadah (menjenguk), dan tahniah (ucapan selamat). Momen-momen ini adalah waktu yang mengingatkan kita akan pentingnya kebersamaan dalam keluarga dan nilai-nilai kemanusiaan yang lebih dari sekadar rutinitas harian. Begitu juga dengan kehidupan kita di Keluarga Al-Bahjah, yang selalu mengedepankan nilai-nilai tersebut dalam setiap kegiatan kita, baik di dunia pendidikan maupun dalam kehidupan sehari-hari. Di sini, pendidikan bukan hanya soal buku dan pelajaran, tetapi juga tentang membangun akhlak, karakter, dan persaudaraan yang akan menemani santri kita dalam perjalanan hidup. Keluarga Al-Bahjah: Lebih dari Sekadar Sekolah Pondok Bagi banyak orang, sekolah pondok atau pesantren identik dengan pendidikan agama dan akhlak. Tapi tahukah Ayah Bunda, bahwa di Pondok Pesantren Al-Bahjah, kami juga mengajarkan bahwa keluarga adalah bagian dari pendidikanyang utama? Di Al-Bahjah, kami selalu menekankan pentingnya kekeluargaan dalam setiap aspek.  Takziah bukan hanya saat kita berbagi kesedihan, tapi juga saat kita menunjukkan solidaritas dan kepedulian. Begitu pula iyyadah, di mana kita saling menguatkan dengan kunjungan, baik fisik maupun spiritual, untuk menjaga hubungan tetap kuat di tengah berbagai perbedaan. Pendidikan di Al-Bahjah bukan hanya di ruang kelas, tetapi juga di setiap interaksi dalam kehidupan sehari-hari yang melibatkan sesama—baik dengan teman, guru, maupun keluarga besar kami. Mengapa Keluarga Al-Bahjah? Ini Cerita Kami… Bayangkan, Ayah Bunda, saat anak-anak kita mengikuti program tahfidz atau pelajaran agama, mereka juga dipupuk dengan nilai kekeluargaan. Mereka belajar tentang memahami perasaan orang lain, bersyukur, dan menghargai setiap momen, baik itu takziah maupun tahniah. Ini semua adalah pelajaran hidup yang lebih penting dari sekadar angka di ujian. Kami tidak hanya mengajarkan anak-anak untuk berprestasi akademik, tetapi juga untuk memahami arti hidup yang lebih luas. Dalam setiap doa dan acara keluarga yang diadakan, mereka diajarkan untuk menjadi pribadi yang penuh empati, berbagi kebahagiaan, dan selalu siap untuk mendoakan sesama. Al-Bahjah adalah tempat di mana anak-anak tidak hanya belajar, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang peduli dengan sesama, seperti keluarga besar yang selalu mendukung satu sama lain dalam segala situasi. Tak Hanya Akademik, Kami Juga Menanamkan Karakter Pendidikan di Al-Bahjah tidak berhenti di ruang kelas. Takziah mengajarkan kita tentang kekuatan doa, dan di Al-Bahjah, setiap anak diajarkan untuk selalu berdoa untuk kebaikan orang lain. Ini bukan sekadar teori—tapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. Begitu pula dengan iyyadah: Ayah Bunda, anak-anak kita belajar mengunjungi dan mendoakan sesama. Dalam konteks pendidikan, ini mengajarkan mereka untuk peduli terhadap orang lain dan mengutamakan kepedulian. Saat tahniah datang—baik itu untuk keberhasilan belajar atau kebahagiaan lainnya—kami mengajarkan anak-anak untuk bersyukur dan menghargai setiap keberhasilan, kecil atau besar. Semua ini adalah bagian dari proses pendidikan karakter yang kami tekankan di Al-Bahjah. Kenapa Al-Bahjah? Karena Kami Adalah Keluarga Besar yang Saling Mendukung Al-Bahjah bukan hanya sekadar sekolah pondok. Di sini, kami adalah keluarga besar yang selalu bersama-sama dalam suka dan duka. Kami mengajarkan anak-anak untuk melihat pendidikan bukan hanya sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai proses membentuk diri dan menjadi bagian dari komunitas yang peduli. Bergabung dengan keluarga Al-Bahjah berarti menjadi bagian dari komunitas yang saling mendukung—baik dalam pendidikan agama, karakter, maupun nilai sosial. Kami ingin memastikan bahwa anak-anak yang mendalami ilmu agama juga mendapat bekal karakter mulia yang akan mereka bawa sepanjang hidup. Menjadi Keluarga Al-Bahjah Mendidik anak bukan hanya tentang mengisi kepala mereka dengan ilmu, tetapi juga tentang membangun hati mereka. Di Al-Bahjah, kami berkomitmen untuk mengajarkan anak-anak tidak hanya berprestasi akademik, tetapi juga menjadi pribadi yang baik, yang siap berbagi kebahagiaan melalui takziah, iyyadah, dan tahniah. Ayah Bunda, apakah Anda ingin melihat anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang penuh cinta dan nilai Qur’ani?  Bergabunglah dengan kami, dan mari bersama-sama membangun generasi yang peduli, penuh akhlak, dan siap menjadi pemimpin masa depan. PELAJARI BAGAIMANA AL-BAHJAH MENJADI RUMAH BELAJAR TERBAIK Resah & Harap Gabung Segera Pembukaan Penerimaan Santri BaruProgram Tahfidz & Tafaqqquh Al-BahjahGelombang 2Tahun Ajaran 1447–1448 H/2026–2027 MLembaga Pengembangan Dakwah (LPD) Al-Bahjah kembali membuka Penerimaan Santri Baru (PSB) Gelombang 2 untuk Program Tahfidz dan Tafaqqquh Tahun Ajaran 1447-1448 H/2026-2027 M. Program ini merupakan bagian dari komitmen lembaga dalam menyiapkan generasi berakhlak karimah, kuat dalam ilmu agama, serta memiliki pondasi karakter yang kokoh melalui pendidikan berbasis pesantren. Gelombang kedua ini resmi dibuka mulai… Baca Selengkapnya: Pembukaan Penerimaan Santri BaruProgram Tahfidz & Tafaqqquh Al-BahjahGelombang 2Tahun Ajaran 1447–1448 H/2026–2027 M 4 Tips Memilih Pendidikan Anak: Tahfidz atau Sekolah?Memilih pendidikan anak yang tepat sering bingung: fokus tahfidz / khusus syariah / sekolah formal? Jalur agama / akademik? Berikut tipsnya, Ayah Bunda. Selangkah Lebih Dekat dengan Pondok, Tafaqquh Kembali Gelar Seleksi Mabit Santri BaruCirebon-Pondok Pesantren Al-Bahjah telah sukses melaksanakan proses seleksi Penerimaan Santri Baru (PSB) Tafaqqquh tahun ajaran 1447–1448 H/2026–2027 M. Program Tafaqquh Al-Bahjah merupakan program pendidikan dengan sistem muqim (menetap) untuk santri putra dan putri, yang fokus pada pendalaman ilmu agama, seperti bahasa Arab, Fiqih, Aqidah, dan Akhlak. Peserta yang mengikuti seleksi mabit kali ini berjumlah 21 orang. 16… Baca Selengkapnya: Selangkah Lebih Dekat dengan Pondok, Tafaqquh Kembali Gelar Seleksi Mabit Santri Baru Tim Pontren dan STAIBA Laksanakan Supervisi Pondok Al-Bahjah Cabang Jawa TimurCIREBON-Dalam rangka meningkatkan kualitas pembinaan dan koordinasi antarpondok cabang, Divisi Pondok Pesantren (Pontren) Al-Bahjah bersama tim akademik STAIBA melaksanakan kegiatan supervisi dan silaturahim ke Pondok Al-Bahjah cabang di wilayah Jawa Timur.Kegiatan ini berlangsung selama empat hari, dimulai dari Rabu—Sabtu, 21–24 Jumadal Ula 1447 H/12–15 November 2025. Kegiatan supervisi tersebut mencakup kunjungan ke beberapa cabang. Di… Baca Selengkapnya: Tim Pontren dan STAIBA Laksanakan Supervisi Pondok Al-Bahjah Cabang Jawa Timur PSB Tahfidz Qur’an 2026-2027: Seleksi Calon Santri Baru Berlangsung KhidmatCIREBON — Suasana khidmat dan ukhuwah Islamiyah mewarnai seleksi Penerimaan Santri Baru (PSB) Tahfidz Qur’an Al-Bahjah tahun ajaran 1447–1448 H.

Menampilkan 5 dari 77 publikasi

Sekolah Ponpes Al-Bahjah: Pusat Informasi dan Pendaftaran

Analisis komprehensif sistem pendidikan info_archive dalam ekosistem LPD Al-Bahjah Cirebon untuk mempersiapkan generasi visioner yang beradab dan kompetitif.

Transformasi Karakter melalui Jalur info_archive

Pesantren Al-Bahjah adalah oase pendidikan bagi Keluarga Visioner. Menggabungkan kedalaman sanad keilmuan Hadramaut dengan keunggulan akademik nasional dalam lingkungan tanpa gadget.

Tiga Pilar Utama Ekosistem Al-Bahjah

  • Pendidikan Formal (SDIQu, SMPIQu, SMAIQu): Integrasi Kurikulum Nasional dengan Diniyah Salaf dan Tahfidz intensif.
  • Jalur Muadalah (Pondok Tahfidz & Tafaqquh): Fokus mutlak pada hafalan 30 Juz dan penguasaan Kitab Kuning dengan ijazah penyetaraan resmi.
  • STAI Al-Bahjah: Pendidikan tinggi untuk mencetak sarjana ahli syariah yang beradab dan profesional.

Geser tutup »

dari di albahjah.org.

Logo

Saluran Al-Bahjah

Verified WhatsApp Channel

Dapatkan update harian, agenda penting, dan informasi pendaftaran langsung di WhatsApp Anda tanpa menyimpan nomor.

Update Cepat & Akurat
Privasi Nomor Terjamin
Gabung Saluran