
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Sering kita jumpai tulisan di media massa yang penulisnya tidak memiliki latar belakang bahasa atau jurnalistik. Mengapa bisa demikian? Sebab pada hakikatnya menulis itu tidak memandang latar belakang penulisnya. Memang benar orang yang berkecimpung di dunia bahasa dan jurnalistik, memiliki potensi yang lebih besar untuk mahir menulis dan menjadi penulis. Namun, keterampilan menulis bukan karena itu saja. Faktor yang lebih menentukan adalah menjadi pendengar dan pembaca yang baik. Mustahil coretan-coretan pena bisa tersaji di dalam kertasnya tanpa adanya imajinasi yang lahir dari hasil menyimak yang ada di sekitarnya.
Oleh karena itu, untuk menjadi penulis, mula-mula cintailah membaca informasi apa pun tanpa pilih-pilih tema. Gemari membaca pelbagai disiplin ilmu sampai menemukan gagasan dan pandangan kita terhadap suatu permasalahan sekaligus solusi pemecahan masalahnya. Selanjutnya, proses mengolah istilah “kausalitas” sebab akibat. Seorang penulis yang berarti juga seorang pembaca keadaan, dalam hal ini harus peka dalam membaca kondisi sekitar dan problematika sosial yang terjadi. Sederhananya banyak mempertanyakan berbagai hal tentang sesuatu, “mengapa bisa terjadi”? serta “akibat apa yang ditimbulkan dari kejadian/permasalah tersebut?” Sebab, cikal bakal terserapnya sebuah informasi bisa didapatkan dari pertanyaan mengapa dan bagaimana. Lalu dilanjutkan dengan mengolah pertanyaan 5W+1H untuk melengkapi proses selanjutnya.
Meskipun pernah belajar ilmu menulis di jurusan saat kuliah, hal tersebut masih tetap membutuhkan beberapa pijakan selanjutnya untuk mencapai puncak kesuksesan. Ibarat seekor kancil yang ingin menyeberang sebuah sungai, dia harus meloncati beberapa batu untuk mencapai tepi. Apabila tidak bisa menapaki satu demi satu batu yang ada di tengah-tengah sungai maka ia akan terjebak di tengah sungai dan sangat mungkin sang kancil akan dimangsa seekor buaya. Oleh karena itu, sang kancil harus menapaki satu per satu batu tersebut dan mencari pijakan lain untuk membawanya menuju tepi sungai yang memiliki pemandangan yang indah dan suburnya buah-buahan untuk dinikmati.
Perumpamaan ini bermaksud menggugah pola pikir seorang calon penulis, jangan sampai hanya mengandalkan jurusan dan mata kuliah yang telah didapatkan saja. Akan tetapi, asahlah kemampuan menulis dengan mulai menyimak dan membaca. Niscaya perbendaharaan keilmuan yang dimiliki semakin memudahkan kita menemukan kata demi kata, kalimat demi kalimat, dan frasa demi frasa, serta paragraf demi paragraf untuk tulisan kita.
Sebagai contoh, jika ingin bisa membuat sebuah artikel maka jangan sungkan untuk membaca artikel orang lain dari pelbagai sumber media massa atau media internet sebagai bahan rujukan. Terkadang ego merasa tulisan sendiri lebih baik dari yang lainnya membuat angkuh untuk tidak belajar dari tulisan orang lain. Tulisan yang dianggap kaya itu sebenarnya dinilai orang sangat miskin kreativitas karena menggunakan pola yang sama dan dengan kata-kata itu saja yang digunakan. Turunkanlah ego tersebut dengan merasa masih harus banyak belajar dari tulisan orang lain yang beragam dan memiliki kualitas. Jadilah pribadi yang merasa bodoh dan haus akan ilmu sehingga kita tidak akan sungkan untuk belajar kepada orang lain.
Yakinlah, orang-orang di luar jurusan bahasa dan jurnalistik itu pun tidak tiba-tiba jadi mahir menulis dan setiap tulisannya selalu masuk di kolom-kolom surat kabar ternama. Apalagi jurusan kuliah mereka tidak spesifik untuk mengarahkan menjadi seorang penulis. Akan tetapi, ada proses panjang yang dilalui dan itu semua dimulai dari menyimak dan membaca. Selanjutnya mulailah mengerucut menuju bacaan yang kita sukai, baik itu bacaan fiksi maupun nonfiksi. Intinya perbanyak bahan bacaan sebagai rekomendasi khazanah perbendaharaan tulisan kita. Setelah itu, barulah mengaitkan dengan kondisi sosial yang sedang terjadi baru-baru ini atau istilah lainnya adalah kejadian viral. Dari sana bisa dibuat tulisan apa pun.
Penulis: Ivan Arief Rachman, S.Pd.
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Artikel Membaca Adalah Modal: Teknik Dasar Menulis Artikel Jurnalistik untuk Pemula pertama kali tampil pada Pustaka.